Abstrak
Ketergantungan mahasiswa terhadap perangkat digital pascapandemi semakin meningkatkan durasi aktivitas sedentari, seperti duduk dan berbaring dalam waktu lama di depan layar. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana mahasiswa non-olahraga memaknai gaya hidup sedentari dan dampaknya terhadap kesehatan fisik dan mental melalui pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA).
Hasil menunjukkan bahwa aktivitas layar dipersepsikan sebagai kenyamanan dan strategi koping, namun memicu gejala psikologis dan risiko kesehatan jangka panjang. Temuan ini menekankan perlunya intervensi holistik berbasis kampus untuk mendorong mahasiswa hidup lebih aktif.
Kata Kunci: gaya hidup sedentari, mahasiswa, digital
Pendahuluan
Di era digital saat ini, laptop dan smartphone menjadi media utama mahasiswa dalam menjalankan kegiatan akademik maupun hiburan. Pola tersebut mendorong meningkatnya perilaku sedentari atau minim gerak. Durasi duduk yang berlebihan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kronis dan gangguan psikologis pada berbagai populasi mahasiswa.
Oleh karena itu, penting untuk memahami makna subjektif aktivitas sedentari di kalangan mahasiswa non-olahraga dan implikasinya terhadap kesejahteraan mereka.
Baca juga: Ketergantungan pada Teknologi Digital: Membantu atau Membahayakan?
Penelitian ini menganalisis pengalaman mahasiswa non-olahraga dalam konteks gaya hidup sedentari pascapandemi, dengan berfokus pada persepsi, konsekuensi, dan faktor yang mempertahankan perilaku tersebut. Hasil Penelitian analisis menghasilkan empat tema utama:
(1) layar sebagai kenyamanan dan koping terhadap beban kuliah, (2) tuntutan akademik digital memperpanjang durasi sedentari, (3) munculnya stres, kecemasan, dan gangguan tidur akibat paparan layar berkepanjangan, dan (4) hambatan perubahan berupa rendahnya motivasi, minim dukungan sosial, serta lingkungan fisik yang tidak mendukung.
Mahasiswa cenderung menghabiskan lebih dari delapan jam per hari dengan aktivitas pasif berbasis layar. Kondisi ini dianggap normal dalam kehidupan kampus sehingga sulit diubah meskipun risiko kesehatan disadari.
Pembahasan
1. Mengapa mahasiswa non-olahraga cenderung sulit terlepas dari layar dan kurang bergerak?
Layar berfungsi sebagai pelarian emosional dari tekanan kuliah, memberikan rasa nyaman dan hiburan cepat. Sistem perkuliahan berbasis digital pun memperkuat kebiasaan tersebut. Kombinasi faktor psikologis, akademik, dan sosial membentuk siklus pasivitas yang terus berulang.
2. Apa dampak negatif utama dari gaya hidup sedentari terhadap mahasiswa?
Dampak yang muncul tidak hanya fisik seperti risiko penyakit metabolik dan gangguan peredaran darah, tetapi juga mental. Mahasiswa melaporkan meningkatnya stres, kecemasan, dan terganggunya kualitas tidur sebagai akibat dari penggunaan layar berlebih. Penurunan aktivitas fisik juga dapat memengaruhi regulasi emosi dan motivasi akademik.
3. Apa strategi yang dapat dilakukan untuk memutus kebiasaan minim gerak?
Perubahan harus dilakukan secara bertahap melalui dukungan lingkungan kampus, seperti penyediaan fasilitas olahraga yang mudah diakses, program dukungan sebaya, serta integrasi aktivitas fisik ringan dalam rutinitas perkuliahan.
Pada level individu, mahasiswa dapat menerapkan istirahat aktif setiap 30–60 menit, membatasi waktu layar non-akademik, dan meningkatkan interaksi sosial langsung.
Simpulan
Dominasi layar memberi kenyamanan sesaat, tetapi berdampak signifikan terhadap kesehatan jangka panjang mahasiswa. Diperlukan pendekatan intervensi yang tidak hanya menekankan edukasi fisik, tetapi juga memperhatikan aspek emosional dan sosial yang membentuk perilaku mahasiswa.
Lingkungan kampus berperan penting dalam mendorong perubahan gaya hidup lebih aktif demi menjaga kesejahteraan mahasiswa secara berkelanjutan.
Penulis: Wafa Ruan Fauqiyah
Mahasiswa Dirasat Islamiyah, UIN Jakarta
Dosen Pengampu: Dr. Elvi Susianti, M.Pd.
Referensi
Bramansyah, Muhamad Nur, Wulandari Putri, and Wildan Alfia Nugroho. Sedentary Lifestyle and Mental Health: A Phenomenological Study of Non-Sports College Students. Elementary School Teacher Education Physical Education, Faculty of Sport and Health Education, University of Education Indonesia, n.d.
Jiang, L., Cao, Y., Ni, X., Chen, J., Shen, P., Lv, H., and X. Hu. 2020. “Association of Sedentary Behavior with Anxiety, Depression, and Suicide Ideation in College Students.” Journal of Affective Disorders 0.
Kandola, A. A., del Pozo Cruz, B., Osborn, D. P. J., Stubbs, B., Choi, K. W., and J. F. Hayes. 2021. “Impact of Replacing Sedentary Behaviour With Other Movement Behaviours on Depression and Anxiety Symptoms.” BMC Medicine 19:133.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












