Pengembangan Beras Siger Wangi sebagai Alternatif Pangan Lokal dalam Rangka Diversifikasi Pangan

beras siger
Pengembangan Beras Siger Wangi sebagai Alternatif Pangan Lokal dalam Rangka Diversifikasi Pangan. Sumber: MMI.

Konsumsi beras di Indonesia masih sangat tinggi, mencapai lebih dari 26 juta ton per tahun, bahkan melampaui tingkat produksinya sendiri.

Ketergantungan besar terhadap satu sumber pangan ini menuntut adanya diversifikasi pangan, yaitu upaya menyediakan berbagai jenis bahan pangan agar kebutuhan gizi masyarakat tidak hanya bertumpu pada beras saja (Sudrajat, 2023).

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Salah satu strategi diversifikasi yang prospektif adalah pengembangan beras analog, yakni produk menyerupai beras yang dibuat dari sumber karbohidrat lokal selain padi (Budijanto & Yuliyanti, 2012).

Singkong termasuk komoditas lokal yang sangat potensial untuk tujuan tersebut karena merupakan pangan kedua terbesar setelah padi, dengan luas panen 611 ribu hektare dan produksi 18,28 juta ton pada tahun 2023.

Salah satu inovasi berbasis singkong yang mulai berkembang adalah beras siger, yaitu singkong segar yang diolah menjadi butiran mirip beras dengan tampilan dan cita rasa lebih baik dibandingkan tiwul.

Meskipun demikian, permintaan beras siger belum stabil karena beberapa atribut produknya belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi konsumen. Sebuah penelitian mencatat bahwa konsumen mempertimbangkan berbagai atribut dalam memilih beras analog mulai dari rasa, aroma, tekstur, warna, hingga karakteristik kemasan.

Salah satu kendala utama beras siger adalah aroma tepung singkong yang masih kuat dan menurunkan tingkat kesukaan konsumen.

Baca Juga: Peran STEM dalam Pengembangan Beras Fungsional Rendah Glikemik

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, oleh sebab itu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan konsep beras siger wangi, yaitu beras siger dengan aroma dan cita rasa yang ditingkatkan agar mendekati karakter sensori beras padi dan mudah diterima konsumen

Dari sudut pandang pengembangan pangan lokal, upaya peningkatan mutu sensori ini bukan sekadar perbaikan produk, tetapi juga strategi penting untuk mendorong perubahan preferensi konsumsi masyarakat.

Inovasi seperti beras siger wangi dapat menjadi jembatan antara kebutuhan diversifikasi pangan dan selera konsumen modern, selera yang cenderung menuntut kualitas tinggi dan pengalaman sensori yang familiar.

Dengan demikian, keberhasilan peningkatan cita rasa dan aroma beras siger sangat mungkin menjadi faktor kunci dalam memperluas penerimaan masyarakat dan mengurangi ketergantungan pada beras padi.

Penulis: Aza Wajalla (F0505251043)
Mahasiswa Pascasarjana Prodi Ilmu Pangan, Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses