Dunia menghadapi paradoks menyedihkan dalam strategi global tujuh puluh tahun setelah Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955, yang menandai persatuan dan kemandirian negara-negara pascakolonial.
Warisan diplomasi KAA yang pernah mengguncang sistem kolonial semakin hilang; konflik kekuatan besar yang meningkat memecah negara Asia-Afrika.
Karena tidak ada regenerasi pemimpin, kurangnya dukungan institusional, dan kurangnya pembaruan visi kolektif, semangat KAA tidak lagi berfungsi sebagai suara kolektif seperti Dasasila Bandung.
Konstruktivisme berpendapat bahwa norma, identitas, dan konsep sosial lebih dari hanya kekuatan material yang membentuk perilaku negara.
Spirit Bandung, yang menekankan solidaritas, anti-kolonialisme, dan kemandirian, memengaruhi cara negara-negara Global South melihat posisi mereka dalam struktur internasional. Meskipun demikian, ketika identitas kolektif ini hilang, orientasi politik luar negeri berubah dan tidak lagi bergantung pada semangat tersebut.
Penurunan KAA lebih disebabkan oleh perubahan norma dan identitas politik daripada hanya konflik kekuatan besar.
Penurunan signifikansi KAA saat ini menunjukkan perubahan dalam cara negara-negara Asia-Afrika memahami makna kebersamaan. Banyak negara sekarang mendefinisikan identitas mereka melalui kepentingan pragmatis seperti investasi, keamanan, dan kolaborasi ekonomi jangka pendek.
Baca Juga: Rusia & Ukraina dalam Politik Indonesia: Netralitas atau Diplomasi Main Aman?
Pada masa lalu, tindakan kolektif didasarkan pada solidaritas politik dan anti-dominasi. Karena pergeseran makna ini, nilai-nilai Bandung tidak lagi berfungsi sebagai kompas moral. Karena identitas kolektif Global South telah hilang, standar KAA juga kehilangan kekuatan untuk memengaruhi tindakan negara.
Pertanyaannya kini: apakah warisan diplomasi Bandung masih relevan untuk masa depan, atau justru telah benar-benar terlupakan?
Pertama, warisan KAA kini hanya simbolis, meski Dasasila Bandung—seperti kesetaraan dan non-intervensi—masih relevan bagi negara berkembang. Tanpa upaya nyata memperbarui semangat non-blok menghadapi ketimpangan global, KAA tak lagi jadi diplomasi efektif.
Kedua, negara Asia-Afrika kini pragmatis, fokus kepentingan nasional jangka pendek seperti investasi dan keamanan di tengah rivalitas AS-Tiongkok. Pendekatan ini merusak kolaborasi Global South, sehingga tujuan KAA membangun kekuatan kolektif gagal.
Ketiga, KAA stagnan akibat absen regenerasi pemimpin dan dukungan institusional; organisasi terkait hanya seremonial, tak adaptif terhadap isu baru. Kurangnya diplomat muda yang paham prinsip Bandung membuatnya pudar sebagai kekuatan diplomatik Asia-Afrika.
Keempat, KAA 1955 gagal wujudkan kolaborasi ekonomi Selatan-Selatan meski usul nasionalisasi sumber daya dan perdagangan antarnegara pascakolonial tingkatkan pertumbuhan seperti di Indonesia.
Kini, tanpa diversifikasi mitra dagang kolektif (potensi PDB Global South >50% ekonomi dunia), semangat Bandung tak efektif jadi NAASP di kompetisi global.
Kelima, ketimpangan ekonomi antarpeserta KAA mencolok: Afrika stagnan, sementara India dan Tiongkok tumbuh PDB >5% (Tiongkok 5,2%). Kesenjangan ini lemahkan solidaritas tolong-menolong KAA, perkuat perpecahan, dan gagalkan pemerataan kesejahteraan Asia-Afrika secara global.
Konferensi Asia–Afrika semakin tidak relevan karena generasi berikutnya tidak memahami dan mendukung nilai-nilai diplomasi Bandung. Akibatnya, KAA tidak lagi digunakan oleh diplomat baru.
Karena itu, negara-negara yang berpartisipasi dalam KAA tidak dapat menghasilkan “figur Bandung baru”—pemimpin berani dari Global South seperti Sukarno, Nehru, atau Nasser.
Kondisi ini menjelaskan mengapa, meski KAA terus diperingati secara seremonial, warisannya kian memudar dalam dinamika internasional yang semakin kompetitif.
Kini, sejarah diplomasi KAA selama tujuh puluh tahun semakin dilupakan. Ini berdampak negatif pada kemandirian dan solidaritas negara-negara Asia-Afrika dalam memperjuangkan tatanan dunia yang lebih adil dan setara.
Negara-negara Global South menjadi lebih rentan terhadap dominasi dan pengaruh kekuatan besar karena semangat kolektif mereka memudar. Akibatnya, posisi mereka di panggung internasional melemah.
Baca Juga: Suara Indonesia dalam Memperjuangkan Hak Palestina: Keadilan Internasional dan Pancasila
Jika tidak ada upaya nyata untuk menghidupkan kembali semangat Bandung dalam kebijakan regional, Asia-Afrika akan kehilangan peluang penting untuk menjadi kekuatan penyeimbang di dunia yang semakin kompleks dan tidak stabil.
Ini juga akan memperlemah kemampuan mereka dalam menghadapi tantangan global dan mempertahankan kedaulatan diplomatik.
Penulis: Nur Mutia Fitri
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Maritim Raja Ali Haji
Aktif juga sebagai anggota di Organisasi Himpunan Mahasiswa Divisi Kominfo
Dosen Pengampu: Herry Wahyudi, S.IP., M.A.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












