Mengungkap Krisis Food Waste di Perkotaan: Bukti Data, Dampak Nyata, dan Strategi Mitigasi Berkelanjutan

food waste in indonesia
Mengungkap Krisis Food Waste di Perkotaan: Bukti Data, Dampak Nyata, dan Strategi Mitigasi Berkelanjutan. Sumber: Penulis.

Pendahuluan

Food waste atau pemborosan makanan merupakan salah satu permasalahan lingkungan dan sosial yang paling mendesak di abad ke-21. Pada tahun 2022, dunia membuang lebih dari 1,05 miliar ton makanan setara dengan seperlima dari seluruh makanan yang tersedia bagi konsumen (UNEP, 2024). Paradoksnya, di saat yang bersamaan, sebanyak 783 juta jiwa di seluruh dunia masih menghadapi kelaparan dan sepertiga populasi global mengalami ketidakamanan pangan.

Di Indonesia, persoalan ini bahkan lebih kritis. Berdasarkan laporan Food Waste Index Report 2024 yang diterbitkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP), Indonesia tercatat sebagai negara penghasil food waste terbesar di Asia Tenggara, dengan total 14,73 juta ton sampah makanan rumah tangga per tahun. Artikel ini menyajikan analisis berbasis data mengenai penyebab, dampak, dan upaya mitigasi food waste, khususnya di wilayah perkotaan Indonesia.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Gambaran Statistik: Seberapa Besar Masalah ini?

A. Skala Global

Food loss and waste (FLW) secara global mencakup dua tahap: sekitar 13% makanan hilang di sepanjang rantai pasok (panen hingga sebelum ritel), dan 19% lagi terbuang di tingkat ritel, layanan makanan, dan rumah tangga (FAO & UNEP, 2024). Secara agregat, FLW berkontribusi terhadap 8–10% emisi gas rumah kaca global hampir lima kali lipat total emisi dari seluruh penerbangan dunia (IPCC, 2019; UNEP, 2024).

1,05 Miliar Ton

Makanan terbuang global (2022)

8–10%

Kontribusi thd emisi GHG global

783 Juta

Orang kelaparan secara global (2022)

Tabel 1. Statistik food waste global tahun 2022. Sumber: UNEP (2024), FAO (2024).

Baca Juga: Mahasiswa Telkom University Inisiasi Program “ADHIKARA” Program Edukasi dan Workshop Pengelolaan Sampah

B. Skala Nasional: Indonesia

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2023 menunjukkan bahwa sampah sisa makanan menyumbang 41,4% dari total komposisi sampah nasional jauh melampaui sampah plastik yang hanya 18,6%. Angka ini menjadikan sisa makanan sebagai kategori sampah dominan di Indonesia.

Kajian Bappenas bersama Waste4Change dan World Resources Institute mencatat bahwa timbulan food loss and waste (FLW) Indonesia selama periode 2000–2019 berkisar antara 115–184 kg per kapita per tahun, atau secara total mencapai 23–48 juta ton per tahun. Tanpa intervensi kebijakan, Bappenas memproyeksikan angka ini dapat melonjak hingga 112 juta ton per tahun pada 2045 (Bappenas, 2021).

Gambar 2. Komposisi sampah nasional Indonesia berdasarkan jenis, tahun 2023. Sumber: KLHK/SIPSN, 2023.

C. Posisi Indonesia di Asia Tenggara

Data UNEP Food Waste Index Report 2024 menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan 14,73 juta ton sampah makanan rumah tangga per tahun dua kali lipat lebih besar dari Vietnam yang berada di posisi kedua dengan 7,08 juta ton. Meski demikian, secara per kapita, Indonesia menghasilkan 53 kg/kapita/tahun, yang justru merupakan angka terendah di ASEAN, mencerminkan bahwa volume besar ini lebih disebabkan jumlah penduduk yang besar daripada perilaku boros individu.

 

 

Gambar 3. Perbandingan food waste rumah tangga antar negara ASEAN (juta ton/tahun, 2022). Sumber: UNEP, Food Waste Index Report 2024.

Baca Juga: Teknologi Pendinginan dan Peranan Frozen Food dalam Mengurangi Food Waste

Analisis Penyebab Food Waste di Perkotaan

Studi Kusumawardani dkk. (2023) dalam Polish Journal of Environmental Studies mengidentifikasi beberapa determinan utama food waste di tingkat rumah tangga perkotaan Indonesia:

  • Perilaku belanja tidak terencana: Pembelian impulsif tanpa daftar belanja meningkatkan kemungkinan terjadinya pemborosan. Penelitian menunjukkan rumah tangga yang tidak merencanakan pembelian memiliki odds ratio (OR) menghasilkan food waste lebih tinggi sebesar 3,81 (CI 95%: 1,22–12,03) dibandingkan rumah tangga yang berencana (Lybaws dkk., 2025).
  • Standar estetika pangan: Konsumen cenderung memilih produk dengan penampilan sempurna, sehingga produk yang sedikit cacat namun masih layak konsumsi terbuang lebih awal.
  • Praktik penyimpanan yang tidak tepat: Ketidaktahuan tentang suhu dan metode penyimpanan optimal mempercepat kerusakan bahan pangan.
  • Porsi memasak berlebihan: Kebiasaan memasak dalam jumlah besar tanpa mempertimbangkan konsumsi aktual menghasilkan sisa makanan yang tidak termakan.
  • Faktor sosial-ekonomi: Rumah tangga dengan pendapatan lebih tinggi cenderung menghasilkan lebih banyak food waste karena memiliki kemampuan beli lebih besar (Caritra, 2025).

Dampak Food Waste: Lingkungan dan Ketahanan Pangan

A. Dampak Lingkungan

Food waste yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) mengalami dekomposisi anaerobik yang menghasilkan gas metana (CH₄). Metana merupakan gas rumah kaca yang 80 kali lebih potensial dibandingkan CO₂ dalam memerangkap panas selama periode 20 tahun (IPCC, melalui UNEP, 2024). Sampah makanan di TPA berkontribusi terhadap 14% dari total emisi metana global (US EPA, 2025).

Secara agregat, food loss and waste berkontribusi terhadap 8–10% emisi gas rumah kaca global. Jika food waste adalah sebuah negara, ia akan menjadi penghasil GHG terbesar ketiga di dunia, hanya di bawah Amerika Serikat dan Tiongkok (FAO, dalam WRAP, 2024). Selain itu, produksi pangan yang terbuang turut menyia-nyiakan sumber daya air, energi, dan lahan pertanian yang digunakan selama proses produksinya.

8–10% Emisi GHG Global

berasal dari food loss and waste   hampir 5× total emisi penerbangan dunia (UNEP, 2024; IPCC, 2019)

Baca Juga: Aplikasi Beeswax Bio-Coating dalam Inovasi Kemasan Pangan untuk Mengurangi Food Waste dan Chemical Additives

B. Dampak terhadap Ketahanan Pangan

Dari perspektif ketahanan pangan, food waste memperburuk distribusi pangan yang sudah tidak merata. Data UNEP (2024) menunjukkan bahwa jika separuh food waste global dapat diselamatkan, jumlah orang kekurangan gizi dapat dikurangi sebanyak 153 juta jiwa pada 2030 (OECD-FAO Agricultural Outlook, 2024).

Di Indonesia, kondisi ini menciptakan paradoks: di satu sisi, lebih dari 22 juta penduduk mengalami kerawanan pangan di perkotaan, termasuk sekitar 11,64 juta orang miskin (BPS, 2024); di sisi lain, sampah makanan terus menumpuk dari rumah tangga berpenghasilan lebih tinggi. Kesenjangan ini menegaskan bahwa food waste bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga masalah keadilan sosial (Caritra, 2025).

C. Dampak Ekonomi

Secara global, food waste diperkirakan menelan biaya USD 1 triliun per tahun (UNFCCC, 2024). Di Indonesia, berdasarkan kajian Bappenas (2021), nilai ekonomi makanan yang terbuang setiap tahunnya diperkirakan setara dengan ratusan triliun rupiah sumber daya yang seharusnya dapat digunakan untuk pemenuhan gizi jutaan keluarga kurang mampu.

Proyeksi dan Skenario Mitigasi

Bappenas (2021) memodelkan dua skenario perkembangan FLW di Indonesia: (1) tanpa intervensi (business as usual) yang memproyeksikan lonjakan hingga 112 juta ton/tahun pada 2045, dan (2) dengan strategi mitigasi yang dapat menekan angka tersebut hingga 49 juta ton penurunan sebesar 55,88%. Target ini sejalan dengan SDG 12.3 yang mengharuskan penurunan food waste global sebesar 50% pada tahun 2030.

Gambar 4. Proyeksi Food Loss & Waste Indonesia 2000–2045: skenario BAU vs. strategi mitigasi. Sumber: Bappenas, Kajian Food Loss and Waste Indonesia, 2021.

Bappenas memperkirakan bahwa dengan rata-rata penurunan FLW sebesar 2,83% per tahun, Indonesia dapat memenuhi target SDG 12.3 pada 2030. Bukti internasional menunjukkan hal ini dapat dicapai: Inggris berhasil mengurangi food waste rumah tangga sebesar 22%, sementara Jepang mencatatkan penurunan sebesar 53% (UNEP, 2024).

Baca Juga: DosPulkam IPB 2025: Ajak Siswa SDN 5 Banjarsari Belajar Gizi dan Mengurangi Food Waste Lewat Games Interaktif

Strategi Mitigasi: Mengubah Perilaku Konsumsi

Mengacu pada kajian Bappenas (2021) dan rekomendasi UNEP (2024), mitigasi food waste dapat dilakukan melalui tiga pilar utama:

1. Perubahan Perilaku Individu dan Rumah Tangga

  • Merencanakan pembelian makanan sebelum berbelanja dan menerapkan prinsip FIFO (First In, First Out) dalam pengelolaan stok pangan.
  • Memahami label tanggal kadaluarsa: membedakan antara ‘best before’ (baik sebelum) dan ‘use by’ (gunakan sebelum) untuk mengurangi pembuangan prematur.
  • Mengolah sisa makanan secara kreatif dan menerapkan pengomposan (composting) untuk sisa organik yang tidak dapat dikonsumsi.
  • Mengatur porsi memasak sesuai kebutuhan aktual anggota keluarga.

2. Penguatan Regulasi dan Kebijakan

  • Mendorong implementasi regulasi pengelolaan FLW yang komprehensif, termasuk insentif bagi pelaku usaha yang aktif mengurangi food waste.
  • Mengintegrasikan target pengurangan food waste ke dalam Nationally Determined Contributions (NDC) Indonesia dalam kerangka Perjanjian Paris.
  • Mendukung program pemerintah seperti Gerakan Selamatkan Pangan yang diinisiasi Badan Pangan Nasional (NFA, 2023).

3. Edukasi dan Kesadaran Masyarakat

  • Mengintegrasikan edukasi pengelolaan pangan berkelanjutan ke dalam kurikulum sekolah dan program komunitas.
  • Memanfaatkan platform digital untuk kampanye gaya hidup rendah food waste, termasuk berbagi resep daur ulang sisa makanan.
  • Mendorong transparansi data food waste di tingkat kota sebagai dasar perencanaan kebijakan berbasis bukti.
Gambar 5. Panduan Strategi Mengubah Perilaku Konsumsi.

Baca Juga: Biodegradable Packaging sebagai Solusi untuk Memperpanjang Umur Simpan dan Menangani Tantangan Pangan Global

Kesimpulan

Data statistik secara konsisten menunjukkan bahwa food waste adalah permasalahan multidimensi dengan dampak yang jauh melampaui sekadar pemborosan. Indonesia, sebagai penghasil food waste terbesar di ASEAN dengan 14,73 juta ton per tahun, menghadapi tekanan ganda: meningkatnya emisi gas rumah kaca dari dekomposisi sampah makanan, sekaligus persistennya kerawanan pangan di kalangan masyarakat rentan.

Proyeksi Bappenas menunjukkan bahwa tanpa intervensi serius, angka FLW nasional dapat mencapai 112 juta ton pada 2045. Namun, dengan kombinasi strategi yang tepat perubahan perilaku konsumsi, penguatan regulasi, dan edukasi berkelanjutan penurunan FLW sebesar lebih dari 55% adalah hal yang dapat dicapai. Langkah ini bukan hanya demi lingkungan, tetapi juga demi keadilan pangan bagi seluruh lapisan masyarakat.


Penulis:
1. Muhammad Alif
2. Chelvia Melani
3. Salsabila Ochtary
4. Shaidul Mifdhal Ramadhanna
5. T.M Fauzan Al Jamil
Mahasiswa Statistika Universitas Syiah Kuala


Dosen Pengampu: Samsul Anwar, S.Si., M.Sc.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Referensi

Bappenas, Waste4Change, & World Resources Institute. (2021). Kajian Food Loss and Waste di Indonesia. Jakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Persentase Penduduk Miskin Maret 2024 turun menjadi 9,03 persen. Jakarta: BPS.

Caritra. (2025, Maret 13). Sampah Makanan di Perkotaan: Kesenjangan dan Produksi Berlebihan. Diakses dari https://www.caritra.org/

Food and Agriculture Organization (FAO). (2024). Food Loss and Waste Policy Series. Rome: FAO.

Helmyati, S., dkk. (2024). Mengenal Lebih Dekat Sustainable Healthy Diet, Makan Sehat yang Ramah Lingkungan. Yogyakarta: Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia UGM.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (2023). Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2023. Jakarta: KLHK.

Kusumawardani, D., dkk. (2023). Household Food Waste in Indonesia: Macro Analysis. Polish Journal of Environmental Studies, 32(6), 5651–5658. https://doi.org/10.15244/pjoes/163157

Lybaws, dkk. (2025). Determinan Food Waste Rumah Tangga Wilayah Perkotaan dan Pedesaan Kabupaten Bogor. Amerta Nutrition, 9(1), 1–13.

NFA (Badan Pangan Nasional). (2023). NFA Dukung Sinergi K/L Terkait Tata Kelola Sampah Makanan Melalui Gerakan Selamatkan Pangan. Jakarta: NFA.

OECD-FAO. (2024). Agricultural Outlook 2024–2033. Paris: OECD Publishing.

UNFCCC. (2024, 30 September). Food Loss and Waste Account for 8-10% of Annual Global Greenhouse Gas Emissions. Diakses dari https://unfccc.int/

United Nations Environment Programme (UNEP). (2024). Food Waste Index Report 2024: Think Eat Save. Nairobi: UNEP.

US Environmental Protection Agency (EPA). (2025). Stop Food Loss and Waste. Diakses dari https://stopfoodlosswaste.org/

WRAP. (2024). Food Waste Contributes 10% to Global Emissions. Diakses dari https://www.wrap.ngo/

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses