Membaca Dunia lewat Mata Sastra

Makna sastra
Ilustrasi Rak Buku (Foto: Dok. MMI)

Apakah kamu pernah berpikir untuk bertanya, “Apa yang membuat sebuah novel begitu berpengaruh terhadap diri kita?”.

Selama ini, saya selalu menganggap bahwa kegiatan membaca karya sastra, seperti novel atau cerpen, hanya sebagai sarana hiburan yang biasa dinikmati di sela-sela kesibukan kuliah atau sebelum menutup mata untuk tidur.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun, ketika saya mempelajari mata kuliah Teori Sastra, anggapan itu mulai bergeser. Saya mulai menyadari bahwa setiap karya sastra, seperti novel, memiliki dasar pemikiran, struktur, dan elemen yang saling berhubungan sehingga membentuk makna yang utuh.

Ada pengalaman pribadi yang menjadi kunci. Saat saya harus menganalisis sebuah novel berjudul Di Tanah Lada dengan teori sastra konteks psikologis saat UTS kemarin, membuat saya merasa seakan-akan membuka sebuah pintu terhadap pengalaman yang belum pernah saya alami sebelumnya.

Saya menjadi sadar bahwa sastra itu bukan hanya sekadar teks, tetapi sastra adalah ekspresi batin, pengalaman sosial, dan cermin dari realitas kehidupan manusia yang sesungguhnya.

Refleksi yang saya tulis di tiga halaman penuh ini adalah ringkasan dari apa yang saya pelajari sebagai mahasiswa semester pertama di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang mempelajari mata kuliah Teori Sastra selama hampir lima bulan, mulai dari teori sastra konteks struktural hingga yang terakhir, teori sastra interdisipliner.

Sebuah perjalanan yang secara bertahap mengubah cara melihat saya terhadap suatu karya sastra.

Dari seluruh teori-teori pendekatan yang saya pelajari, yang paling berkesan bagi saya sendiri adalah teori psikologis.

Teori ini mengajarkan saya bahwa tokoh atau karakter sebuah karya sastra yang saya baca bukan hanya sekadar tokoh fiksi saja, melainkan individu dengan latar belakang emosional, pengalaman traumatis di masa kecil, dan cara mereka untuk bertahan hidup yang sangat kompleks.

Saya menyadari hal ini saat saya membaca dua karya sastra berbentuk novel, yang satu dari penulis Indonesia yaitu novel berjudul Di Tanah Lada, dan satu lagi dari penulis negara matahari terbit yaitu novel berjudul Gagal Menjadi Manusia atau No Longer Human.

Dalam novel Di Tanah Lada, saya melihat dunia melalui perspektif anak berumur enam tahun yang bernama Salva, yang mengajarkan saya tentang rapuhnya seorang manusia dalam lingkungan dengan penuh kekerasan dan lika liku.

Sementara di novel Gagal Menjadi Manusia, saya melihat kehidupan dari perspektif yang lebih gelap lagi.

Kisah tentang seorang tokoh bernama Yozo, seseorang yang terus merasa “asing” dari masyarakat sekitarnya.

Teori sastra dengan konteks psikologis terasa paling sesuai dengan kebiasaan saya yaitu membaca buku bergenre fiksi psikologi.

Saya cenderung tertarik pada cerita-cerita yang menelusuri emosi, trauma, dan konflik batin seorang tokoh. Dengan teori ini, rasanya ketertarikan saya mendapatkan fondasi yang kokoh.

Teori psikologis terutama konsep Sigmund Freud mengenai id, ego, dan superego menjadi yang paling berpengaruh dalam cara saya menafsirkan suatu karya sastra, khususnya novel.

Konsep ini memberikan saya gambaran yang jelas untuk memahami konflik batin para tokoh.

Gambaran yang jelas ini sangat terasa saat saya menganalisis novel Di Tanah Lada untuk UTS kemarin, dan saat saya membaca novel Gagal Menjadi Manusia.

Dua karya dengan latar yang berbeda ini saling melengkapi pemahaman saya tentang konflik psikologis para tokoh di dua novel itu.

Dengan pendekatan id-ego-superego, Di Tanah Lada menurut saya menggambarkan bagaimana seorang anak kecil bernama Salva yang berusaha menjalani hidupnya di bawah bayang-bayang seorang ayah yang sering melakukan KDRT.

Dorongan id Salva berusaha untuk melarikan diri dari situasi yang menakutkan, sementara ego Salva berjuang keras untuk menemukan cara-cara yang realistis agar ia bisa bertahan hidup.

Di sisi lain, superego mendorongnya untuk tetap menjadi “anak yang tidak merepotkan,” meskipun ia sendiri sangat terluka akibat semua kejadian yang menimpa dirinya.

Ketika saya membaca novel Gagal Menjadi Manusia, konsep yang sama malah menampilkan sisi yang lebih gelap.

Seorang tokoh bernama Yozo hidup dengan id yang penuh ketakutan sosial yang mendalam serta dorongan ekstrem untuk bunuh diri.

Ego Yozo tidak stabil, ia gagal menemukan cara yang realistis untuk beradaptasi dengan dunia yang terasa “asing” baginya.

Dan sebagai akibatnya, superego yang seharusnya berfungsi sebagai pemandu malah berubah menjadi sumber tekanan.

Desakan untuk menjadi “manusia normal” membuat Yozo semakin merasa gagal menjadi manusia.

Dalam satu semester mempelajari Teori Sastra ini, saya menyadari bahwa teori-teori yang awalnya terasa sangat kompleks saat saya membaca RPS ini ternyata menjadi lebih mudah dicerna ketika dipadukan dengan pengalaman kuliah Teori Sastra setiap hari Selasa, seperti diskusi kelas, presentasi kelompok, dan proyek.

Setiap aktivitas kelas membantu saya melihat bagaimana teori-teori tersebut berfungsi saat membaca atau menafsirkan sebuah karya sastra, bukan hanya sebagai deskripsi yang abstrak.

Melalui diskusi kelas terakhir tentang teori interdisipliner, saya menyadari bahwa sebuah karya sastra tidak dapat dianalisis hanya berdasarkan teks itu sendiri.

Banyak hal di luar teks yang juga berkontribusi terhadap makna sebuah karya. Diskusi tersebut juga menegaskan bahwa menganalisis, menikmati, dan menginterpretasi karya sastra tidak mungkin dilakukan melalui satu disiplin ilmu saja.

Mengingat bahwa sastra berasal dari berbagai aspek, karya sastra pun perlu dipelajari dari berbagai disiplin ilmu yang saling melengkapi satu sama lain.

Teori ini juga membuat saya menyadari bahwa makna dalam sebuah karya sastra itu tidak tunggal, dan setiap disiplin ilmu memberikan perspektif baru yang memperkaya pemahaman saya.

Kesadaran tersebut semakin kuat saat kelompok saya melakukan presentasi tentang konteks sosiologis dan kami membuat cerita Robohnya Surau Kami sebagai contoh di akhir.

Saat mempersiapkan materi, saya benar-benar menyadari bahwa suatu karya tidak lahir di ruang kosong.

Cerita itu bukan hanya tentang tokoh-tokohnya, tetapi juga tentang kondisi sosial yang menjadi latar belakangnya, bagaimana kemiskinan dan ketidakadilan di masyarakat menciptakan sebuah konflik dalam cerita.

Dari situ, saya merasakan bahwa pendekatan sosiologis mengungkap hal-hal yang sebelumnya tidak saya ketahui ketika hanya dengan membaca sebuah teksnya saja.

Kesadaran itu juga sangat membantu saya mengerjakan UTS, yang berfokus pada teori psikologis dalam novel Di Tanah Lada.

Dalam tugas tersebut, saya berusaha melihat tokoh-tokohnya bukan hanya sebagai tokoh fiksi saja, tetapi sebagai individu yang mengalami ketidakberdayaan dan ketakutan terhadap kehidupan yang akan terjadi.

Pengalaman presentasi mengenai konteks sosiologis dan mengerjakan analisis psikologis membuat saya semakin menyadari bahwa setiap teori itu memberikan cara pandang yang berbeda terhadap sebuah karya, tetapi pada saat yang sama justru saling melengkapi.

Melalui dua pengalaman itu, saya mulai merasakan bahwa teori sastra bukanlah hal yang berdiri sendiri, tetapi sebuah alat untuk memahami sisi manusia, masyarakat, dan realita kehidupan yang tersembunyi di balik teks.

Dan setelah merasakan langsung bagaimana teori-teori ini berfungsi, saya merasa pemahaman saya terhadap sastra semakin luas dan lebih berarti.

Untuk memahami perubahan cara pandang saya saat mempelajari Teori Sastra, saya memulai dari konsep dasarnya terlebih dahulu.

Teori Sastra mempelajari prinsip-prinsip yang membedakan teks sastra dari teks yang lainnya, sedangkan kritik sastra berfokus pada penafsiran karya, dan sejarah sastra menelusuri perkembangan apa saja yang sudah terjadi.

Melalui pemikiran dari tokoh-tokoh penting seperti Saussure, Mukarovsky, dan Jakobson, saya mempelajari bahwa setiap karya sastra muncul dengan alasan tertentu, baik itu dihasilkan dari pengalaman pengarang, kondisi sosial, atau konflik batin yang ingin diungkapkan melalui kata-kata.

Selama perkuliahan Teori Sastra, banyak teori yang dibahas mulai dari struktural, filsafat, psikologis, hingga sosiologis yang sampai enam pertemuan.

Teori struktural mengajarkan saya untuk melihat keseluruhan teks, sementara teori filsafat memberikan wawasan tentang pertanyaan kehidupan yang tersembunyi dalam teks, konteks psikologis membuat saya belajar menganalisis karakter dari novel saya baca.

Di sisi lain, sosiologi sastra menunjukkan hubungan kuat antara karya dan realitas sosial. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa semua teori-teori ini saling terkait.

Pendekatan interdisipliner menguatkan pemahaman saya bahwa dalam menganalisis sebuah karya sastra, kita harus menggabungkan beberapa disiplin ilmu.

Sebagai penutup, pengalaman mempelajari Teori Sastra selama satu semester ini memberikan pemahaman bahwa sastra bukan sekadar teks semata, melainkan cermin dari kehidupan rumit manusia.

Setiap teori memberikan cara pandang yang unik. Semua teori-teori itu saat dipelajari secara bersamaan, menciptakan fondasi untuk membaca yang lebih matang dan lebih peka.

Saya juga merasakan bahwa pengalaman ini tidak hanya memperluas wawasan akademis saya, tetapi juga mempengaruhi cara saya memahami diri saya sendiri dan orang lain.

Ke depan, saya berharap Teori Sastra dapat terus diajarkan bukan sekadar sebagai konsep-konsep yang harus dihafal, tetapi sebagai alat untuk membuka wawasan.

Teori sastra juga membantu saya sebagai mahasiswa bahwa setiap karya sastra mengandung suara, pengalaman, dan isu yang patut untuk diketahui.

Saya berharap semakin banyak mahasiswa yang menyadari bahwa teori tidak membuat sastra itu menjadi kaku, melainkan justru membantu kita mengeksplorasi makna yang tersembunyi dari sebuah teks.

Lalu, pesan yang ingin saya sampaikan adalah teori sastra tidaklah menakutkan. Teori sastra berfungsi sebagai jendela untuk melihat karya sastra secara lebih luas.

Dengan memahami teori-teori yang ada, kita dapat belajar memahami kehidupan melalui cerita.

Pada akhirnya, saya meyakini bahwa teori sastra bukan hanya sekadar pengetahuan akademik, melainkan juga modal untuk menjadi manusia yang lebih bijaksana, kritis, dan peka terhadap kehidupan di sekitar kita.

 

Penulis: Nadine Hawra Fitriazzahra (25112074033)
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses