Kasus Tamparan Kepsek SMAN 1 Cimarga, Efek dari Gentle Parenting VS VOC Parenting?

Efek dari Gentle Parenting VS VOC Parenting?
Gambar ilustrasi dibuat dengan AI.

Belum lama ini ada kasus yang menimpa salah satu Kepala Sekolah dari SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak dan sempat di non aktifkan oleh instansi pemerintah setempat karena memberikan peringatan keras kepada salah satu muridnya yang bersekolah di tempat kepala sekolah mengemban tugas yaitu dengan merokok di area sekolah.

Teguran keras itu berupa tamparan dari sang kepala sekolah kepada si murid yang bermula saat peristiwa terjadi sekolah sedang mengadakan kegiatan Jumat Bersih yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian siswa terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan sekolah.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Menurut informasi dan pengakuan dari Kepala Sekolah, Dini Fitria, ia memergoki seorang siswa yang tidak mengikuti kegiatan tersebut dan melihat siswa tersebut merokok di area kantin sekolah. Melihat kejadian tersebut adalah tindakan yang tidak dibenarkan, Dini Fitria menegur keras siswa tersebut.

Alih-alih bukannya mengakui perbuatan tersebut, siswa tersebut malah mengelak dan tidak mau mengakuinya dan berbohong kalau tidak merokok.

Dini Ftiria menerangkan saat adanya tindakan dan teguran keras, ia merasa emosi sehingga terjadinya tamparan kepada siswa tersebut.

Disinyalir bahwa ‘tindakan’ tersebut adalah tindakan lepas kontrol karena siswa tidak mengakui perbuatannya walaupun sudah keperegok oleh kepala sekolah. Namun Dini Fitria menekankan bahwa tidak adanya pemukulan keras.

Akibat kasus ini sejumlah siswa dari SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak melakukan protes keras terhadap pihak sekolah dan mendesak agar Dini dilengserkan sebagai Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga.

Selain itu pihak keluarga dari siswa yang menjadi korban melaporkan kepada pihak terkait karena tidak terima dengan perlakuan tersebut dan meminta untuk diproses secara jalur hukum.

Tekanan dari aksi mogok siswa dan laporan dari pihak keluarga korban, membuat adanya perhatian publik yang merupakan insiden disipliner menjadi pidana.

Walaupun kini pemerintah setempat sudah melakukan mediasi kepada pihak siswa dan pihak terlapor yaitu kepala sekolah dan kasus ini sudah dimediasi secara kekeluargaan dengan hasil berdamai, namun masih banyak masyarakat berkomentar akan kejadian ini.

Alih-alih atas laporan orang tua siswa kepada kepala sekolah, banyak netizen berkomentar dengan pro dan kontra atas kejadian tersebut melalui media-media terutama di media sosial.

(In Which Channel) memang media sosial adalah media yang sangat mudah diakses oleh masyarakat, sehingga netizen (yang sering kita sebut dengan komentator di media sosial) rata-rata berpendapat bahwa mental anak dan orang tua pelapor sangatlah disayangkan sekali.

Apakah ini karena peran orang tua yang menerapkan gaya “Gentle Parenting” sehingga anak-anak yang tumbuh di era serba instan ini dan anak sudah tidak ampuh dengan gaya “VOC Parenting”?

Baca Juga: Toxic Parenting: Analisis Kasus Patologi Sosial Anak yang Terabaikan dan Dibandingkan dalam Keluarga

Gentle Parenting VS VOC Parenting, Mana yang Baik untuk Anak?

Istilah “Gentle Parenting” menekankan pada gaya didikan orang tua dengan empati, penuh kasih sayang, komunikasi dua arah, mengedepankan kebutuhan emosi anak. Mungkin ada yang berpendapat juga bisa membuat efek sang anak jadi seperti dimanjakan.

Sebenernya gaya “Gentle Parenting” memberikan pola si anak agar lebih terbuka, percaya diri dan memiliki kecerdasaan emosi yang baik.

Berbeda dengan gaya “VOC Parenting”, gaya parenting ini mungkin dikenal era millenial atau orang-orang yang kelahiran dengan tahun 1970-an sampai dengan 1990-an di mana istilah VOC ini diadaptasi dari istilah penjajahan Belanda di Indonesia, di mana adanya kedisiplinan, ketegasan, dan kepatuhan menjadi nilai utama untuk mendidik agar anak tunduk terhadap aturan keluarga.

Namun sebenarnya kedua gaya parenting ini baik “Gentle Parenting” dan “VOC Parenting”, kedua gaya parenting ini bisa dipadukan yaitu dengan membuat aturan bersama si anak (libatkan dalam proses pembuatan aturan), konsisten namum fleksibel (tetap terbuka bila dibutuhkan), validasikan emosi sang anak (dengarkan dulu keluh kesah anak walaupun keputusan tetap diambil alih oleh orang tua), komunikasi dua arah (luangkan waktu untuk berdialog, bukan hanya sekadar memberikan perintah), jadikan contoh (perlihatkan contoh dalam kedisiplinan, menghargai, kejujuran, dan rasa penuh tanggung jawab setiap harinya).

Jadi penerapan gaya parenting mana yang dibutuhkan dengan pelajaran peristiwa kasus yang telah terjadi? Namun sejatinya orang tua harus bisa lebih kritis terhadap perkembangan zaman dan pergaulan anak-anak yang serba kritis ini, sehingga tidak ada lagi kejadian serupa kedepannya.

Penulis: Rosario Pradipty Mulya Sidauruk, S.E.
Mahasiswa S2 Fikom STIKOM Interstudi

 

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses