Mendaki gunung kini menjadi salah satu kegiatan favorit banyak orang. Dulu, aktivitas ini dianggap ekstrem dan hanya untuk segelintir orang yang berani menghadapi tantangan fisik dan cuaca ekstrem. Namun, kini mendaki sudah menjadi tren sosial yang digemari berbagai kalangan, terutama anak muda.
Ada sensasi tersendiri ketika menapaki jalur pendakian, melihat pepohonan hijau yang menenangkan, merasakan udara segar yang jauh dari polusi kota, hingga sampai di puncak dan disambut panorama yang memukau.
Sensasi ini kerap diabadikan lewat foto dan video, kemudian dibagikan di media sosial, yang membuat banyak orang semakin ingin merasakan pengalaman serupa. Komunitas pendaki pun tumbuh subur, saling berbagi tips, rute terbaik, hingga trik membawa peralatan ringan namun lengkap.
Namun, di balik keindahan alam dan euforia petualangan, muncul masalah serius yang sering luput dari perhatian yaitu sampah yang ditinggalkan pendaki di jalur dan puncak gunung.
Masalah ini bukan sekadar soal estetika atau kenyamanan, ia adalah contoh nyata bagaimana perilaku manusia berdampak langsung terhadap lingkungan.
Menurut Dhabitha (2023) pro-environmental behaviour adalah perilaku yang disengaja untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan misalnya pengelolaan sampah yang baik dan dipengaruhi oleh faktor sikap, norma sosial, dan kontrol perilaku yang dirasakan.
Banyak pendaki sudah mengetahui pentingnya membawa sampah turun, tetapi kenyataannya sebagian masih meninggalkannya.
Fenomena ini menarik jika dianalisis melalui perspektif Psikologi Lingkungan, terutama dengan menggunakan Teori Perilaku Ekologis, yang menekankan hubungan kompleks antara perilaku manusia, nilai-nilai, norma sosial, dan lingkungan sekitar.
Perilaku Pendaki dan Dampaknya terhadap Lingkungan
Perilaku membuang sampah di gunung merupakan contoh perilaku kontralingkungan yang dapat merusak ekosistem. Teori Perilaku Ekologis menjelaskan bahwa perilaku manusia tidak terjadi secara acak, ia dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, sosial, dan budaya:
Baca Juga: Sampah Pasca Mudik Menggunung: Cuaca Ekstrem Serang Kota-Kota Besar
1. Sikap dan nilai individu
tidak semua pendaki memiliki kesadaran lingkungan yang sama. Beberapa orang mungkin menganggap gunung hanya sebagai tempat hiburan atau pencapaian pribadi, sehingga tidak menaruh perhatian pada jejak yang mereka tinggalkan.
Nilai tanggung jawab terhadap alam sering kalah dibandingkan keinginan untuk cepat sampai puncak, mengambil foto yang “Instagramable”, atau sekadar menuntaskan ego pribadi.
2. Norma sosial dan pengaruh kelompok
Manusia adalah makhluk sosial yang cenderung menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Jika dalam kelompok pendaki membuang sampah dianggap hal biasa atau tidak dihiraukan, individu cenderung mengikuti perilaku tersebut demi diterima secara sosial.
Sebaliknya, kelompok yang menekankan kebersihan dan tanggung jawab lingkungan dapat mendorong anggotanya bertindak pro-lingkungan, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh norma sosial terhadap perilaku.
3. Persepsi terhadap dampak lingkungan
Banyak pendaki beranggapan bahwa satu bungkus plastik atau satu botol air tidak akan berdampak signifikan. Namun, bila dilakukan secara kolektif oleh ribuan pendaki dalam jangka waktu panjang, dampaknya bisa sangat merusak.
Sampah menumpuk di jalur dan puncak, bisa merusak tumbuhan, mencemari sumber air, bahkan membahayakan satwa liar yang mengira sampah sebagai makanan. Tidak hanya itu, keberadaan sampah juga mengurangi pengalaman restoratif pendaki.
Ketika seharusnya bisa merasakan ketenangan, rasa kagum, dan kepuasan emosional, keindahan alam terganggu oleh sampah yang berserakan, membuat gunung terasa kurang menyenangkan.
Misalnya, beberapa penelitian mencatat bahwa di Ranu Kumbolo, jalur menuju Gunung Semeru, masih ditemukan sampah berserakan di beberapa titik, meski banyak pendaki sudah menerapkan prinsip “bawalah turun sampahmu sendiri.”
Jejak ini bukan hanya fisik tetapi juga psikologis, alih-alih menenangkan, lingkungan yang kotor bisa memicu rasa frustrasi dan menurunkan kualitas pengalaman pendakian. Fenomena ini menegaskan bahwa perilaku kontralingkungan mengurangi kualitas pengalaman manusia, sekaligus merusak ekosistem
Kearifan Lingkungan sebagai Solusi
Disinilah konsep Kearifan Lingkungan menjadi relevan. Teori ini menekankan kesadaran, nilai, dan norma yang mendorong manusia untuk menjaga keseimbangan dengan alam, sebagaimana ditegaskan dalam kajian psikologi lingkungan (Rizanti & Djuwita, 2020).
Pendaki yang memiliki kearifan lingkungan tinggi menyadari bahwa gunung bukan milik mereka semata, tetapi juga untuk generasi mendatang dan orang lain yang akan menikmati tempat tersebut. Kesadaran ini lahir dari pemahaman bahwa alam adalah ruang restoratif, sumber kekaguman, dan sarana pembelajaran yang harus dilestarikan.
Baca Juga: Pendakian Gunung di Wonosobo: Wisata Minat Khusus yang Jadi Gaya Hidup Baru
Beberapa praktik sederhana namun efektif antara lain
- Membawa kembali sampah sendiri, Pendaki yang disiplin memastikan semua sampah yang dibawa masuk ke gunung dibawa turun kembali, dari bungkus makanan hingga tisu bekas.
- Mengedukasi pendaki baru melalui komunitas, media sosial, atau kelompok pecinta alam tentang dampak membuang sampah sembarangan. Cerita nyata dan pengalaman pribadi sering lebih efektif dibanding sekadar aturan formal.
- Membangun norma sosial positif, misal dengan kompetisi bersih-bersih antar pendaki, penghargaan simbolik, atau lencana digital bagi mereka yang konsisten menjaga lingkungan. Norma ini memperkuat perilaku pro-lingkungan sehingga menjadi bagian alami dari pengalaman mendaki.
Di Gunung Rinjani misalnya, beberapa komunitas pendaki lokal rutin mengadakan aksi bersih jalur dan mendokumentasikan kegiatan ini di media sosial.
Strategi ini tidak hanya membersihkan jalur, tetapi juga membangun kesadaran kolektif. Pendaki baru cenderung meniru perilaku positif ini karena melihat pengaruh sosial dan kepuasan yang dirasakan para pendaki sebelumnya.
Dengan menanamkan kearifan lingkungan, perilaku kontralingkungan dapat diminimalkan, alam tetap lestari, dan pengalaman pendakian tetap restoratif.
Kesadaran ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga memperkuat nilai sosial yang menghargai alam secara kolektif. Gunung pun tetap menjadi tempat yang memicu rasa kagum, menenangkan jiwa, dan memberi energi baru bagi pendaki.
Refleksi dan Pembelajaran
Kasus pendaki yang masih membuang sampah menunjukkan bahwa perilaku manusia tidak terlepas dari faktor psikologis, sosial, dan budaya.
Psikologi Lingkungan membantu kita memahami mengapa perilaku kontralingkungan tetap terjadi, meski pengetahuan tentang dampak negatif sudah tersedia. Kesadaran individu sering kalah terhadap pengaruh kelompok, kepuasan pribadi, atau persepsi bahwa tindakan kecil tidak berbahaya.
Menikmati alam bukan hanya soal kepuasan pribadi, tetapi juga tanggung jawab terhadap lingkungan dan orang lain. Gunung memang untuk semua, tetapi sampah tidak untuk semua, ia harus dibawa turun.
Menghargai alam adalah bentuk koping emosional yang sehat, memberikan rasa tenang, memulihkan energi, dan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.
Dengan kearifan lingkungan, manusia bisa menikmati alam sekaligus melestarikannya. Perilaku pro-lingkungan menjadi bagian alami dari pengalaman mendaki, bukan sekadar kewajiban formal.
Menikmati sunrise di beberapa jalur pendakian akan lebih bermakna jika lingkungan tetap bersih, udara tetap segar, dan tumbuhan serta satwa tetap lestari. Rasa kagum yang timbul bukan hanya soal visual, tetapi tentang harmoni antara manusia dan alam, sebuah pengalaman restoratif yang tak ternilai.
“Menjaga alam itu penting, bukan cuma untuk diri sendiri, tapi juga untuk generasi mendatang. Dengan begitu, setiap orang bisa memberi dampak kecil yang berarti. Gunung tetap jadi tempat petualangan, sekaligus ruang belajar tentang bagaimana kita menjaga alam dan hidup harmonis dengan lingkungan.”
Penulis: Zuyyin Choiriyyatun Felasuf (NIM: 202460049)
Mahasiswa Prodi Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus
Dosen Pengampu: Dr. Mochamad Widjanarko, S.Psi., M.Si.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












