Tren Penggunaan Coconut Milk di China
Dalam beberapa tahun kebelakang, dunia menyaksikan perubahan besar yang terjadi dalam pola konsumsi pangan, terutama di China, yang merupakan salah satu pasar terbesar dunia. Salah satu tren yang menarik perhatian baru-baru ini ialah meningkatnya permintaan terhadap produk yang berbahan dasar kelapa, tepatnya ialah santan kelapa.
Di tengah perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin tertuju terhadap kesehatan tubuh dan mengganti produk hewani menjadi nabati, santan kelapa muncul sebagai alternatif utama bagi pengganti susu sapi, terutama bagi mereka yang memiliki intoleran terhadap laktosa, menjalani diet vegan, ataupun vegetarian.
China, dengan jumlah populasi yang saat ini memiliki jumlah penduduk sekitar 1,4 miliar jiwa, telah menjadi ladang subur bagi pertumbuhan produk yang berasal dari nabati.
Santan kelapa tidak hanya digunakan dalam makanan tradisional di beberapa negara di Asia Tenggara, tetapi juga mulai diintegrasikan dalam berbagai inovasi makanan dan minuman modern seperti smoothie, kopi dengan susu sapi yang diganti dengan santan, es krim vegan, hingga produk kosmetik alami dari tumbuhan.
Pasar santan kelapa di China diprediksi dapat tumbuh dari angka USD 101,85 juta pada tahun 2024 sehingga menjadi USD 676,04 juta pada tahun 2035. Tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 18,77% sebagaimana hal tersebut mencerminkan lonjakan permintaan yang luar biasa tinggi (Gupta, 2025).
Permintaan yang tinggi ini membuka peluang lebar bagi negara-negara penghasil kelapa, khususnya Indonesia. Indonesia, sebagai salah satu negara penghasil kelapa terbesar di dunia, memiliki keunggulan tersendiri sebagai pemasok utama kebutuhan kelapa di dunia, termasuk ke China.
Produksi kelapa Indonesia tersebar di berbagai daerah, dari Sumatera hingga Maluku, menjadikan komoditas ini salah satu kekuatan utama dalam ekspor non-migas Indonesia.
Peran Indonesia dalam Memenuhi Permintaan Tiongkok
Saat ini, China hanya mampu memenuhi sekitar 10% dari kebutuhan kelapa domestiknya melalui produksi lokal. Sisanya dipenuhi melalui impor dari negara-negara seperti Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Filipina.
Dalam periode Januari–Februari 2025, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia telah mengekspor sebanyak 71.077 ton kelapa bulat, di mana 68.065 ton di antaranya dikirim langsung ke China dengan nilai transaksi mencapai USD 29,5 juta (Badan Pusat Statistik [BPS], 2025). Data ini memperlihatkan bahwasanya pentingnya peran Indonesia dalam memasok kebutuhan kelapa China.
Lebih lanjut, laporan dari Volza, yang merupakan sebuah platform analisis perdagangan internasional, memperlihatkan bahwa antara Oktober 2023 hingga September 2024, Indonesia berkontribusi sebesar 28% terhadap total impor santan kelapa China (Volza, 2024).
Indonesia menempati posisi kedua setelah Vietnam, yang memang sejak lama agresif dalam pengembangan produk kelapa olahan. Ini merupakan sinyal kuat bahwa potensi ekspor kelapa dan produk turunannya dari Indonesia ke China masih sangat besar dan terus berkembang.
Meskipun peluang terbuka lebar, Indonesia tetap dihadapkan pada berbagai tantangan dalam mempertahankan dan meningkatkan ekspor kelapa ke China. Salah satu tantangan utama adalah persaingan ketat dari negara lain, khususnya Vietnam dan Thailand.
Kedua negara tersebut telah lebih dahulu mengembangkan industri pengolahan kelapa mereka, dengan kualitas produk yang konsisten serta kemasan modern yang sesuai dengan standar pasar global.
Selain itu, fluktuasi harga kelapa dunia akibat perubahan iklim, bencana alam, dan dinamika pasar global juga menjadi tantangan tersendiri. Harga yang tidak stabil dapat berdampak pada keberlanjutan ekspor, terutama bagi petani kecil yang merupakan tulang punggung produksi kelapa di Indonesia.
Aspek lain yang tak kalah penting adalah standar keamanan pangan dan sertifikasi yang diterapkan oleh China. Produk yang diekspor harus memenuhi standar kualitas yang tinggi, bebas dari kontaminasi, dan memenuhi persyaratan sertifikasi seperti HACCP dan ISO.
Baca Juga: Perang Dagang AS-China: Ancaman atau Peluang bagi Ekonomi Indonesia?
Strategi Indonesia dalam Meningkatkan Kualitas Kelapa
Untuk mengatasi tantangan tersebut dan memaksimalkan peluang yang ada, Indonesia perlu menerapkan berbagai strategi jitu. Pertama, meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas kelapa melalui modernisasi pertanian.
Pemerintah, melalui Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan, dapat memberikan pelatihan kepada petani tentang praktik pertanian berkelanjutan, pengendalian hama yang efektif, serta teknik pasca panen untuk menjaga kualitas buah.
Kedua, Indonesia perlu mendorong diversifikasi produk turunan kelapa. Tidak hanya mengandalkan ekspor kelapa bulat, tetapi juga memperbanyak ekspor produk bernilai tambah tinggi seperti santan siap pakai, minyak kelapa murni (virgin coconut oil), air kelapa dalam kemasan, serta produk berbasis kelapa lainnya. Dengan begitu, nilai ekspor akan meningkat dan ketergantungan terhadap harga bahan mentah dapat dikurangi.
Ketiga, membangun kemitraan strategis dengan perusahaan-perusahaan pengolahan makanan dan minuman di China adalah langkah penting.
Melalui kerja sama ini, Indonesia dapat memastikan keberlanjutan permintaan sambil mempermudah akses produk Indonesia ke pasar ritel dan jaringan distribusi besar di China. Dukungan diplomasi ekonomi juga perlu diperkuat agar hambatan tarif dan non-tarif dapat diminimalisasi.
Keempat, memperkuat promosi produk kelapa Indonesia di pasar China. Melalui partisipasi aktif dalam pameran makanan internasional seperti SIAL China, Food & Hotel China, serta kampanye media digital, Indonesia dapat memperkenalkan keunggulan kualitas kelapa nasional kepada konsumen dan pelaku usaha China.
Branding yang kuat dengan menonjolkan aspek “alami”, “berkhasiat”, dan “berkualitas premium” dapat menjadi nilai jual utama.
Di mata dunia, santan kelapa kini tidak hanya dipandang sebagai alternatif susu, tetapi juga sebagai produk bergizi tinggi dengan manfaat kesehatan yang luas, seperti kandungan lemak sehat (medium-chain triglycerides), sifat antimikroba, serta kontribusinya terhadap sistem kekebalan tubuh.
Oleh karena itu, permintaan terhadap santan kelapa diperkirakan akan terus meningkat, tidak hanya di China tetapi juga di pasar-pasar berkembang lainnya seperti Jepang, Korea Selatan, India, dan negara-negara di Timur Tengah.
Baca Juga: Pemanfaatan Air Kelapa Menjadi Bahan Bakar Bioetanol
Penutup
Dengan strategi yang terkoordinasi, inovasi produk yang berkelanjutan, dan peningkatan kualitas produksi, Indonesia bukan hanya bisa mempertahankan posisi sebagai pemasok utama kelapa ke China, tetapi juga menjadi pemimpin pasar global dalam ekspor produk turunan kelapa.
Dalam jangka panjang, keberhasilan ini tidak hanya akan memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan jutaan petani kelapa di Indonesia.
Singkatnya, tren konsumsi santan kelapa di China merupakan peluang emas yang harus dioptimalkan. Indonesia, dengan keunggulan alamiahnya sebagai produsen kelapa terbesar, memiliki semua prasyarat untuk memimpin di pasar ini.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan petani, ekspor kelapa Indonesia dapat menjadi kekuatan utama dalam perekonomian nasional di era globalisasi pangan berbasis nabati ini.
Penulis: M. Fathan Karib
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Badan Pusat Statistik. (2025). Ekspor komoditas pertanian Januari–Februari 2025. https://www.bps.go.id
Gupta, S. (2025, April). China Coconut Milk Market. Marketresearchfuture.com. https://www.marketresearchfuture.com/reports/china-coconut-milk-market-48847
Volza. (2024). Indonesia coconut milk export data to China (Oct 2023–Sep 2024). https://www.volza.com
Ikuti berita terbaru di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












