Dari Lirik ke Like: Kapitalisme di Balik Budaya Galau

Budaya Galau
Ilustrasi Musisi (Sumber: Media Sosial dari freepik.com)

Di Indonesia, merasakan patah hati adalah pengalaman yang dialami oleh banyak orang. Setiap minggu, lagu-lagu yang bercerita tentang kesedihan muncul di daftar Spotify, seperti Bertahan Terluka oleh Fabio Asher, Pesan Terakhir dari Lyodra, atau Sial oleh Mahalini. Di TikTok, potongan dari lagu-lagu ini sering dijadikan latar belakang video bernuansa kenangan, dengan filter estetik yang menampilkan tangisan atau teks sedih.

Kini, istilah “galau” telah melampaui makna sebagai perasaan sementara. Ia telah menjadi elemen dalam budaya populer yang mudah dikenali, dibeli, dan dinikmati oleh banyak orang. Kita berada di era saat perasaan bisa memiliki nilai jual. Platform digital seperti YouTube, TikTok, dan Spotify membangun ekosistem di mana kesedihan diperdagangkan. Lagu-lagu sedih yang paling terkenal justru sering diputar oleh pendengarnya saat merasakan patah hati.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Antonio Gramsci (1971) menggambarkan fenomena ini sebagai jenis hegemoni kekuasaan yang beroperasi secara halus, bukan melalui paksaan, melainkan melalui pola dan selera. Dunia musik menciptakan cara untuk merasakan kesedihan yang dianggap “benar”: melalui melodi yang lambat, nada minor, dan lirik yang romantis tentang kehilangan. Kesedihan ditransformasikan menjadi sesuatu yang indah alih-alih menyakitkan.

Pada akhirnya, kita percaya bahwa kesedihan yang ideal adalah yang memiliki estetika untuk diposting di media sosial, enak didengar, dan memiliki daya tarik visual. Dalam kapitalisme afektif (Eva Illouz, 2007), setiap tetes air mata kini memiliki nilai ekonomi.

Menurut Stuart Hall (1997), media tidak hanya mencerminkan kenyataan, namun juga membentuk identitas melalui cara pandang. Lagu-lagu sedih menampilkan sosok muda yang tampak “rentan namun kuat,” “lemah tapi menarik. ” Video musik menyoroti kesepian yang menggugah: individu duduk di dalam kamar, melihat hujan sambil diterangi cahaya hangat dan lirik yang menyentuh hati.

Kesedihan telah menjelma menjadi elemen dalam gaya hidup digital. Kita diajarkan bahwa “patah hati itu menarik” jika dikemas dengan baik. Dari situ, lahirlah identitas generasi baru yang melihat kesedihan sebagai simbol kedewasaan dan kedalaman jiwa.

Akan tetapi, representasi ini menyederhanakan kerumitan emosi. Kesedihan yang ditampilkan di layar umumnya berkaitan dengan cinta dan hubungan, sementara isu-isu seperti ketidakadilan sosial, kehilangan pekerjaan, atau tekanan hidup jarang dibahas. Dengan kata lain, emosi yang sejatinya seharusnya mengajak untuk merenung menjadi sekadar hiburan.

Michel Foucault (1978) mengingatkan bahwa kekuasaan beroperasi melalui wacana dan kebiasaan yang tampak wajar. Dalam konteks budaya galau, kekuasaan ini terletak pada algoritma. Setelah mendengar satu lagu sedih, Spotify atau TikTok akan merekomendasikan lagu-lagu serupa secara otomatis. Pengguna terjebak dalam siklus kesedihan yang diatur oleh sistem karena dinilai lebih “engaging. ”

Platform-platform ini tidak peduli apakah kita sudah move on; yang terpenting adalah kita tetap mendengarkan. Kesedihan kini bukan lagi hal yang bersifat pribadi, melainkan strategi bisnis untuk menjaga perhatian pengguna.

Kita merasa sedang mengekspresikan diri, namun sebenarnya sedang mengikuti pola yang dirancang untuk terus melihat layar.

Namun, budaya tidak sepenuhnya berada dalam pengaruh kekuasaan. Terdapat ruang untuk perlawanan di dalamnya (Hebdige, 1979). Musisi seperti Hindia, misalnya, berusaha untuk merobohkan pola ini. Dalam lagu Evaluasi, ia mengangkat tema kesedihan yang lebih luas mengenai ekspektasi orang tua, kegagalan hidup, dan tekanan sosial. Kesedihan di sini tidak lagi dianggap sebagai romansa cinta, melainkan sebagai refleksi eksistensial.

Baca juga: How Rare and Beautiful It Is to Even Exist: Sebuah Refleksi Eksistensial dari Lagu Saturn

Pendengar pun dapat menjadi agen perlawanan. Dengan pemahaman yang kritis, kita bisa menolak arti tunggal yang disuguhkan oleh industri, dan menjadikan perasaan galau sebagai ruang untuk merenung, bukan sekadar estetika.

Budaya galau menunjukkan bagaimana kapitalisme mempengaruhi bahkan aspek paling intim dalam kehidupan manusia: perasaan. Namun, menyadari hal ini tidak berarti kita harus berhenti menikmati lagu-lagu sedih. Yang lebih penting adalah cara kita mendengarkan.

Setiap kali kita menekan tombol “ulang” pada Spotify, kita berpartisipasi dalam ekonomi emosi secara global. Namun, rasa sedihmu tetap menjadi milikmu, bukan sesuatu yang dimiliki oleh industri.

Kita harus belajar untuk merasakan kesedihan dengan cara yang kritis: menolak romantisasi dari patah hati, dan melihat kesedihan sebagai kesempatan untuk bertumbuh, bukan sebuah barang. Di dunia yang menjadikan emosi sebagai komoditas, kesadaran menjadi bentuk perlawanan yang paling tenang.

Budaya galau mencerminkan dua hal secara bersamaan: kemanusiaan kita dan kerentanan terhadap sistem yang mengubah air mata menjadi uang. Dan mungkin, di antara semua lagu sedih yang terus diputar, pertanyaan yang penting untuk kita tanyakan adalah bukan “lagu ini tentang siapa? ” melainkan “siapa yang diuntungkan dari air mata ini?

 

Penulis: Sevia Kikan Azzahra 
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Dosen Pengampu: Dr. Merry Fridha., M.Si

 

Referensi:

Gramsci, A. (1971). Selections from the Prison Notebooks.

Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices.

Foucault, M. (1978). The History of Sexuality, Vol. 1: The Will to Knowledge.

Hebdige, D. (1979). Subculture: The Meaning of Style.

Illouz, E. (2007). Cold Intimacies: The Making of Emotional Capitalism.

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses