Violence in the Tradition of “The Lottery” by Shirley Jackson

Have you ever questioned a tradition that still exists today and continues to be practiced by many? What if there is a place that appears peaceful, calm, and harmonious, yet hides a dark and bloody tradition beneath the surface? “The Lottery” (1948) by Shirley Jackson presents such a story.

This piece is not just an ordinary short story or fictional writing, but a sharp critique of harmful traditions that still circulate within society.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

It highlights how humanity can be destroyed merely because something is considered “tradition,” and the belief that not following it will bring great disaster.

The Lottery tells the story of a peaceful village where many residents gather to participate in a yearly event—a lottery held in the town square.

At first, the event seems ordinary, warm, and full of camaraderie. However, as the story progresses, a sense of unease begins to grow, ultimately revealing that the “winner” of the lottery will be stoned to death by the entire village as a form of sacrifice or tradition.

The main character in this story is Tessie Hutchinson, who becomes this year’s “winner”—and victim.

The normalization of violence under the justification of “It’s tradition” shows how society can allow injustice to persist and even uphold acts of cruelty without understanding their origin or questioning their moral significance.

Baca juga: Mengenal Kota Tradisional di Nusantara: Definisi, Karakteristik, dan Contohnya

This reflects how people can become blind and emotionally detached from acts of injustice and violence simply for the sake of preserving outdated and meaningless customs.

The story also contains elements of patriarchy. When Tessie protests the results of the lottery and speaks up, her voice is ignored and dismissed.

In this tradition, only men are allowed to draw the lottery slips. Even when Tessie tries to defend herself, her own husband remains silent and allows her to be the victim of this year’s ritual.

This illustrates how the patriarchal system silences women’s voices, even in matters of life and death. Tessie becomes a tragic symbol of a tradition that the people realize too late is both irrelevant and cruel.

Shirley Jackson’s short story “The Lottery” serves as a powerful piece of literature that critiques ongoing social issues in society.

It leaves a strong impact, encouraging us to reflect and discern which traditions are still relevant and worth following, and which ones should be stopped to prevent further violence and injustice.

This story also acts as a mirror, reminding us that sometimes, the greatest evils are not committed by inherently evil people, but by ordinary individuals who simply “follow tradition.”

Baca juga: Berkurangnya Tingkat Kesopanan Anak Muda: Antara Kemajuan Teknologi dan Hilangnya Nilai-Nilai Tradisional

Kekerasan dalam Tradisi “ The Lottery “ karya Shirley Jackson

Pernahkah kamu mempertanyakan sebuah tradisi yang ada bahkan hingga saat ini pun masih banyak yang melakukannya.

Bagaimana jika ada disuatu tempat yang terlihat damai tanpa ada keributan, namun ternyata memiliki tradisi yang keruh hingga pertumpahan darah di dalamnya? “ The Lottery” 1948 karya Shirley Jackson , menyuguhkan kisah ini.

Cerita ini bukanlah hanya sekedar tulisan atau karangan biasa, melainkan juga sindiran terhadap tradisi tradisi merugikan yang masih beredar didalam masyarakat.

Faktor yang dapat merusak kemanusiaan hanya dikarenakan “ Sudah tradisi” yang dianggap apabila tidak melakukannya akan terjadi suatu bencana yang besar.

The Lottery, kisah yang menceritakan di Sebuah desa yang damai, ada  banyak nya warga berkumpul bersama untuk mengikuti “lotre” acara tahunan yang selalu diadakan tiap tahun nya di alun alun desa tersebut.

Permainan Lotre suasana awalnya tampak biasa, dan hangat penuh keakraban, namun seiring berjalannya cerita, ada nya mulai merasakan keganjilan sehingga akhirnya terungkap bahwa pemenang lotre akan dilempari batu oleh seluruh warga desa sebagai bentuk pengorbanan atau Tradisi.

Tokoh utama dalam cerita ini adalah, Tessie Hutchinson, yang juga menjadi “Pemenang” , sekaligus korban tahun ini.

Baca juga: Tidak Percaya Diri Seringkali Membuat Resah, Ini Alasan Untuk Mencintai Diri Sendiri

Menormalisasikan kekerasan yang dilakukan berlindung dibalik kalimat “ Sudah Tradisi” Masyarakat membiarkan ketidakadilan serta bisa mempertahankan kekerasan tanpa mengetahui asal usulnya serta tanpa bertanya tentang makna moral di dalamnya.

Hal ini menjadikan pandangan bahwa masyarakat buta dan tidak berperasaan terhadap ketidakadilan dan kekerasan hanya demi menjaga “Tradisi” atau warisan yang tidak ada fungsinya.

Dalam Cerita “The Lottery “ juga mengandung unsur Patriarki. Tessie sebagai korban keberatan dengan hasil undian, serta menyampaikan suara namun ia tidak dianggap serta diabaikan.

Dalam tradisi ini, hanya laki – laki lah yang bisa menarik hasil undian Lotre.

Hingga saat Tessie menyuarakan dirinya, suami Tessie pun diam saja, dan membiarkan Tessie menjadi korban dalam Lotre tahun ini.

Hal ini menunjukkan bagaimana sistem patriarki merampas suara perempuan, bahkan dalam situasi hidup dan mati.

Tessie menjadi simbol tragis dari tradisi yang mereka terlambat menyadari bahwa sistem yang mereka ikuti selama ini sebenarnya tidak relevan dan kejam.

Cerita Pendek “ The Lottery” karya Shirley Jackson ini merupakan contoh karya sastra yang menyindir isu sosial yang masih beredar hingga saat ini di masyarakat.

Memiliki dampak yang besar, untuk dapat memilah tradisi mana yang relevan serta harus kita ikuti, dan tradisi seperti apa yang memang seharusnya kita hentikan agar tidak adanya korban kekerasan, ketidakadilan.

Cerita pendek “ The lottery “ ini juga adalah sebagai bahan cerminan bahwa terkadang kejahatan terbesar tidak dilakukan oleh orang jahat, tetapi juga dilakukan oleh orang biasa yang hanya “ mengikuti tradisi”.

 

Penulis: Febby Tri Santoso

Mahasiswa Jurusan Sastra inggris, Universitas Pamulang

 

Editor: Anita Said
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses