Kenangan yang Didigitalisasi: Ketika Persahabatan Jadi Konten Estetik

Digitalisasi
Digitalisasi (Sumber: Media Sosial dari freepik.com)

Main dulu yuk sebelum jadi slideshow pertemanan.

Kalimat ini sering seliweran di media sosial. Sederhana, tapi ngena banget. Kita hidup di masa ketika dokumentasi pertemanan nggak lagi sebatas coretan di belakang foto polaroid atau stiker di binder, tapi sudah menjelma jadi video TikTok berlatar lagu mellow, berisi momen-momen candid, ngeblur, dan healing vibes.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Fenomena ini adalah bentuk baru dokumentasi digital yang mengangkat nilai nostalgia ke level yang jauh lebih personal, sekaligus publik.

Menurut Kusumawardani dan Hanggoro (2018), media sosial kini tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga alat dokumentasi yang praktis. Dalam praktiknya, banyak pengguna terutama Gen Z yang mengarsipkan kenangan pertemanan mereka melalui konten visual yang dikurasi sedemikian rupa agar tampil estetik. Mulai dari kumpulan foto jajan bareng, naik motor bareng, sampai video diam-diam yang diambil pas temen lagi ketiduran.

 

Apakah ini salah? Tidak. Tapi ada yang menarik.

Di satu sisi, dokumentasi ini memberi ruang baru untuk menunjukkan apresiasi terhadap hubungan pertemanan. Tapi di sisi lain, ada semacam dorongan tak tertulis untuk menjadikan semua hal sebagai konten. Persahabatan yang dulunya murni soal waktu berkualitas, kini bisa terjebak dalam narasi: “Kalau nggak diposting, berarti nggak seru.”

Estetika dokumentasi digital telah mengubah cara kita mengenang.

Alih-alih menyimpan momen hanya untuk diri sendiri, kita terdorong untuk membagikannya ke publik dengan background lagu yang relate dan caption yang menyentuh. Akibatnya, memori menjadi “terkurasi”. Kita memilih momen mana yang layak ditampilkan, mana yang enggak. Padahal, kadang momen paling tulus justru yang tidak terekam.

Baca juga: Meningkatkan Media Awareness: Kunci Menghadapi Tantangan Informasi di Indonesia

Pertanyaannya sekarang: apakah kita membuat dokumentasi untuk dikenang atau untuk ditonton?

Bukan berarti semua dokumentasi digital pertemanan itu buruk. Justru di tengah dunia yang serba cepat, dokumentasi seperti ini bisa jadi pengingat yang menyenangkan. Tapi penting juga untuk memberi ruang bagi kenangan yang tidak  perlu selalu jadi konten. Teman bukan aktor. Persahabatan bukan sinetron.

Dokumentasi digital pertemanan seharusnya menjadi cara kita merawat ikatan, bukan mengejar validasi. Momen yang terekam dengan hati lebih penting dari resolusi tinggi. Karena pada akhirnya, yang bikin kita rindu bukan transisi aesthetic, tapi suara tawa asli dan obrolan ngawur yang kita alami bareng.

 

Penulis: Wanda Nadriah Fajrianti Rabbah

 

Referensi:

Kusumawardani, Gayatri, et al. (2018). “Media Sosial Sebagai Alternatif Penyimpanan Arsip Digital Pribadi.” Jurnal Kearsipan, (2).

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses