Kidal: Keunikan yang Sering Disalahpahami

orang kidal
Kidal: Keunikan yang Sering Disalahpahami. Sumber: MMI.

Pembahasan tentang orang kidal selalu menarik, ada yang menganggap mereka lebih kreatif, lebih cerdas, bahkan “punya bakat khusus”. Di sisi lain, banyak juga yang justru melihat kidal sebagai kelompok kecil yang harus berjuang di dunia yang didesain untuk tangan kanan.

Sebagai seorang yang kidal, saya memang sering bertempur dengan lingkungan yang tampaknya dirancang untuk sang mayoritas, yakni pengguna tangan kanan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Contoh kecilnya, bangku kuliah yang terkadang memiliki desain untuk menopang tangan kanan bukan tangan kiri, dan berakhir harus kembali berteman dengan rasa pegal dan tak nyaman. Kenyataannya, posisi orang kidal ada di tengah-tengah dua pandangan itu: punya keunikan, tapi juga menghadapi batasan yang jarang disadari.

Keunggulan dan Potensi Orang Kidal

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang kidal memang memiliki karakteristik kognitif yang berbeda. Misalnya, sebuah studi pada mahasiswa menemukan bahwa responden kidal lebih menonjol dalam kemampuan spasial dan musikal dibanding mahasiswa tangan kanan (Adekoya & Ogunola, 2015).

Ada juga penelitian lain yang menunjukkan bahwa otak orang kidal cenderung memiliki pola lateralitas yang lebih fleksibel seperti fungsi bahasa, pengenalan wajah, hingga pengolahan visual bisa tersebar di dua belahan otak (Johnstone et al., 2021).

Secara sederhana, sebagian orang kidal mengembangkan cara berpikir yang tidak sepenuhnya sama dengan mayoritas. Mereka terbiasa menavigasi dunia yang “tidak dirancang untuk mereka”, sehingga banyak yang menjadi lebih adaptif.

Contoh paling jelas terlihat dalam dunia bedah: beberapa studi menemukan bahwa ahli bedah kidal lebih sering memiliki kemampuan ambidexter karena sejak awal mereka dipaksa menyesuaikan diri dengan alat dan prosedur yang dibuat untuk tangan kanan (Sabharwal et al., 2020).

Di berbagai bidang seperti musik, seni, hingga olahraga, keunikan koordinasi dan perspektif ini kadang memberi keuntungan tersendiri (Shay, n.d.). Tidak heran orang kidal sering dianggap “berbeda”, dalam arti yang positif.

Baca Juga: Dunia Perkomenan

Tidak Semua Klaimnya Benar

Meski begitu, tidak semua anggapan populer tentang orang kidal terbukti secara ilmiah. Pada anak-anak, (Johnston & Nicholls, 2013) menyimpulkan bahwa asosiasi antara kidal dan performa akademis atau perkembangan kognitif sangat lemah, bahkan dalam beberapa ukuran, anak kidal bisa menunjukkan skor sedikit lebih rendah dalam kosa kata, matematika, dan pemahaman dibanding anak tangan kanan.

Penelitian di kalangan lansia juga tidak menemukan perbedaan signifikan dalam fungsi kognitif (Siengthai et al., 2008). Studi terkini juga menolak klaim bahwa kidal secara umum memiliki “kesehatan fisik maupun psikologis yang lebih buruk” dari non-kidal (Porac & Searleman, 2002).

Artinya, meskipun ada kelebihan dalam aspek tertentu, itu hanyalah sekadar ciri khas dari orang itu sendiri. Klaim bahwa kidal lebih “pintar secara umum”, atau lebih sehat/lebih baik secara universal tidak memiliki dukungan ilmiah yang konsisten. Klaim-klaim tersebut, baik positif maupun negatif, seringkali berlebihan.

Mengapa Mitosnya Bertahan?

Ada beberapa alasan kenapa stereotip tentang kidal sulit menghilang. Pertama, kita cenderung hanya melihat contoh yang mencolok: musisi jenius, atlet berbakat, atau seniman terkenal yang kebetulan kidal.

Kedua, media sering menggambarkan kidal sebagai figur unik yang terkadang misterius, atau kadang kreatif, sehingga orang mudah mengaitkan “keunikan” dengan “kehebatan”. Di sisi lain, kurangnya pemahaman publik membuat cerita-cerita semacam ini lebih cepat menyebar daripada data ilmiah yang sifatnya lebih kompleks.

Baca Juga: Hubungan Berpikir Kritis dengan Kemampuan Menulis Teks Narasi

Opini: Berbeda bukan Hal yang Hiperbola

Menurut saya, cara paling sehat untuk memahami orang kidal adalah dengan melihat mereka sebagai variasi normal manusia, sama seperti perbedaan tinggi badan atau warna kulit. Mereka punya sisi-sisi yang menarik, punya tantangan yang nyata, tetapi tidak perlu dipuja berlebihan atau dianggap sebagai anomali.

Fokus kita seharusnya pada bagaimana lingkungan bisa lebih ramah: peralatan sekolah, alat kerja, hingga infrastruktur umum seharusnya memberi ruang untuk kenyamanan orang kidal, bukan memaksa mereka beradaptasi terus-menerus.

Akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah kidal lebih unggul atau tidak, melainkan bagaimana kita bisa menyediakan ruang agar semua orang, entah itu pengguna tangan kanan maupun kiri bisa menjalani aktivitas dengan nyaman tanpa merasa berbeda atau tertinggal.

Penulis: Yomaeling (413251097)
Mahasiswa Teknologi Radiologi Pencitraan Universitas Airlangga

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Referensi Ilmiah

Adekoya, J. A., & Ogunola, A. A. (2015). Relationship between left-handedness and increased intelligence among university undergraduates. 4(2), 44–50. https://doi.org/10.11648/j.pbs.20150402.12

Johnston, D. W., & Nicholls, M. E. R. (2013). Handedness , health and cognitive development : evidence from children in the National Longitudinal Survey of Youth. 841–860.

Johnstone, L. T., Karlsson, E. M., & Carey, D. P. (2021). Left-Handers Are Less Lateralized Than Right-Handers for Both Left and Right Hemispheric Functions. August, 3780–3787.

Porac, C., & Searleman, A. (2002). The effects of hand preference side and hand preference switch history on  measures of psychological and physical well-being and cognitive performance in a sample of older adult right-and left-handers. Neuropsychologia, 40(12), 2074–2083. https://doi.org/10.1016/s0028-3932(02)00058-1

Sabharwal, S., Mackenzie, J. S., Sterling, R. S., Ficke, J. R., & Laporte, D. M. (2020). AOA Critical Issues in Education Left-Handedness Among Orthopaedic Surgeons and Trainees. 0.

Shay, T. (n.d.). Special Topic Is Being Left Handed an Advantage toward a Plastic Surgery Residency ? 10–13. https://doi.org/10.1097/GOX.0000000000002589

Siengthai, B., Kritz-Silverstein, D., & Barrett-Connor, E. (2008). Handedness and cognitive function in older men and women: a comparison of  methods. The Journal of Nutrition, Health & Aging, 12(9), 641–647. https://doi.org/10.1007/BF03008275

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

1 Komentar

  1. Tantangan orang kidal bukan cuma itu saja bang, ada lagi tantangan yg lain bagi orang kidal, tapi ini dari segi agama, contoh nya bnyak tokoh agama terutama Islam yg memandang kidal itu tidak bagus , jelek, dll, bagi mereka orang yg memakai tangan kiri atau kidal mereka anggap itu sama seperti setan, mkanya mereka buat persepsi sndiri. Mereka bilang jngan biarkan anak2 anda kidal, nanti akan terbiasa smpai besar, dan muncul lah istilah kidal, begitu lh tantangan orang kidal itu bnyak sbenarnya mulai dari peralatan smpai secara sosial mereka pun dianggap kacangan