Belakangan ini, jagat media sosial digemparkan oleh narasi provokatif yang menyebut “Jawa adalah hama.”
Ungkapan itu, meskipun datang dari segelintir individu, menimbulkan keresahan dan membuka kembali luka lama yang seharusnya sudah sembuh dalam semangat kebangsaan.
Pernyataan seperti itu tidak hanya tidak berdasar, tetapi juga mereduksi keberagaman dan kearifan lokal yang justru menjadi kekayaan Indonesia.
Sebagai masyarakat Jawa Tengah, saya merasa perlu meluruskan pandangan ini.
Budaya Jawa, khususnya di Jawa Tengah, bukan hanya tidak layak disebut sebagai “hama,” tetapi justru mengajarkan nilai-nilai luhur yang sangat relevan dengan tantangan sosial hari ini.
Mari kita lihat beberapa contoh nyata dari kearifan lokal Jawa Tengah.
Pertama, falsafah Hamemayu Hayuning Bawana, yang berarti menjaga dan memperindah kehidupan dunia.
Falsafah ini menjadi panduan hidup orang Jawa untuk selalu menjaga keharmonisan, menghindari konflik, dan merawat alam serta sesama manusia.
Ini adalah bentuk spiritualitas dan ekologi sosial yang mengakar kuat dalam tradisi Jawa Tengah.
Kedua, dalam budaya Jawa Tengah, dikenal ajaran tepa salira, atau tenggang rasa. Nilai ini mengajarkan kita untuk memahami dan menghormati perasaan serta kepentingan orang lain.
Di tengah era polarisasi politik dan ujaran kebencian seperti sekarang, semangat tepa salira adalah nafas perdamaian yang patut dijaga.
Ketiga, budaya gotong royong masih hidup dalam praktik sehari-hari masyarakat Jawa Tengah, baik dalam bentuk kerja bakti, sambatan (tolong-menolong saat panen atau membangun rumah), hingga solidaritas sosial saat bencana.
Baca juga: Melestarikan Kesenian Jaranan di Era Modern sebagai Bentuk Tradisi Kearifan Lokal Bangsa Indonesia
Di tengah individualisme yang makin menguat, masyarakat Jawa menunjukkan bahwa kebersamaan adalah kekuatan.
Perlu ditegaskan, menyebut satu kelompok etnis sebagai “hama” adalah bentuk dehumanisasi yang berbahaya.
Tidak ada satu suku pun di Indonesia yang layak direndahkan, karena kita semua terikat dalam kesepakatan luhur bernama Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Kita tentu tidak menutup mata terhadap kritik terhadap segala bentuk dominasi budaya, ekonomi, atau politik.
Namun kritik harus diarahkan pada struktur dan kebijakan, bukan pada identitas etnis atau kelompok.
Masyarakat Jawa pun bukan monolitik mereka beragam, dan seperti kelompok lain, mereka juga menjadi korban sistem yang timpang.
Baca juga: Merawat Kebhinekaan Meneguhkan Komitmen Kemerdekaan
Sudah saatnya kita berhenti saling menyalahkan dan mulai saling memahami.
Indonesia dibangun dari berbagai budaya yang saling menyumbang nilai bukan saling meniadakan.
Dan dalam mozaik kebangsaan itu, budaya Jawa Tengah bukan hama, melainkan akar yang menguatkan.
Penulis: Dani Fikri Setiawan
Mahasiswa Jurusan S1 Teknik Informatika, Universitas Pamulang
Editor: Anita Said
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












