Gagalnya Strategi Menantea: Mengapa Personal Branding Saja Tidak Cukup?

brand menantea
Gagalnya Strategi Menantea: Mengapa Personal Branding Saja Tidak Cukup? Sumber: tvonenews.

Dunia usaha kuliner di Indonesia dikejutkan oleh keputusan yang diumumkan di situs resmi Menantea pada bulan April 2026. Setelah lima tahun beroperasi, merek teh susu yang dimiliki Jerome Polin ini secara resmi menghentikan seluruh aktivitas operasionalnya pada tanggal 25 April 2026.

Meskipun saat peluncurannya pada tahun 2021, Menantea menjadi lambang keberhasilan ekonomi kreator dengan mencetak rekor penjualan 1 juta cangkir pada bulan pertama.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun, di balik viralnya video “Aku Bikin Brand Teh Susu Sendiri!”, Menantea menyimpan masalah manajerial yang akhirnya berkembang menjadi kerugian miliaran rupiah dan menimbulkan kekecewaan di kalangan mitra.

Di dalam ekonomi manajerial, pasar teh susu di Indonesia merupakan arena persaingan monopolistik yang sangat ketat. Strategi pemasaran influencer yang diterapkan Jerome Polin berhasil menciptakan 70% kesadaran awal (Nikkei Asia, 2023), tetapi Menantea kekurangan di aspek dasar: Diferensiasi Produk.

Tidak seperti pesaingnya, seperti Janji Jiwa (dengan pangsa pasar 18%) yang terus berkarya, Menantea terjebak dalam variasi rasa yang dianggap ‘biasa’ dan kemasan yang generik.

Data dari SimilarWeb Analytics (2024) menunjukkan tingkat pesanan ulang Menantea hanya 25%, jauh tertinggal dibandingkan dengan pesaing yang berada di rentang 50-60%. Dalam sektor F&B, pengikut mungkin datang karena rasa ingin tahu, tetapi hanya kualitas produk yang dapat mendorong mereka untuk kembali.

Baca Juga: Belajar Strategi Bisnis Modern Culinary Branding dari Firecracker Thai Kitchen

Kegagalan Menantea tidak hanya terjadi di area penjualan, tetapi berakar dari ruang rapat manajemen. Melalui pengumuman resminya, manajemen mengakui adanya kekurangan signifikan dalam Tata Kelola Perusahaan.

Pertama-tama, kegagalan dalam melakukan penelitian latar belakang terhadap mitra bisnis menjadi titik awal masalah. Tanpa verifikasi yang ketat, Menantea menjalin kemitraan dengan pihak yang justru merugikan perusahaan.

Kedua, tidak adanya audit internal yang dilakukan secara teratur menciptakan celah untuk kemungkinan terjadinya kecurangan. Hal ini semakin diperburuk oleh temuan kesalahan pajak pada tahun-tahun awal operasional perusahaan.

Dalam konteks ekonomi manajerial, situasi ini dikenal sebagai asimetri informasi, di mana pemilik usaha tidak mengetahui kondisi keuangan yang sebenarnya sampai tim internal memberikan peringatan tentang indikasi penyelewengan dana yang mencapai Rp5-6 miliar.

Kekacauan yang terjadi di level atas berdampak langsung terhadap operasional di lapangan. Ketidakmampuan manajemen dalam mengelola arus kas menyebabkan hubungan yang buruk dengan para pemangku kepentingan.

Para pemasok mulai menagih tagihan lama yang belum dibayar, sementara mitra di daerah melaporkan berbagai masalah teknis yang tidak ditangani dengan baik oleh pusat.

Baca Juga: Branding Murah tapi Mewah, Cara Pilih Vendor Hardbox dan Dus Makanan di Bandung

Ketidakmampuan dalam menjaga rantai pasokan dan keharmonisan dengan mitra menjadi bencana bagi bisnis waralaba. Ketika ongkos operasional meningkat dan kepercayaan dari pemasok lenyap, perusahaan kehilangan kemampuan untuk bertahan.

Kasus Menantea menjadi pelajaran pahit bagi para pembuat konten yang ingin terjun di dunia bisnis. Membangun merek pribadi adalah langkah awal yang hebat, tetapi kualitas produk dan sistem audit yang ketat adalah fondasi penting yang menjaga stabilitas perusahaan.

Menantea berhenti beroperasi pada 25 April 2026 bukan disebabkan oleh kurangnya pengikut, melainkan karena manajemen yang gagal mempertahankan integritas operasional.

Di dunia bisnis, angka di media sosial bisa menjebak, namun angka dalam laporan audit adalah kenyataan yang tidak dapat diabaikan. Pada akhirnya, keinginan konsumen dan kepercayaan mitra tidak dapat dipuaskan hanya dengan konten yang viral.

Secara keseluruhan, analisis SWOT terhadap Menantea mengungkapkan ketidakseimbangan yang serius. Walaupun memiliki kekuatan dalam merek pribadi Jerome Polin yang tulus dan jangkauan besar di media sosial dengan 10,7 juta pelanggan YouTube, hal tersebut tertutupi oleh kelemahan internal seperti kontrol kualitas yang buruk dan sistem keuangan yang tidak stabil.

Di tengah peluang yang ada di pasar Gen Z yang seringkali boros, Menantea malah terancam oleh persaingan yang memiliki dasar penelitian dan pengembangan yang lebih solid.

Situasi ini mencerminkan fenomena ‘jebakan ketenaran’, di mana menurut laporan Forbes Creator Economy (2024), 70% merek yang dipimpin oleh kreator tidak dapat bertahan melebihi dua tahun jika hanya bergantung pada popularitas yang bersifat sementara.


Penulis:
1. Edis Disma Febriyanti
2. Tria Intan Yulanda
3. Diva Aurelia Saputra
Mahasiswa Manajemen Program Sarjana Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Fahmi Susanti, SKM., M.M.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses