Abstrak
Kesulitan sosial merupakan permasalahan yang sering terjadi dalam kehidupan masyarakat, seperti kemiskinan, kesenjangan sosial, dan rendahnya kepedulian terhadap sesama. Islam sebagai agama yang sempurna memberikan pedoman untuk mengatasi berbagai persoalan sosial melalui ajaran Al-Qur’an dan hadis.
Salah satu hadis yang menjelaskan pentingnya kepedulian sosial adalah hadis riwayat Muslim yang menyebutkan bahwa Allah akan memberikan pertolongan kepada hamba yang menolong saudaranya.
Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan makna hadis tentang menghilangkan kesulitan sosial serta relevansinya dalam kehidupan masyarakat modern. Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan dengan menganalisis hadis dan literatur yang berkaitan.
Hasil kajian menunjukkan bahwa hadis tersebut mengandung nilai empati, solidaritas, tolong-menolong, dan menjaga kehormatan sesama yang sangat penting untuk membangun kehidupan sosial yang harmonis.
Kata Kunci: Hadis, Kesulitan Sosial, Kepedulian Sosial, Solidaritas, Tolong-menolong.
Pendahuluan
Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan dan kerja sama dengan orang lain dalam menjalani kehidupan. Dalam kehidupan bermasyarakat sering ditemukan berbagai permasalahan sosial, seperti kemiskinan, pengangguran, kesenjangan ekonomi, serta rendahnya kepedulian terhadap sesama.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai solidaritas dan empati sosial belum sepenuhnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di era modern, perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup juga memunculkan sikap individualisme yang menyebabkan sebagian orang lebih fokus pada kepentingan pribadi daripada kepentingan sosial.
Akibatnya, berbagai permasalahan sosial menjadi semakin kompleks dan sulit diselesaikan tanpa adanya kerja sama antaranggota masyarakat.
Islam memberikan perhatian besar terhadap persoalan sosial. Salah satu ajaran yang menekankan pentingnya membantu sesama terdapat dalam hadis Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.
Hadis tersebut menjelaskan bahwa setiap orang yang membantu menghilangkan kesulitan saudaranya akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT. Oleh karena itu, penting untuk memahami kandungan hadis tersebut sebagai pedoman dalam membangun kehidupan sosial yang lebih baik.
Baca Juga: Esensi Silaturahmi di Era Milenial melalui Media Sosial dalam Perspektif Hadis Nabi
Pembahasan
Hadis tentang menghilangkan kesulitan sosial sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيه
“Barangsiapa melepaskan satu kesulitan seorang mukmin dari kesulitan dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya,” (HR. Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa membantu orang lain merupakan amalan yang sangat mulia. Tidak hanya memberikan manfaat kepada orang yang dibantu, tetapi juga mendatangkan pahala dan pertolongan dari Allah SWT bagi orang yang membantu.
Nilai-nilai sosial dalam hadis ini ialah hadis ini mengandung beberapa nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat:
- nilai empati dan kepedulian sosial. Seorang muslim dianjurkan untuk merasakan dan memahami kesulitan yang dialami orang lain sehingga terdorong untuk memberikan bantuan;
- nilai solidaritas sosial. Kehidupan yang harmonis dapat tercipta apabila masyarakat memiliki semangat saling membantu dan mendukung satu sama lain dalam menghadapi berbagai permasalahan;
- nilai menjaga kehormatan sesama. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar umat Islam tidak membuka aib orang lain karena tindakan tersebut dapat merusak hubungan sosial dan menimbulkan konflik;
- nilai tolong-menolong dalam kebaikan. Setiap bantuan yang diberikan, baik berupa materi, tenaga, maupun dukungan moral, merupakan bentuk pengamalan ajaran Islam yang akan mendapatkan balasan dari Allah SWT.
Relevansi Hadis dalam Kehidupan Modern
Meskipun hadis ini disampaikan lebih dari empat belas abad yang lalu, kandungannya tetap relevan hingga saat ini. Kesulitan sosial pada masa modern tidak hanya berupa masalah ekonomi, tetapi juga mencakup tekanan psikologis, kesulitan pendidikan, dan berbagai persoalan sosial lainnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, penerapan hadis ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti membantu fakir miskin, memberikan dukungan kepada teman yang sedang mengalami masalah, membantu korban bencana, serta aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Selain itu, penggunaan media sosial juga harus dilakukan secara bijak dengan tidak menyebarkan aib atau keburukan orang lain.
Dengan menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam hadis tersebut, masyarakat dapat membangun lingkungan yang lebih harmonis, penuh kasih sayang, dan saling mendukung.
Baca Juga: Gender dan Kepemimpinan Perempuan Perspektif Hadis Nabi
Kesimpulan
Hadis tentang menghilangkan kesulitan sosial mengajarkan pentingnya kepedulian terhadap sesama manusia. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya meliputi empati, solidaritas sosial, tolong-menolong, serta menjaga kehormatan sesama.
Ajaran tersebut sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan modern yang sering diwarnai oleh sikap individualisme. Dengan mengamalkan nilai-nilai tersebut, masyarakat dapat menciptakan kehidupan yang harmonis serta memperoleh pertolongan dan rahmat Allah SWT di dunia maupun di akhirat.
Penulis:
1. Adiba Jihan Kamila (1251330033)
2. Nadhifa Qutrun Nada (1251330034)
3. Kanesya Aghnia Maulida (1251330037)
Mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Jakarta
Dosen Pengampu: Muhammad Firdaus, B.A., M.A., Ph.D.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Al-‘Asqalani, Ibnu Hajar. (2000). Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Ma’rifah.
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. (1999). Syarh Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-’Arabi.
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. (n.d.). Al-Arba’in An-Nawawiyah. Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyah.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Muslim, Imam. (n.d.). Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-’Arabi.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












