Dunia medis terus berkembang pesat, menawarkan solusi bagi berbagai tantangan kehidupan modern, termasuk dalam hal reproduksi. Salah satu prosedur yang belakangan ini menjadi perbincangan hangat adalah egg freezing atau pembekuan sel telur.
Di Indonesia, tren ini mulai mencuat ke permukaan setelah artis Luna Maya secara terbuka mengaku telah menjalani prosedur ini untuk mengamankan peluang kehamilannya di masa depan. Namun, apa sebenarnya egg freezing itu, dan apa saja risiko yang perlu diwaspadai?
Pembekuan sel telur secara medis dikenal sebagai Mature Oocyte Cryopreservation. Ini adalah metode di mana sel telur wanita (oosit) diambil dari ovarium, dibekukan saat belum dibuahi, dan disimpan di laboratorium dalam kondisi suhu ekstrem yang terkontrol.
Tujuannya adalah untuk “menghentikan waktu” bagi sel telur tersebut, sehingga kualitasnya tetap terjaga seperti saat sel telur itu diambil, meskipun usia wanita tersebut terus bertambah.
Baca juga: Tinjauan Fiqih Penerapan Bayi Tabung sebagai Teknologi Reproduksi Modern
Bagaimana Sains Egg Freezing Bekerja?
Dahulu, pembekuan sel telur dianggap sebagai prosedur eksperimental yang sulit karena sel telur manusia memiliki kadar air yang sangat tinggi. Saat dibekukan dengan metode lama (slow freezing), air di dalam sel cenderung membentuk kristal es yang dapat merusak struktur seluler saat dicairkan kembali.
Namun, teknologi terbaru yang disebut Vitrifikasi telah mengubah segalanya. Vitrifikasi adalah metode pembekuan kilat yang mengubah sel telur menjadi kondisi seperti kaca tanpa pembentukan kristal es.
Teknologi inilah yang membuat tingkat keberhasilan prosedur egg freezing meningkat drastis dalam satu dekade terakhir, memungkinkan sel telur bertahan bertahun-tahun di dalam nitrogen cair bersuhu -196 derajat Celsius.
ADS: Jika tertarik mengetahui tentang Poltekkes kaliandakota, Anda dapat mengunjungi situs: poltekkeskaliandakota.org
Mengapa Wanita Melakukan Egg Freezing?
Keputusan untuk membekukan sel telur bukanlah hal yang sederhana. Ada dua alasan utama mengapa seorang wanita memilih prosedur ini:
1. Alasan Medis (Medical Egg Freezing)
Banyak wanita menghadapi kondisi medis yang dapat merusak kesuburan mereka secara permanen. Pengidap kanker yang harus menjalani kemoterapi atau radiasi sering kali memilih prosedur ini sebelum memulai pengobatan.
Zat kimia dalam kemoterapi bersifat toksik bagi ovarium dan dapat menyebabkan menopause dini. Selain itu, penderita endometriosis berat yang membutuhkan pembedahan pada ovarium juga menjadi kandidat utama prosedur ini.
2. Alasan Sosial atau Elektif (Social Egg Freezing)
Ini adalah kategori yang paling banyak ditemukan pada wanita urban saat ini. Banyak wanita yang ingin fokus pada karier, pendidikan, atau belum menemukan pasangan yang tepat, namun tidak ingin kehilangan kesempatan menjadi ibu biologis di masa depan.
Karena kualitas sel telur wanita menurun secara signifikan setelah usia 35 tahun, membekukannya di usia produktif (20-an atau awal 30-an) adalah strategi untuk melawan jam biologis.
Baca juga: Hukum Inseminasi Buatan (Bayi Tabung) Menurut Islam
Tahapan Prosedur: Apa yang Harus Dihadapi?
Proses egg freezing bukan sekadar pengambilan darah sederhana. Ini adalah prosedur medis yang melibatkan manipulasi hormon secara intensif selama beberapa minggu.
Langkah 1: Evaluasi Awal dan Tes Darah
Sebelum prosedur dimulai, dokter akan melakukan pemeriksaan mendalam. Tes darah dilakukan untuk memeriksa kadar hormon, terutama Anti-Mullerian Hormone (AMH) untuk mengetahui cadangan sel telur di ovarium. USG transvaginal juga dilakukan untuk menghitung jumlah folikel antral.
Langkah 2: Stimulasi Ovarium
Normalnya, wanita hanya menghasilkan satu sel telur setiap bulan. Untuk prosedur ini, dokter membutuhkan 10 hingga 20 sel telur. Maka, wanita tersebut harus menjalani suntikan hormon (seperti FSH dan LH) satu hingga tiga kali sehari selama 10-12 hari. Tujuannya adalah merangsang ovarium agar mematangkan banyak folikel sekaligus. Pada tahap ini, wanita sering merasa perut kembung, perubahan suasana hati (mood swings), dan rasa tidak nyaman di area panggul.
Langkah 3: Pengambilan Sel Telur (Egg Retrieval)
Setelah sel telur matang, prosedur pengambilan dilakukan di bawah pengaruh bius ringan (sedasi). Dokter akan menggunakan jarum tipis yang dipandu oleh USG melalui dinding vagina untuk menyedot sel telur dari folikel ovarium. Prosedur ini biasanya berlangsung selama 20-30 menit.
Baca juga: Hukum Bayi Tabung Menurut Islam, Haram atau Tidak?
Risiko Egg Freezing yang Wajib Diketahui
Meskipun teknologi ini memberikan harapan, ada risiko nyata yang harus dipahami oleh setiap wanita sebelum menandatangani persetujuan prosedur:
1. Sindrom Hiperstimulasi Ovarium (OHSS)
Ini adalah komplikasi yang paling umum dan serius. Akibat suntikan hormon dosis tinggi, ovarium bisa menjadi sangat bengkak dan nyeri. Cairan dapat merembes ke rongga perut dan dada. Gejalanya meliputi mual hebat, muntah, sesak napas, dan penambahan berat badan yang sangat cepat (lebih dari 5 kilogram dalam beberapa hari).
Kasus OHSS yang parah memerlukan perawatan rumah sakit karena dapat menyebabkan gagal ginjal atau pembekuan darah.
2. Komplikasi Prosedur Pengambilan
Meskipun jarang, penggunaan jarum untuk mengambil sel telur berisiko menyebabkan perdarahan internal, infeksi pada ovarium atau jaringan sekitarnya, serta kerusakan pada kandung kemih atau usus.
3. Risiko Emosional dan Psikologis
Proses ini sangat membebani secara mental. Ketidakpastian mengenai berapa banyak sel telur yang bisa diambil, serta tekanan selama menjalani suntikan hormon, dapat memicu kecemasan dan stres. Selain itu, ada risiko “harapan palsu”; membekukan sel telur tidak menjamin kelahiran bayi 100%.
4. Risiko Keguguran di Masa Depan
Banyak wanita yang menganggap egg freezing adalah jaminan kesuburan. Namun, risiko keguguran saat sel telur ini digunakan di masa depan tetap ada. Risiko ini lebih banyak berkaitan dengan usia wanita saat sel telur itu ditanamkan kembali (melalui prosedur IVF) dan kondisi kesehatan rahim saat itu.
Baca juga: Teknik Pijat pada Bayi
Peluang Keberhasilan dan Masa Penyimpanan
Peluang keberhasilan prosedur ini sangat bervariasi, berkisar antara 30 hingga 60 persen. Faktor penentu utamanya adalah usia saat pembekuan. Sel telur yang dibekukan pada usia 25 tahun memiliki peluang keberhasilan yang jauh lebih tinggi daripada sel telur yang dibekukan pada usia 38 tahun.
Mengenai masa penyimpanan, secara teori sel telur yang dibekukan dengan vitrifikasi dapat disimpan dalam waktu yang sangat lama (bisa lebih dari 10 tahun). Namun, setiap negara memiliki regulasi berbeda.
Di beberapa tempat, masa penyimpanan standar awal biasanya sekitar 4-5 tahun sebelum akhirnya diperpanjang. Penting juga untuk diingat bahwa kehamilan di usia lanjut (di atas 45 tahun) membawa risiko komplikasi kehamilan yang lebih tinggi bagi ibu, seperti diabetes gestasional dan preeklampsia.
Kesimpulan
Egg freezing adalah terobosan medis yang memberikan otonomi luar biasa bagi wanita atas masa depan reproduksi mereka. Namun, ini bukanlah jalan pintas yang bebas risiko. Persiapan fisik melalui hormon, biaya yang tidak sedikit, serta potensi risiko seperti OHSS harus dipertimbangkan dengan matang.
Jika Anda mempertimbangkan prosedur ini, konsultasikanlah dengan spesialis fertilitas untuk memahami profil kesehatan reproduksi Anda secara menyeluruh.
Penulis: Erlinda Lutfitasari
Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Maju
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Apakah egg freezing menjamin saya pasti bisa hamil di masa depan?
Tidak. Egg freezing hanyalah upaya untuk meningkatkan peluang. Keberhasilan akhir bergantung pada kualitas sel telur setelah dicairkan, proses pembuahan (IVF), dan kemampuan rahim untuk menerima embrio.
2. Berapa usia terbaik untuk melakukan pembekuan sel telur?
Secara medis, hasil terbaik didapatkan jika wanita membekukan sel telurnya pada usia di bawah 35 tahun, idealnya pada akhir usia 20-an atau awal 30-an ketika jumlah dan kualitas sel telur masih tinggi.
3. Berapa biaya rata-rata prosedur egg freezing di Indonesia?
Biaya bervariasi tergantung rumah sakit, namun umumnya berkisar antara Rp40 juta hingga Rp80 juta untuk satu siklus pengambilan, belum termasuk biaya penyimpanan tahunan yang berkisar Rp3 juta – Rp6 juta.
4. Apakah prosedur pengambilan sel telur terasa sakit?
Karena dilakukan dengan sedasi atau bius ringan, Anda tidak akan merasakan sakit saat prosedur berlangsung. Namun, rasa kram dan tidak nyaman di area perut mungkin dirasakan selama beberapa hari setelahnya.
5. Apa perbedaan antara pembekuan sel telur (Egg Freezing) dan pembekuan embrio?
Egg freezing membekukan sel telur yang belum dibuahi (cocok untuk wanita lajang). Pembekuan embrio membekukan sel telur yang sudah dibuahi oleh sperma (cocok untuk pasangan suami istri).
6. Apakah suntikan hormon untuk egg freezing bisa menyebabkan kanker?
Hingga saat ini, belum ada bukti penelitian yang kuat dan konsisten yang menyatakan bahwa stimulasi hormon untuk prosedur fertilitas meningkatkan risiko kanker ovarium atau kanker payudara secara signifikan.
7. Berapa banyak sel telur yang harus saya bekukan agar aman?
Kebanyakan dokter menyarankan untuk mengumpulkan sekitar 15-20 sel telur untuk memberikan peluang kelahiran hidup yang cukup baik (sekitar 70-80% peluang), tergantung usia saat pengambilan.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












