Dari Literasi ke Diplomasi: Cerita di Balik Pengalaman Menjadi Finalis Duta Baca

Finalis Duta Baca
Finalis Duta Baca (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Mengikuti ajang Pemilihan Duta Baca Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu pengalaman paling berharga selama perjalanan saya di dunia akademik. Bagi saya, literasi bukan hanya aktivitas membaca buku, tetapi proses memahami realitas dan mengasah kemampuan berpikir kritis sesuatu yang sangat dekat dengan bidang Hubungan Internasional (HI).

Proses seleksi Duta Baca terdiri dari beberapa tahapan, mulai dari seleksi administrasi, tes tertulis, penulisan esai, hingga wawancara dan presentasi. Dari setiap tahap tersebut, saya belajar bahwa kemampuan literasi tidak dapat dilepaskan dari cara kita berkomunikasi, menganalisis isu, serta mengartikulasikan gagasan di hadapan publik keterampilan yang juga penting dalam studi dan praktik HI.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Pada tahap esai, saya menulis tentang penggunaan teknologi Virtual Reality (VR) dalam meningkatkan kepekaan terhadap literasi. Ide ini muncul dari keinginan untuk menjembatani dunia digital dengan budaya baca yang mulai bergeser.

Saya percaya bahwa literasi dapat berkembang melalui inovasi, dan VR bisa menjadi media interaktif untuk memperkenalkan dunia literasi secara lebih imersif, terutama bagi generasi muda yang akrab dengan teknologi.

Selain melalui ajang Duta Baca, saya juga aktif memanfaatkan platform media sosial sebagai ruang literasi digital. Melalui konten yang bersifat persuasif, saya berupaya mengajak audiens untuk melihat literasi bukan sebagai hal yang kaku atau berat, tetapi sebagai gerakan sosial yang bisa dilakukan siapa saja.

Pendekatan ini saya anggap relevan dengan semangat people-to-people connectivity yang menjadi salah satu konsep penting dalam Hubungan Internasional membangun jejaring dan pemahaman lintas batas melalui komunikasi yang inklusif.

Baca juga: Tren “GRRR” di TikTok: Antara Hubungan Hiburan, Kreativitas, dan Tantangan Literasi Digital

Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa literasi memiliki dimensi strategis dalam konteks global. Literasi adalah bentuk soft power, yaitu kekuatan non-militer yang dapat memengaruhi persepsi, memperkuat citra, dan menjadi sarana diplomasi budaya. Dalam perspektif HI, ini berarti literasi tidak hanya memperkaya individu, tetapi juga berkontribusi terhadap posisi suatu negara di mata dunia.

Bagi teman-teman mahasiswa, ada beberapa hal yang bisa saya bagikan sebagai pembelajaran:

1. Jangan Takut untuk Mencoba

Kompetisi seperti Duta Baca membuka ruang bagi kita untuk keluar dari zona nyaman dan mengasah kemampuan public speaking serta berpikir kritis.

2. Integrasikan Teori dengan Praktik

Apa yang kita pelajari di kelas   seperti soft power, diplomasi publik, dan komunikasi global   bisa diterapkan dalam kegiatan literasi nyata.

3. Gunakan Teknologi secara Produktif

Dunia digital adalah wadah besar untuk menyebarkan ide. Gunakan media sosial atau platform digital bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk mengedukasi dan menginspirasi.

Menjadi finalis Duta Baca bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab baru. Saya percaya bahwa literasi adalah fondasi dari diplomasi yang efektif karena sebelum memahami orang lain, kita harus mampu memahami gagasan, budaya, dan realitas kita sendiri.

 

Penulis: Rahel Novi Yanti
Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Kristen Indonesia

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Daftar Isi dan Poin-Poin Artikel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses