Gagap Digital di Ruang Guru: Tantangan Tersembunyi di Balik Modernisasi Kurikulum

Gagap Digital
Ilustrasi Tantangan Digital Guru (Sumber: MMI)

Sejak pandemi Covid-19 menghantam pada tahun 2020, dunia pendidikan Indonesia dipaksa melakukan lompatan kuantum yang tak terelakkan. Ruang kelas fisik berpindah ke pertemuan virtual, tugas menumpuk di platform digital, hingga sistem administrasi guru yang kini terpusat pada aplikasi rapor digital dan kinerja terpadu.

Namun, di balik gegap gempita digitalisasi yang dianggap sebagai kemajuan ini, muncul realitas pahit yang sering kali luput dari sorotan kebijakan: para pendidik senior yang terengah-engah mengejar ketertinggalan teknologi.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Kesenjangan kompetensi digital ini bukan sekadar masalah teknis “bisa atau tidak bisa”, melainkan tantangan struktural yang dapat menghambat efektivitas pengembangan kurikulum yang tengah diupayakan.

Pengamatan di lapangan menunjukkan betapa kontrasnya perubahan ini. Guru-guru senior, yang barangkali telah mengabdi puluhan tahun dengan kapur dan papan tulis, kini harus berhadapan dengan sistem yang sangat teknokratis.

Mereka dituntut bergelut dengan absensi berbasis titik koordinat (GPS) hingga pengisian sasaran kinerja pada platform digital yang alurnya sering kali berubah-ubah. Masalah menjadi makin runyam ketika teknologi tersebut mengalami kendala teknis—entah itu kegagalan server, aplikasi yang mendadak tidak merespons, atau perangkat yang tidak memadai.

Bagi tenaga pendidik yang belum memiliki literasi digital yang kuat, situasi ini memicu kecemasan kognitif yang luar biasa. Mereka sering kali merasa tertekan karena tidak memiliki dasar pengetahuan teknis untuk melakukan troubleshooting secara mandiri.

Akibatnya, energi dan fokus yang seharusnya tercurah untuk merancang strategi pembelajaran yang inovatif dan berdiferensiasi bagi siswa, justru habis tersita oleh labirin administratif-teknis yang melelahkan. Ada beban mental yang berat ketika seorang guru lebih mencemaskan “status sinkronisasi” di aplikasi daripada pemahaman siswa di dalam kelas.

Kesenjangan ini menciptakan fenomena unik sekaligus ironis. Tak jarang kita melihat guru yang kaya akan pengalaman pedagogis harus “berguru” kepada rekan sejawat yang jauh lebih muda hanya untuk sekadar mengoperasikan media pembelajaran baru.

Baca juga: Pemanfaatan Media Pembelajaran Digital Interaktif: Jenis, Contoh, dan Manfaatnya di Era Modern

Secara psikologis, hal ini tentu menimbulkan rasa tidak berdaya bagi pendidik senior. Padahal, dalam Panduan Pembelajaran dan Asesmen (Kemendikbudristek, 2022), ditekankan bahwa keberhasilan kurikulum sangat bergantung pada keleluasaan pendidik dalam menciptakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Jika “keleluasaan” itu terbelenggu oleh ketidaksiapan teknis, maka esensi dari kurikulum yang adaptif hanya akan menjadi beban administratif di atas kertas.

Penulis berpendapat bahwa transformasi digital harus dibarengi dengan empati dan bimbingan yang bersifat humanis. Solusinya, setiap sekolah perlu membangun ekosistem pendampingan sejawat (peer-learning).

Guru IT atau tenaga kependidikan informatika harus diberdayakan sebagai mentor tetap yang memberikan arahan personal dan sabar, bukan sekadar pelatihan massal yang sering kali hanya bersifat formalitas. Pelatihan yang inklusif sangat penting agar tidak terjadi diskontinuitas antara semangat modernisasi pemerintah dengan realitas kapasitas di ruang guru.

Harapannya, teknologi seharusnya menjadi jembatan praktis yang memudahkan guru dalam mengajar, bukan justru menjadi tembok pemisah. Modernisasi kurikulum harus berjalan di atas kaki seluruh pendidik tanpa ada yang merasa teralienasi atau ditinggalkan di belakang. Karena pada akhirnya, secanggih apapun teknologinya, sentuhan kemanusiaan dan pengalaman seorang guru tetaplah ruh utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

 


Penulis: Krisna Wilanto Aji Pratama
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses