Hutan Amazon di Persimpangan Jalan Iklim dan Kebijakan

Hutan Amazon, wilayah hijau raksasa yang membentang melintasi sembilan negara di Amerika Selatan, telah lama dihormati sebagai paru-paru dunia sekaligus penyangga iklim global.

Dengan luas lebih dari 5,5 juta kilometer persegi dan menyimpan sekitar 10% keanekaragaman hayati daratan Bumi, Amazon mengatur siklus air, menyerap karbon dalam jumlah masif, dan menopang kehidupan jutaan masyarakat adat yang menjiwai hutan ini sebagai lahan budaya, spiritual, dan ekonomi.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun hari ini, pada persimpangan kritis antara perubahan iklim yang memanas dan kebijakan publik yang sering berayun, Amazon menghadapi tekanan tak pernah terjadi sebelumnya deforestasi masif, kebakaran yang kian tak terkendali, konflik lahan, serta ketidakpastian politik yang mengancam kelangsungan ekosistemnya.

Baca juga: Melindungi Hutan Nimbokrang: Simbol Kehidupan dan Harapan Papua

Selama lima puluh tahun terakhir, Amazon kehilangan hampir 17% tutupan hutannya.

Area seluas ratusan ribu kilometer persegi hilang akibat pembukaan lahan untuk pertanian industri dan peternakan.

Aktivitas agribisnis, terutama produksi kedelai dan peternakan sapi, menggerus lahan hutan primer untuk menciptakan padang rumput dan lahan tanam monokultur.

Proses pembersihan lahan ini sering dilakukan dengan membakar, yang tidak sekadar menebang pohon, tetapi juga membakar sisa vegetasi, melepaskan awan asap dan emisi karbon dalam skala besar.

Kebakaran yang dahulu terjadi musiman kini muncul lebih awal, berlangsung lebih lama, dan menyebar lebih luas akibat musim kemarau yang kian ekstrem.

Di tingkat kebijakan, berbagai inisiatif internasional seperti REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) serta Amazon Fund telah dihadirkan untuk menahan lajunya deforestasi.

Namun efektivitasnya masih beragam. Sumber pendanaan kerap terhenti karena perubahan rezim politik: misalnya dana Norwegia yang sempat dibekukan, baru mencair kembali setelah pemerintahan berganti.

Di sisi legislatif, tekanan kelompok agribisnis dalam Kongres Brasil menimbulkan undang-undang yang melemahkan perlindungan hutan dan hak-hak masyarakat adat.

Di satu sisi, kebijakan konservasi dihidupkan kembali; di sisi lain, perundang-undangan pro-pembangunan membuka celah untuk eksploitasi lahan lebih jauh.

Masyarakat adat Amazon memegang peranan sangat krusial.

Terbukti bahwa wilayah hutan yang dikelola secara tradisional oleh komunitas adat mempertahankan tutupan pohon jauh lebih baik dibandingkan lahan di luar status adat.

Mereka menjaga hutan sebagai bagian integral dari kehidupan dan budaya, menerapkan praktik agroforestri, rotasi tanaman, serta pengelolaan berkelanjutan yang menyeimbangkan kebutuhan pangan dan kelestarian ekosistem.

Meski begitu, proses demarkasi dan pengakuan hak atas wilayah adat berlangsung lamban; banyak komunitas terancam perambahan tambang ilegal dan pembukaan lahan perkebunan yang merusak sungai dan mempersempit koridor satwa.

Kebakaran hutan menjadi babak baru dalam krisis ini.

Musim kemarau, diperparah fenomena El Niño, seringkali berubah menjadi musim kebakaran panjang.

Titik api bermunculan di lusinan lokasi, membakar puluhan ribu kilometer persegi hutan dalam hitungan minggu.

Asap pekat menyelimuti kota-kota di sekitar hutan dan meluas hingga menyeberang benua, menimbulkan krisis kesehatan paru-paru, gangguan pernapasan, dan kerugian produktivitas ekonomi.

Lebih jauh, kebakaran ini melepaskan emisi karbon yang selama ini tersimpan di biomassa hutan, mengurangi peran Amazon sebagai penyerap CO₂ dan malah berubah menjadi sumber emisi besar dalam skala global.

Baca juga: Pengintai Hijau Gunung Berapi: Vegetasi Pohon Sebagai Indikasi Awal Aktivitas Vulkanik Melalui Satelit

Sebagai reservoir karbon yang menyimpan ratusan miliar ton CO₂, Amazon berperan krusial dalam menstabilkan iklim.

Namun ketika deforestasi dan kebakaran menyentuh ambang kritis diperkirakan sekitar 20–25% kehilangan tutupan hutan Amazon bisa beralih fungsi dari carbon sink menjadi carbon source.

Artinya, ia akan lebih banyak melepaskan karbon ke atmosfer daripada menyerapnya.

Selain itu, hilangnya pohon mempengaruhi siklus air: hutan Amazon menyuplai uap air melalui transpiration, membentuk jaringan sungai atmosfer yang menghasilkan hujan rutin di dataran tinggi Amerika Selatan.

Ketika jaringan ini terganggu, pola hujan berubah, berpotensi mempengaruhi sektor pertanian hingga megabiodiversitas yang bergantung pada kelembaban hutan.

Pemerintahan Brasil menghadapi tarik-ulur politik yang tajam.

Di satu sisi, presiden dan kementerian lingkungan meluncurkan moratorium pembukaan lahan primer, menghidupkan kembali patroli satelit, serta menyalurkan insentif kinerja bagi pemerintah daerah yang menurunkan deforestasi.

Di sisi lain, kekuatan lobi agribisnis di Kongres mendorong beberapa undang-undang untuk memperlonggar perlindungan hutan dan mempermudah konversi lahan.

Legislatif sempat mengesahkan regulasi marco temporal yang membatasi pengakuan wilayah adat, lalu membatalkannya di tingkat hukum, menciptakan ketidakpastian berkelanjutan.

Secara global, berbagai mekanisme pendanaan iklim diciptakan untuk menjaga Amazon.

REDD+ menawarkan insentif finansial bagi negara yang berhasil menurunkan emisi dari deforestasi, sementara Amazon Fund didukung Norwegia dan Jerman memberi dukungan proyek konservasi.

Namun efektivitas kerap terhambat oleh ketidakpastian politik dalam negeri yang menyebabkan jeda pencairan dana.

Di tingkat konsumen, regulasi Uni Eropa dan inisiatif rantai pasok berkelanjutan mendorong transparansi: produk daging sapi, kedelai, dan kayu harus terbukti bukan berasal dari lahan hasil deforestasi ilegal.

Menghemat Amazon memerlukan perpaduan strategi: memperkuat penegakan hukum berbasis teknologi satelit dan kecerdasan buatan.

Mempercepat demarkasi dan mendukung komunitas adat melalui dana dan teknologi monitoring melanjutkan insentif ekonomi hijau bagi daerah berprestasi.

Memastikan transparansi rantai pasok dengan traceability digital memperkuat kerja sama internasional untuk pendanaan dan teknologi konservasi, serta pendidikan publik guna membangun kesadaran global akan peran Amazon bagi iklim dan keanekaragaman.

Baca juga: Perubahan Iklim dan Kesehatan, Bagaimana Keterkaitannya?

Tanpa langkah terpadu dan kebijakan yang konsisten, Amazon berada di ambang titik balik ekologis yang sulit diubah.

Jika deforestasi dan kebakaran terus merajalela tanpa respons terpadu, hutan hujan terbesar di dunia dapat kehilangan kemampuan regenerasi alami, memicu perubahan permanen ke ekosistem savana kering.

Hal ini akan berdampak luas pada iklim global, keanekaragaman hayati, dan kesejahteraan manusia.

Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, sektor swasta, dan komunitas internasional sangat penting agar hutan Amazon dapat terus berfungsi sebagai paru-paru dunia.

 

Penulis: Oot Khotimah, S. Pd, M. Si

Dosen Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Jakarta

 

Editor: Anita Said
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses