Medan Pertempuran Informasi dalam Perang Israel-Hamas Tahun 2023

Transformasi Perang Digital
Foto: Magzter/The Philippine Star

Transformasi Perang di Era Digital

Saat ini perang tidak lagi dilakukan menggunakan konfrontasi militer secara langsung melalui pertempuran fisik.

Perkembangan zaman membuat digitalisasi mengubah konflik menjadi pertarungan yang komplek atas informasi, narasi, dan juga opini publik global.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Perang yang terjadi di Israel dan Hamas di Gaza Strip memperlihatkan bahwa konflik saat ini semakin melibatkan pertempuran paralel di ranah informasi.

Tidak hanya itu, para aktor politik juga berusaha untuk mempengaruhi publik lewat narasi digital untuk mempengaruhi legitimasi internasional, respons diplomatik, dan persepsi publik di ranah global.

Eskalasi Konflik dan Awal Perang Informasi

Terjadinya serangan pada 7 Oktober 2023 membuat konflik yang terjadi di Gaza sebagai salah satu krisis geopolitik yang sering dibicarakan selama beberapa tahun terakhir.

Konflik ini ternyata dengan cepat berkembang sehingga menimbulkan banyak analis yang menjadi awal terbentuknya perang informasi. Sejumlah informasi yang disampaikan melalui media internasional.

Saluran diplomatik, dan platform digital berupaya untuk saling menyoroti konflik tersebut untuk dapat membuka simpati global dan mencari dukungan politik.

Baca Juga: Bagaimana AI Bikin Ketegangan Iran-Israel Makin Memanas?

Krisis Kemanusiaan di Gaza

Perang ini menyebabkan tekanan dan kekerasan sehingga dampak kemanusiaan ini telah menarik perhatian internasional.

Berdasarkan laporan dari United Nations and UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs, konflik ini menimbulkan krisis kemanusiaan yang serius di Gaza.

Pada bulan oktober 2023 sampai pertengahan 2025 kemarin sudah ada 54.000 warga Palestina yang dinyatakan teman dan ada lebih dari 125.000 warga palestina yang mengalami luka.

Tidak hanya itu terdapat 1,9 juta warga sipil ikut terdampak sehingga mereka diharuskan untuk mengungsi karena banyak bangunan dan rumah warga ikut hancur oleh peristiwa ini.

Jumlah korban yang terdampak ini menunjukkan parahnya krisis dan konflik yang terjadi di Gaza, hal ini yang menjadi alasan konflik tersebut menjadi perhatian media global.

Peran Media dalam Membentuk Opini Publik

Media mempunyai peran yang kuat dalam menentukan konflik mana yang dapat menjadi sorotan dan perhatian publik yang lebih besar.

Dalam konflik ini, media seringkali menyoroti peristiwa seperti korban sipil, situasi penyanderaan, dan pembatasan bantuan kemanusiaan.

Penyebaran informasi ini dapat membentuk cara audiens global untuk dapat memahami konflik yang terjadi.

Oleh sebab itu, saat ini informasi digital memainkan peran penting dalam mempengaruhi pandangan publik internasional. 

Baca Juga: Propaganda dibalik gerakan Global Sumud Flotilla: Mengapa Israel Tak Pernah Percaya pada Gerakan Kemanusiaan Itu?

Propaganda dan Misinformasi di Era Media Digital

Penyebaran digital yang semakin kuat dapat membantu meningkatkan kesadaran global terhadap penderitaan kemanusiaan sehingga peristiwa juga dapat membuat persepsi baru akibat adanya misinformasi dan propaganda.

Penggunaan propaganda secara strategi menjadi salah satu dimensi penting dalam konflik ini.

Tidak heran jika aktor-aktor internasional dan organisasi politik berupaya untuk membentuk narasi publik yang dapat mendukung tujuan politiknya.

Narasi persuasif, laporan selektif, dan citra emosional seringkali digunakan untuk memobilisasi dukungan internasional dan memperkuat legitimasi politik.

Polarisasi Opini Publik Global

Perang yang terjadi di Gaza ini melihat bahwa media digunakan sebagai sebuah strategi komunikasi untuk melihat konflik melalui pandangan yang berbeda baik dengan menekan ancaman, keamanan maupun penderitaan kemanusiaan tergantung pada tujuan politik yang ingin dicapai.

Perang informasi digital menjadi polarisasi opini publik global. Algoritma media sosial juga memperkuat perbedaan penampilan konten yang muncul sesuai dengan keyakinan pengguna.

Hal ini mengakibatkan individu dapat terjebak dalam echo chamber yaitu lingkungan informasi mereka jarang terpapar sudut pandang yang berbeda.

Baca Juga: Indonesia, Non-Blok, dan Dilema Konstitusional atas Perang Israel–Iran

Narasi sebagai Kekuatan dalam Politik Internasional

Dalam perspektif hubungan internasional secara luas bahwa pertempuran informasi digital yang terjadi dalam konflik Gaza ini memperlihatkan bahwa kekuatan politik global semakin berkaitan dengan kemampuan dalam membentuk narasi.

Di era digital saat ini, legitimasi tidak hanya ditentukan melalui keberhasilan militer tetapi juga dilihat dari bagaimana peristiwa tersebut dapat dipahami dan dikomunikasikan kepada audiens global.

Pemerintah perlu menyadari bahwa dukungan internasional, bantuan kemanusiaan, dan juga tekanan diplomatik dapat mempengaruhi pemberitaan media dan juga opini publik.

Perang yang terjadi antara Israel dan Hamas ini memperlihatkan bahwa konflik saat ini tidak lagi dilakukan secara langsung melalui fisik tetapi konflik dapat berlangsung di arena informasi digital.

Operasi militer masih digunakan dalam membentuk kontrol wilayah, tetapi perlu diingat bahwa narasi dan arus informasi memainkan peran penting dalam membentuk pemahaman global terhadap konflik serta mempengaruhi respons politik internasional.

Seiring berjalan waktu semakin berkembangnya komunikasi digital, kemampuan untuk menilai secara kritis narasi media akan semakin penting digunakan untuk para pembuat kebijakan, akademisi, dan masyarakat global untuk melihat dan menganalisis konflik yang sedang terjadi.

Baca Juga: Konflik Politik Venezuela Memuncak Pasca Operasi AS, Pertarungan Narasi kian Menguat

Konflik yang terjadi antara Israel dan Hamas ini menunjukkan bahwa konflik tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kekuatan militer tetapi juga dipengaruhi oleh kemampuan aktor politik dalam membentuk, menyebarkan, dan mengendalikan narasi ruang informasi global.

Media digital saat ini memainkan peran penting dalam menentukan bagaimana konflik dapat dipahami masyarakat internasional sehingga dapat menjadi pembentuk opini publik dan menjadi bagian integral dari strategi politik dan juga diplomasi.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa agenda media, propaganda, dan penyebaran informasi melalui platform digital dapat mempengaruhi legitimasi politik, dukungan internasional, dan respons diplomatik terhadap suatu konflik.

Di sisi lain, arus informasi yang cepat ini dapat meningkatkan risiko misinformasi dan polarisasi opini publik terutama ketika masyarakat terjebak dalam lingkungan informasi yang terbatas atau echo chamber.

Hal tersebut menunjukkan bahwa perang informasi dapat memperkuat perbedaan pandangan global.

Konflik yang terjadi di Gaza menjadi contoh nyata bahwa peperangan modern dapat terjadi secara langsung dan juga melalui arena informasi digital.

Baca Juga: Ketika Gaza Menjadi Medan Perang Narasi: Media Sosial dan Propaganda Kontemporer dalam Konflik Geopolitik

Jika operasi militer dapat menentukan dinamika kekuatan di lapangan maka narasi dan pemberitaan media dapat menjadi peran besar untuk membentuk persepsi global serta arah respons politik internasional.

Oleh karena itu, di tengah perkembangan teknologi saat ini, kemampuan untuk menganalisis informasi secara kritis, dan pemahaman mengenai strategi propaganda menjadi bagian penting bagi masyarakat internasional dapat menilai dinamika konflik global secara komprehensif. 


Penulis: Restya Meisa Putri
Mahasiswa Prodi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Reference

Ahmet Alioglu, A. (2025). Digital occupation: Pixelated propaganda, censored platforms and the battle for narrative in Gaza. Al Jazeera Centre for Studies. http://studies.aljazeera.net/en/analyses/digital-occupation-pixelated-propaganda-censored-platforms-and-battle-narrative-gaza

United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs. (2025). Humanitarian situation update#294: Gaza Strip. https://www.ochaopt.org/content/humanitarian-situation-update-294-gaza-strip

United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East. (2025). UNRWA situation report #187 on the humanitarian crisis in the Gaza Strip and the occupied West Bank, including East Jerusalem. https://www.un.org/unispal/document/unrwa-situation-report-187-05sep25/

Wirtschafter, V., & Dews, F. (2023). Parsing disinformation in the Israel-Hamas conflict. Brooking Institution. https://www.brookings.edu/articles/parsing-disinformation-in-the-israel-hamas-conflict/ 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses