Integrasi Lean-Green Supply Chain dalam Industri untuk Mendukung SDGs 6, 7, dan 9

Lean Grean Supply Chain
Ilustrasi Integrasi Lean-Green Supply Chain dalam Industri (Gambar: Inbound Logistics)

Pada banyak kegiatan produksi di Indonesia, perusahaan masih memakai pola kerja yang boros sumber daya.

Air digunakan tanpa standar yang jelas, peralatan utilitas dibiarkan bekerja lebih lama dari yang dibutuhkan, dan aliran material tidak sepenuhnya dipetakan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Situasi ini membuat biaya meningkat, proses menjadi tidak efisien, dan berdampak pada lingkungan.

Dari sudut pandang teknik industri, masalah ini dapat dilihat sebagai peluang untuk mengatur ulang proses operasi dengan pendekatan yang lebih terstruktur.

Salah satu kerangka yang cocok adalah Lean-Green Supply Chain, yaitu gabungan teori lean untuk menghilangkan pemborosan dan teori green untuk menjaga keberlanjutan.

Kerangka Lean-Green bekerja dengan membaca aliran proses dari hulu ke hilir. Pada tahap ini, perusahaan dapat memakai value stream mapping untuk melihat titik-titik operasi yang boros air dan energi.

Pendekatan ini diperkuat oleh teori green supply chain, yang menjelaskan bahwa pengelolaan sumber daya harus mengikuti prinsip green procurement, green manufacturing, hingga reverse logistics (Masudin, 2023).

Melalui kerangka teoretis ini, perusahaan dapat mengatur kembali pola penggunaan air sehingga tidak ada proses yang berjalan tanpa memberi nilai tambah.

Selain itu, teori hubungan antara green supply chain dan inovasi hijau memperlihatkan bahwa perusahaan yang menerapkan operasi hijau cenderung membentuk proses yang lebih efisien dan lebih stabil (Kurniawan & Hartini, 2025).

Teknik industri memanfaatkan teori ini untuk menetapkan standar kerja yang konsisten, mengatur kapasitas operasi, dan memastikan penggunaan energi di setiap workstation tetap terkendali.

Kerangka lean-green juga memberi arahan agar perusahaan terus melakukan perbaikan berkelanjutan.

Teori ini menekankan bahwa pengurangan pemborosan harus berjalan bersamaan dengan penurunan dampak lingkungan (Kasim, 2025).

Melalui prinsip tersebut, perusahaan dapat merancang operasi yang hemat air (SDG 6), lebih efisien energi (SDG 7), dan memiliki infrastruktur proses yang lebih inovatif (SDG 9).

Pada akhirnya, integrasi teori lean-green membantu industri bekerja lebih terukur, lebih hemat biaya, dan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

 

Penulis:
1. Muhammad Ramadhan As Syauqi (165231015 )
2. Muhammad Granantya Hendrastya (165231086)
3. Fajar Mahardika (165231102)
4. Hadyan Audysa (165231109)
Mahasiswa Prodi Teknik Industri, Universitas Airlangga

 

Daftar Pustaka

  • Kasim, N. (2025). Tinjauan Literatur: Implementasi Manajemen Rantai Pasok Lean dan Green. Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan, 4(3), 835–841. https://doi.org/10.55826/jtmit.v4i3.755
  • Kurniawan, M. S. D., & Hartini, S. (2025). Interrelationship Between Green Supply Chain Management and Green Innovation in Sustainability: A Systematic Literature Review. Jurnal Ilmu Lingkungan, 23(3), 712–720. https://doi.org/10.14710/jil.23.3.712-720
  • Masudin, I. (2023). A Literature Review on Green Supply Chain Management Adoption Drivers. Jurnal Ilmiah Teknik Industri, 18(2). https://doi.org/10.23917/jiti.v18i2.7826

 

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses