Pada 7 Oktober 2023, sebelum bom pertama jatuh di Gaza, perang lain sudah lebih dulu dimulai perang narasi. Dalam hitungan jam setelah serangan Hamas, linimasa media sosial global dibanjiri video, foto, dan klaim yang saling bertentangan.
Konten yang menampilkan korban warga sipil Palestina menyebar deras di TikTok dan Instagram, sementara akun-akun pro-Israel membanjiri Twitter/X dengan framing “hak Israel untuk membela diri.”
Konflik Gaza bukan hanya perang fisik ia adalah studi kasus paling telanjang tentang bagaimana media sosial telah berubah menjadi medan perang propaganda kontemporer.
Propaganda bukan hal baru dalam konflik internasional. Lasswell (1938) mendefinisikannya sebagai teknik mempengaruhi tindakan manusia melalui manipulasi representasi. Yang berubah drastis hari ini adalah kecepatannya.
Di masa lalu, negara membutuhkan siaran radio dan surat kabar untuk menyebarkan narasi; kini, sebuah video berdurasi 30 detik mampu menjangkau jutaan penonton lintas benua hanya dalam hitungan menit.
Sebuah analisis yang diterbitkan dalam Journal of Communication menemukan bahwa hanya dalam beberapa hari sejak pecahnya konflik Oktober 2023, sebuah video disinformasi yang secara keliru mengklaim menampilkan serangan udara Israel di Gaza telah ditonton lebih dari 300.000 kali padahal rekaman tersebut nyatanya berasal dari serangan Rusia di Ukraina pada Maret 2023.
Yang menjadikan kasus Gaza begitu mengungkap adalah bagaimana kedua belah pihak beserta pendukung mereka di seluruh dunia menggunakan teknik propaganda klasik yang dikemas ulang untuk format digital.
Shabo (2008) mengidentifikasi sejumlah teknik propaganda yang paling umum digunakan, dan semuanya tampak hadir dalam perang narasi Gaza. Teknik appeal to fear dimanifestasikan melalui penyebaran ulang rekaman kerusakan yang seringkali telah dilucuti dari konteks yang benar.
Testimonial hadir dalam bentuk dukungan para selebriti dan tokoh publik yang masing-masing memiliki jutaan pengikut. Sementara itu, teknik transfer yakni pelekatan simbol dan konotasi tertentu pada suatu kelompok tampak jelas dalam perdebatan sengit di ruang digital mengenai apakah harus menggunakan kata “teroris” ataukah “pejuang kemerdekaan.” Perangkat lama, platform baru.
Namun ada dimensi yang jauh lebih mengkhawatirkan: peran algoritma. Platform seperti Instagram dan TikTok tidak dirancang untuk menyajikan kebenaran melainkan untuk memaksimalkan engagement. Konten yang memicu emosi kuat, baik kemarahan, kesedihan, maupun kengerian, secara otomatis mendapat amplifikasi lebih luas.
Dalam konteks Gaza, hal ini menciptakan ekosistem di mana informasi yang paling sensasional dan provokatif justru menyebar paling cepat, terlepas dari akurasi atau konteksnya.
Baca Juga: Globalisasi dan Harapan Menghadapi Perubahan Global: Analisis terhadap Isu Genosida di Gaza
Teori agenda-setting yang dirumuskan McCombs dan Shaw pada 1972 kini beroperasi pada kecepatan cahaya, dan agensinya bukan lagi editor surat kabar melainkan baris-baris kode komputer (Umoh & Aba, 2024).
Dinamika ini semakin diperparah oleh laporan IEMed (2024) yang berargumen bahwa konflik Gaza telah melahirkan konsep baru: ‘infocide’ penghapusan fakta-fakta objektif secara sistematis melalui perang informasi digital.
Tak kalah signifikan adalah fenomena Pallywood narasi yang menuduh Palestina memalsukan penderitaan mereka demi kepentingan propaganda.
Jones (2025) dalam Third World Quarterly mencatat bahwa ketika jumlah korban jiwa Palestina semakin sulit untuk disembunyikan, akun-akun pro-Israel secara aktif menyebarkan klaim bahwa angka-angka tersebut adalah rekayasa.
Narasi semacam ini berfungsi ganda: melemahkan kredibilitas liputan pro-Palestina sekaligus mengalihkan perhatian publik dari realitas yang dapat diverifikasi di lapangan.
Indonesia, yang menempati peringkat keempat dunia dalam penggunaan media sosial dengan 167 juta pengguna aktif (DataReportal, 2023), berada di posisi yang sekaligus sangat rentan sekaligus strategis dalam perang informasi ini.
Solidaritas yang tulus bercampur dengan disinformasi yang disengaja foto-foto dari konflik lain yang dikaitkan secara keliru dengan Gaza, video yang diedit ulang dengan narasi yang sama sekali berbeda dari konteks aslinya.
Sebuah laporan dari Arab Center Washington DC (Kharroub, 2023) memperingatkan bahwa disinformasi dan ujaran kebencian terkait Gaza di media sosial telah mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan sekitar 20 persen akun yang terlibat dalam percakapan daring tentang Gaza teridentifikasi sebagai akun palsu yang beroperasi terutama di X dan TikTok.
Masyarakat Indonesia, sebagaimana masyarakat global pada umumnya, tengah mengarungi lautan propaganda tanpa selalu memiliki bekal literasi digital yang memadai untuk membedakan fakta dari fabrikasi.
Hal ini bukan berarti bahwa seluruh konten pro-Palestina di media sosial merupakan propaganda. Terdapat pula jurnalisme warga yang otentik, kesaksian langsung dari jurnalis yang beroperasi dalam kondisi berbahaya, serta dokumentasi sahih atas pelanggaran hak asasi manusia.
Permasalahannya terletak pada ketidakmampuan rata-rata pengguna media sosial untuk secara konsisten membedakan keduanya sebuah kerentanan yang secara sengaja dieksploitasi oleh aktor-aktor berkepentingan di kedua sisi konflik (Jowett & O’Donnell, 2012).
Gaza telah mengajarkan kita bahwa di era digital, tidak ada lagi penonton yang benar-benar netral. Setiap kali kita membagikan sebuah konten, kita menjadi peserta dalam perang narasi itu.
Pertanyaannya bukan lagi apakah propaganda itu ada melainkan apakah kita bersedia berpikir kritis sebelum menjadi pion tanpa sadar dalam permainan catur geopolitik orang lain.
Literasi digital bukan sekadar kecakapan teknis; ia adalah garis pertahanan terakhir bagi kedaulatan intelektual kita di tengah arus perang informasi yang tak pernah berhenti.
Penulis: Nasywa Dzakirah 07041182328025
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Referensi
DataReportal. (2023). Digital 2023: Indonesia. We Are Social & Meltwater.
Hameleers, M., Lecheler, S., & Weikmann, T. (2025). Visual nature of information warfare: The construction of partisan claims on truth and evidence in the context of wars in Ukraine and Israel/Palestine. Journal of Communication, 75(2), 90–103.
IEMed. (2024). Gaza infocide: Disinformation and new narrative wars. Institut Europeu de la Mediterrània. https://www.iemed.org/publication/gaza-infocide-disinformation-and-new-narratives-wars/
Jones, M. O. (2025). Information warfare and the Pallywood narrative in the Gaza conflict. Third World Quarterly.
Jowett, G. S., & O’Donnell, V. (2012). Propaganda and persuasion (5th ed.). SAGE Publications.
Kharroub, T. (2023, October 13). Disinformation and hate speech on social media contribute to inciting war crimes against Gaza. Arab Center Washington DC. https://arabcenterdc.org/resource/disinformation-and-hate-speech-on-social-media-contribute-to-inciting-war-crimes-against-gaza/
Lasswell, H. D. (1938). Propaganda technique in the World War. Peter Smith.
McCombs, M. E., & Shaw, D. L. (1972). The agenda-setting function of mass media. Public Opinion Quarterly, 36(2), 176–187.
Shabo, M. E. (2008). Techniques of propaganda and persuasion. Prestwick House.
Umoh, F. E., & Aba, C. (2024). The role of social media in shaping narratives and perceptions in the Israeli-Gaza conflict that escalated on October 2023. International Journal of Academic Multidisciplinary Research, 8(4), 74–82.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













