Diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang konsisten muncul setiap tahunnya di Indonesia. Padahal telah tersedia berbagai upaya pencegahan dan edukasi mengenai perilaku hidup bersih, angka kasus diare sendiri menunjukkan bahwa diare masih menjadi penyakit “langganan” yang terjadi di Indonesia
Sampai dengan bulan Agustus 2025, tepatnya di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah tercatat 165 kasus diare yang tersebar di 20 puskesmas. Kepala Dinas Kesehatan TTU menyampaikan kepada masyarakat agar mulai waspada terhadap kasus ini. Beliau menegaskan pentingnya menjaga pola hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk mencegah penularan diare, terutama di kalangan anak-anak.
Pada dasarnya, kita semua mencuci piring untuk menjaga kebersihan, tetapi apakah alat yang kita gunakan benar-benar bersih?
Salah satu alat yang sering kita gunakan, namun kebanyakan masyarakat abai akan kebersihannya, adalah sponge cuci piring. Sponge cuci piring sering dianggap sepele, padahal penelitian mengungkapkan bahwa sponge cuci piring dapat menjadi salah satu sumber kuman paling tinggi di dalam rumah.
Menurut penelitian Flores et al. (2017), lingkungan yang lembap dan kaya nutrisi seperti ini sangat mendukung pertumbuhan bakteri patogen, seperti Escherichia coli dan Salmonella. Ketika spons kotor digunakan Kembali, maka bakteri tersebut dapat berpindah ke piring, gelas, dan peralatan makan lainnya. Dari sinilah risiko penyakit seperti diare dapat muncul.
Baca juga: Efektivitas Daun Jambu Biji (Psidium Guajava L.) sebagai Antidiare
Menurut saya, sangat disayangkan bahwa masih banyak masyarakat yang kurang peduli akan pentingnya menjaga kebersihan sponge cuci piring. Kebiasaan seperti menunda mengganti sponge hingga benar-benar rusak, menyimpan air sabun yang telah digunakan hingga berhari-hari, serta membiarkan sponge dalam keadaan tidak dibilas lalu disimpan untuk digunakan kembali.
Kurangnya edukasi mengenai sanitasi dapur menyebabkan kebiasaan-biasaan tersebut berlangsung terus-menerus. Ironisnya, produsen spons juga jarang mencantumkan informasi mengenai cara merawat atau kapan harus mengganti spons, sehingga masyarakat tidak memiliki panduan yang jelas.
Sudah saatnya masyarakat mulai memperhatikan dan peduli terhadap kebersihan sponge cuci piring. Dilansir dari Taste at Home, jarak paling maksimal untuk mengganti sponge cuci piring adalah 1-2 minggu sekali.
Selain itu, kebiasaan menggantung sponge yang sudah dibilas dengan air bersih juga perlu dibiasakan sebagai upaya agar bakteri tidak dapat berkembang biak. Saya juga berpendapat bahwa baik dari pemerintah maupun produsen memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan edukasi yang lebih jelas mengenai risiko kesehatan dan cara perawatan sponge cuci piring yang benar.
Saya percaya bahwa kita bisa bersama-sama mulai melakukan upaya kecil untuk pencegahan penyakit diare yang masih marak terjadi di Indonesia ini. Kesadaran untuk menjaga kebersihan spons cuci piring menjadi langkah sederhana namun berdampak besar bagi kesehatan keluarga.
Kebersihan sponge cuci piring tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga sanitasi rumah tangga dan kesehatan keluarga. Kebiasaan sederhana yang sering diabaikan ternyata memiliki peran yang sangat penting dalam mencegah penyebaran bakteri penyebab penyakit, termasuk diare. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap detail kecil dalam aktivitas sehari-hari dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan di lingkungan rumah .
Penulis: Shamaya Haqq Nazla Putri Santoso
Mahasiswa Kearsipan dan Informasi Digital, Universitas Airlangga
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












