I’m not into Politics: Being Unbothered by Politic is a Privilege–One Many can’t Afford

kesadaran politik masyarakat
I’m not into Politics: Being Unbothered by Politic is a Privilege–One Many can’t Afford. Sumber: Penulis.

Kita sering mendengarnya. Di tongkrongan, di media sosial, atau bahkan dari diri sendiri ketika menghindari perdebatan panas.

Ah udah lah, aku nggak terlalu suka politik.”

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Memang itu terdengar seperti pilihan pribadi, seperti memilih untuk tidak menyukai genre musik atau film tertentu. Namun bagi sebagian orang, terutama mereka yang hidupnya terus-menerus ‘diombang-ambing’ oleh keputusan penguasa, kalimat itu bukan lagi pilihan–melainkan sebuah privilege yang tidak semua orang mampu untuk mendapatkannya.

Jika seseorang bisa hidup dengan nyaman dan mengucapkan kalimat tersebut, mari kita pahami mengapa pandangan itu perlu dipertanyakan.

Politic is not a Trend, it Affects Every Aspect of Our Existence

Politik bukanlah fashion ataupun tren kuliner yang bisa diikuti atau abaikan. Politik adalah sebuah sistem yang menentukan apakah kualitas udara di daerah kita aman untuk bernapas, apakah kuota internet yang kita gunakan lancar dan cepat, bahkan politik bisa menentukan apakah kita bisa bebas mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi.

Perlu disadari bahwa kesenjangan kenyamanan dan kesulitan seringkali terletak pada kebijakan–bukan kebetulan. Ketika kita beralih dari lingkungan yang toxic, judgemental, dan diskriminatif ke lingkungan yang inklusi sosialnya didukung oleh pemerintah yang bersangkutan, kita pasti akan langsung menyadari: “Dunia ini dibentuk oleh narasi politik yang penuh bias.”

Ketidakpedulian terhadap politik hari ini sama saja dengan membiarkan orang lain dengan sewenang-wenang memberi sugesti yang buruk pada masa depan kita.

Masalah seperti sesak napas akibat kualitas udara yang buruk, jaringan internet yang lemah, dan kebijakan yang membatasi ruang digital–semua itu adalah output dari keputusan politik yang seharusnya kita awasi.

Baca Juga: Menghidupkan Pancasila di Era Digital: Melawan Intoleransi Politik di Media Sosial

Political Apathy: Why Ignorance Won’t Save You

Ketika ada yang mengatakan, “Aku nggak mau mikirin politik,” ada dua hal yang seringkali tersirat: mereka benar-benar tidak tahu bahwa masalah hidupnya adalah masalah kebijakan; atau mereka berada di ‘zona nyaman’ di mana dampak dari kebijakan para penguasa belum terasa secara langsung.

Memang dapat diakui bahwa hidup tenang tanpa pusing memikirkan politik adalah sebuah privilege. Tapi yang perlu diingat adalah ketidaktahuan justru akan menjadi ‘kartu AS’ bagi politisi.

Bukan berarti semua orang harus menjadi fanatik terhadap politik. Perlu ditekankan bahwa kita tidak perlu menunggu konflik besar terjadi untuk sadar bahwa perubahan kebijakan yang merugikan bisa datang kapan saja, kita tidak perlu menjadi aktivis yang melakukan aksi di jalan, tetapi setidaknya, memiliki kesadaran terhadap apa yang sedang terjadi di sekitar kita harus menjadi dasar moral dan skill untuk bertahan hidup.

Baca Juga: Hak Warga Negara dalam Genggaman Politik Identitas: Kesadaran Menuju Pemilu 2024

Be Aware and Stop Muting the World around You

Jadi jika kamu tetap bersikeras dengan pernyataan “not into politics”, cobalah untuk mengintrospeksikan diri dengan pertanyaan seperti: “Bagaimana mekanisme politik secara konkret telah membentuk prospek masa depanmu?”

Jika kamu tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut, inilah saatnya untuk kembali membaca buku dan menyimak berita. Tidak harus melalui literatur berat, mulailah dengan mencari thread informasi edukatif di media sosial.

Ketika seseorang memutuskan untuk bersikap acuh tak acuh dan apolitis, maka secara implisit ia telah menyerahkan perlindungan hak-haknya kepada para elit politik yang hanya berorientasi pada kepentingan kekuasaan semata.

It’s time to be conscious! Because being a political apathy is a luxury that demands too high social costs for all of us.

Penulis: Audrey Sheena Az Zahra (174251007)
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Airlangga

Dosen Pengampu: Dr. Nanik Hidayatik, drh.

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses