Fenomena Malas Membaca Al-Qur’an: Penyebab, Akibat, dan Cara Mengatasinya

Malas Membaca Al Quran

Kamu mungkin sering mendengar istilah malas membaca Al-Qur’an di sekitar kita. Fenomena ini bukan hanya sekadar kebiasaan buruk, tetapi juga tanda lemahnya hubungan seorang muslim dengan kitab sucinya.

Padahal, Al-Qur’an adalah pedoman hidup yang diturunkan Allah ﷻ sebagai petunjuk bagi manusia. Sayangnya, banyak yang hanya menjadikannya sebagai hiasan di rak, bukan sebagai bacaan harian yang menenangkan hati.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Fenomena malas membaca Al-Qur’an muncul karena berbagai alasan, mulai dari kesibukan dunia, pengaruh teknologi, hingga lemahnya kesadaran spiritual. Akibatnya, Al-Qur’an tidak lagi menjadi sumber inspirasi dan solusi dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal, Rasulullah ﷺ sudah menegaskan dalam banyak hadits tentang membaca Al-Qur’an, bahwa setiap huruf yang dibaca bernilai pahala besar.

Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam tentang penyebab malas membaca Al-Qur’an, akibat yang ditimbulkan, serta cara mengatasinya. Dengan begitu, kamu bisa memahami pentingnya kembali mendekatkan diri kepada Al-Qur’an dan menjadikannya teman setia dalam setiap langkah kehidupan.

Baca juga: Cara Mengatasi OCD dalam Islam Menurut Al-Qur’an

Al-Qur’an sebagai Petunjuk Hidup dan Keutamaan Membacanya

Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci, melainkan pedoman utama yang Allah ﷻ turunkan untuk membimbing manusia menuju jalan yang lurus.

Allah ﷻ menegaskan dalam berbagai ayat Al-Qur’an, bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Karena itu, setiap muslim yang rajin membaca Al-Qur’an akan mendapatkan kekuatan batin, ketenangan hati, serta petunjuk dalam menghadapi persoalan hidup.

Mengapa Penting untuk Membaca Al-Qur’an?

Banyak orang meremehkan pentingnya membaca Al-Qur’an, padahal di dalamnya terdapat jawaban dari segala masalah kehidupan.

Membaca Al-Qur’an bukan hanya sekadar melafalkan huruf, melainkan juga bagian dari ibadah yang mendekatkan hamba dengan Allah ﷻ.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits tentang membaca Al-Qur’an, bahwa siapa saja yang membaca satu huruf saja dari Al-Qur’an, ia akan mendapatkan sepuluh kebaikan.

Lebih dari itu, Al-Qur’an berjanji akan menjadi syafaat bagi para pembacanya di hari kiamat. Inilah yang menjadikan setiap bacaan begitu berharga, meski hanya beberapa ayat.

Oleh karena itu, jangan sampai rasa malas membuat kita kehilangan kesempatan emas untuk mendapatkan pertolongan dari kitab suci ini.

Keistimewaan dan Hadits tentang Pembaca Al-Qur’an

Setiap muslim memiliki kesempatan yang sama untuk meraih keistimewaan membaca Al-Qur’an. Bahkan bagi mereka yang terbata-bata sekalipun, Allah ﷻ tetap memberikan pahala.

Dalam sebuah hadits pintar membaca Al-Qur’an, Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa orang yang lancar membacanya akan bersama malaikat, sementara yang kesulitan tetap mendapat pahala ganda.

Selain itu, ada juga hadits motivasi membaca Al-Qur’an yang menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an bernilai ibadah. Setiap huruf yang terucap menjadi amal yang dicatat malaikat.

Maka, akibat membaca Al-Qur’an terus-menerus adalah turunnya keberkahan dalam hidup, bertambahnya ketenangan hati, dan semakin dekatnya hubungan seorang muslim dengan Rabb-nya.

Tidak heran jika dalam pengajian Al-Qur’an, selalu ditekankan pentingnya istiqamah. Sebab, orang yang rajin membaca akan merasakan nikmat yang berbeda dibanding sekadar melihat foto Al-Qur’an atau hanya meletakkannya di rumah tanpa dibaca.

Baca juga: Inilah Hikmah Surah Abasa (Surah ke-80 dalam Al-Qur’an)

Mengapa Banyak Umat Islam Malas Membaca Al-Qur’an?

Fenomena malas membaca Al-Qur’an bukanlah hal baru. Di era modern ini, banyak muslim yang lebih memilih menghabiskan waktu dengan gawai, media sosial, atau hiburan lain ketimbang meluangkan waktu untuk membuka mushaf.

Padahal, baca Al-Qur’an meski hanya beberapa ayat jauh lebih menenangkan dibanding sekadar berselancar di dunia maya.

Faktor-Faktor Penyebab Malas Membaca Al-Qur’an

Ada beberapa faktor yang membuat seseorang menjadi malas membaca kitab suci:

a. Kesibukan duniawi

Tuntutan pekerjaan, sekolah, hingga rutinitas sehari-hari seringkali membuat seseorang lupa pada kewajiban rohaninya. Mereka merasa tidak punya waktu untuk sekadar membaca beberapa ayat.

b. Pengaruh teknologi

Kecanduan media sosial membuat sebagian orang kehilangan minat membuka mushaf. Saat seharusnya bisa meluangkan waktu 10–15 menit untuk membaca, mereka justru sibuk menonton video pendek atau bermain gim.

c. Lemahnya iman

Hati yang jauh dari Allah ﷻ akan sulit disentuh oleh ayat-Nya. Dalam ayat Al-Qur’an tentang malas, dijelaskan bahwa rasa malas adalah penyakit hati yang membuat seseorang enggan beribadah.

d. Kurang motivasi

Tidak sedikit yang merasa membaca Al-Qur’an itu berat. Padahal, jika dihayati, bacaan itu adalah sumber kekuatan. Istilah “lidah sakit” sering dijadikan analogi—bukan mushaf yang hambar, tetapi hati dan lidah yang sudah jarang digunakan untuk berdzikir.

Tanda-Tanda Seseorang Jarang Membaca Al-Qur’an

Kamu mungkin pernah melihat orang lagi baca Al-Qur’an di masjid atau rumah, tetapi hanya pada momen tertentu saja. Misalnya, saat Ramadan atau ketika ada musibah. Padahal, seorang muslim seharusnya menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat harian.

Beberapa tanda yang menunjukkan seseorang jarang membaca mushaf antara lain:

  • Hanya membaca ketika ada kewajiban, seperti tadarusan di sekolah atau saat pengajian.
  • Cepat bosan, merasa berat, atau mengantuk setelah membaca beberapa menit.
  • Lebih memilih menonton televisi atau bermain gawai ketimbang membuka mushaf.
  • Merasa cukup dengan melihat orang baca Qur’an atau hanya mendengar bacaan tanpa ikut membacanya.

Fenomena ini sangat erat kaitannya dengan ayat Al-Qur’an tentang remaja masa kini. Godaan zaman modern, seperti pergaulan bebas, hiburan instan, dan budaya konsumtif, membuat generasi muda semakin jauh dari Al-Qur’an.

Jika dibiarkan, hal ini bisa membuat generasi muslim kehilangan identitas spiritualnya.

Baca juga: Konsep Self-Love dalam Al-Quran

Solusi dan Tips Praktis Agar Rajin Membaca Al-Qur’an

Rasa malas bukanlah hal yang mustahil untuk diatasi. Dengan niat yang tulus dan langkah kecil yang konsisten, setiap muslim bisa kembali menjadikan bacaan Al-Qur’an sebagai bagian dari hidupnya.

Memulai Kembali dan Memperbaiki Kebiasaan

Langkah pertama untuk mengatasi malas adalah dengan memulai kembali. Jangan menunggu waktu luang, karena waktu luang itu tidak akan pernah datang jika kita tidak sengaja menciptakannya. Luangkan minimal 5–10 menit setiap hari untuk baca an Al-Qur’an, meski hanya satu halaman.

Kamu bisa menggunakan metode sederhana seperti:

  • 30 menit cara cepat belajar membaca Al-Qur’an untuk memperbaiki bacaan.
  • Menetapkan target kecil, misalnya membaca 3–5 ayat setelah shalat.
  • Bergabung dalam pengajian Al-Qur’an, agar ada motivasi bersama.

Dengan langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, lambat laun membaca mushaf akan menjadi kebiasaan.

Melengkapi Ibadah Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an tidak berhenti pada melafalkan ayat, tetapi juga memahami makna. Dalam ilmu tafsir, orang yang membaca terjemahan Al-Qur’an disebut mufassir atau mufassirin, yakni mereka yang mencoba memahami kandungan ayat lebih dalam.

Selain itu, ada amalan yang memperindah ibadah, seperti:

  • Membaca doa sebagai sunnah setelah membaca Al-Qur’an.
  • Memperhatikan penilaian baca Al-Qur’an saat belajar tajwid, agar bacaan lebih baik.
  • Menjaga adab, seperti berwudhu sebelum membaca dan duduk dengan tenang.

Dengan begitu, kamu bukan hanya menjadi pembaca Al-Qur’an, tapi juga seorang muslim yang berusaha menghayati maknanya.

Cara Agar Bisa Lancar Membaca Al-Qur’an

Banyak orang merasa minder karena tidak fasih. Padahal, dalam sebuah hadist tentang membaca Al-Qur’an, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa orang yang terbata-bata tetap mendapatkan pahala ganda. Jadi, jangan takut salah.

Tips agar lancar antara lain:

  • Membaca berulang-ulang ayat yang sama hingga terasa ringan di lidah.
  • Memanfaatkan media belajar modern seperti aplikasi digital.
  • Konsisten meluangkan waktu khusus, misalnya setelah Subuh atau sebelum tidur.

Jika dilakukan, perlahan bacaanmu akan lancar. Bahkan, perempuan membaca Al-Qur’an di rumahnya dengan konsisten bisa menjadi teladan bagi keluarga.

Pendapat Penulis tentang Fenomena Malas Membaca Al-Qur’an

Benarkah kita layak disebut sebagai seorang muslim? Jika iya, lantas apakah tingkah laku dalam hidup kita sudah mencerminkan sebagi pribadi muslim? Realita pada zaman sekarang, dimana banyak orang yang mengaku Islam namun jauh dari sumber petunjuk utama mereka menuju kebenaran yakni Al-Qur’an.

Banyak dari kita yang sering lalai tak menyempatkan waktu untuk menyentuh, membaca Al-Qur’an apalagi memahami maknanya. Berbeda ketika kita disuguhkan bacaan koran, novel, cerita, komik, game, dan sosmed, dimana kita sampai rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk urusan duniawi semacam itu.

Bahkan tak sedikit dari kita sampai lupa bahwa mereka juga memiliki urusan dengan Tuhannya. Jangankan membaca Al-Quran yang hukumnya sunnah, terkadang mereka lalai akan kewajibannya yaitu shalat.

Fenomena lain yang juga menarik untuk dikaji adalah masih banyaknya orang-orang yang ingat dan mau membaca Al-Qur’an namun sayang, dalam prakteknya seringkali mengalami kejenuhan. Ketika membaca Al-Qur’an yang hanya dalam hitungan menit sudah dilanda kebosanan dan berakhir menutup mushaf.

Banyak orang yang tidak menjadikan kegiatan membaca Al-Qur’an sebagai sebuah rutinitas yang penting. Mereka hanya membaca ketika muncul keinginan saja atau bahkan membaca hanya saat dalam keadaan butuh. Sebuah ironi tapi sudah menjadi wajar di kebanyakan masyarakat.           

Terbesit pertanyaan yang menggelitik. Mengapa banyak orang yang rela bangun tengah malam hanya untuk menonton bola dan serial televisi kesukaan dibanding membuka mushaf Al-Qur’an dan perlahan-lahan membacanya?

Mereka melakukan banyak persiapan demi pertandingan bola tim kebanggaan, namun tidak untuk membaca Al-Qur’an?

Mengapa mereka bisa sangat begitu bangga dengan sebuah tim sepakbola tapi tidak bisa bangga terhadap Al-Quran?

Hal tersebut merupakan suatu permasalahan bagi umat Islam yang harus dicari sumber masalah serta solusi yang pas. Untuk mengubah paradigma sebagian masyarakat terutama yang beragama islam tentang sebuah kebiasaan dan mindset pentingnya membaca Al-Quran memang bukanlah hal yang mudah. Apalagi mengubah hati mereka untuk tiba-tiba cinta terhadap Al-Quran, seperti hal mustahil jika dilakukan secara tiba-tiba. Namun, tidak ada yang tidak ada yang tidak mungkin jika dalam kebaikan.

Dengan munculnya rasa jenuh dalam membaca Al-Quran ini bukan bukan berarti kita bisa beranggapan bahwa sumber masalah ada pada Al-Qur’an itu sendiri. Al-Qur’an memiliki salat satu sifat yaitu al-Mahfudz yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an terjaga kesucian dan kebenarannya.

Merujuk pada pengertian Al-Quran sendiri sebagai firman Allah ﷻ yang tidak ada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. melalui perantara malaikat Jibril alaihissalam. Kemudian ditulis kepada umatnya dengan jalan mutawattir, dimana membaca dan mempelajarinya bernilai ibadah.

Allah ﷻ sendiri yang telah berjanji akan memelihara kitab suci terakhir-Nya dengan pemeliharaan yang khusus. Jadi dengan segala keistimewaan yang ada pada Al-Qur’an, maka dapat disimpulkan bahwa sumber dari kejenuhan membaca Al-Qur’an bukan terletak pada Al-Qur’an melainkan pada manusia itu sendiri.

Coba kita analogikan saja seperti layaknya kita memakan makanan terenak di dunia. Bagi orang yang dalam keadaan lidahnya sehat maka, makanan itu sungguh menakjubkan rasanya tiada banding. Namun bagi orang yang lidahnya masih sakit atau mungkin mati rasa, makanan itu rasanya biasa saja malah cenderung hambar.

Jadi, yang salah bukanlah pada makanannya namun seberapa sehat lidah kita dalam merasakannya. Begitu pula dalam membaca Al-Qur’an, dimana hati menjadi penentu cinta dan tidaknya kita pada Al-Qur’an.

Dapat disimpulkan, langkah pertama untuk menyembuhkan rasa jenuh tersebut adalah dengan memperbaiki diri kita terlebih dahulu. Mulai dari membersihkan hati dari segala penyakit sebagai akar masalah kejenuhan dan langkah awal pengobatan paling dasar hingga mindset dan kebiasaan.

Masalah ini terlihat ringan namun sangat sulit diatasi. Karena itu tergantung dari kebiasaan seseorang. Sekarang, bagaimana bisa seserorang memiliki kebiasaan membaca Al-Quran jika tidak diri sendiri yang memaksakannya?

Sebagai pihak luar, seperti keluarga, teman, bahkan lebih jauh lagi sekolah atau institute harus selalu mengingatkan dan memberikan edukasi terus menerus tanpa bosan dan lelah. Jangan sampai paradigma “malas atau bosan” dalam membaca Al-Qur’an dibiarkan berlarut-larut, karena efeknya yang begitu besar bagi umat Islam sendiri.

Kesimpulan: Al-Qur’an Bukanlah Sekadar Bacaan, Melainkan Obat Hati

Fenomena malas membaca Al-Qur’an memang nyata dan banyak terjadi di masyarakat. Namun, sejatinya masalah ini bukan karena Al-Qur’an itu sulit atau membosankan, melainkan karena hati manusia yang mulai jauh dari Allah ﷻ. Rasa malas adalah penyakit hati yang harus segera diobati dengan niat, tekad, dan kebiasaan yang baik.

Membaca Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas ibadah, melainkan juga obat hati yang mampu menenangkan jiwa. Rasulullah ﷺ dalam berbagai hadits motivasi membaca Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap huruf yang dibaca bernilai pahala. Bahkan, Al-Qur’an berjanji akan memberi syafaat bagi pembacanya kelak di akhirat.

Oleh karena itu, jangan biarkan kesibukan dunia menghalangi kita untuk membuka mushaf. Jadikan Al-Qur’an bagian dari rutinitas harian, sebagaimana kita tidak pernah lepas dari makan dan minum. Baik membaca langsung, mendengar bacaan Al-Qur’an, atau bahkan belajar perlahan dengan membaca terjemahan Al-Qur’an disebut sebagai salah satu cara memahami kandungan ayat, semuanya akan mendekatkan kita pada Allah ﷻ.

Ingatlah, membaca Al-Qur’an bernilai ibadah disebut amal yang tidak ada ruginya. Justru semakin sering kita membaca, semakin banyak keberkahan yang turun dalam hidup. Akibat membaca Al-Qur’an terus-menerus bukanlah kejenuhan, melainkan ketenangan, kebahagiaan, dan pertolongan Allah ﷻ di dunia serta akhirat.

Kini saatnya kamu mengambil langkah nyata. Mulailah dari satu ayat, lalu dua, hingga akhirnya menjadikan baca Qur’an sebagai kebutuhan. Jangan lupa untuk melengkapinya dengan doa, adab, dan pemahaman makna. Karena pada akhirnya, Al-Qur’an bukan hanya bacaan, melainkan cahaya yang menghidupkan hati, penolong di hari kiamat, dan pengingat bahwa ayat Al-Qur’an tidak ada yang mustahil bagi Allah ﷻ.

Penulis: Ulinuha Neviyana

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait