Overthinking dalam Kehidupan Mahasiswa dan Pengaruhnya terhadap Proses Belajar

Overthinking  
Ilustrasi Overthinking (Sumber: MMI)

Overthinking atau kebiasaan berpikir secara berlebihan merupakan salah satu masalah mental yang paling sering dialami oleh para mahasiswa, dan pengaruhnya itu sangat mengganggu dalam proses kegiatan belajar mereka.

Di tengah beban perkuliahan yang semakin tinggi, masalah tugas yang menumpuk, serta persaingan di kampus yang semakin ketat, banyak mahasiswa terjebak dalam kondisi di mana mereka memikirkan banyak hal secara terus-menerus tanpa henti. Pikiran yang seharusnya digunakan untuk fokus belajar malah terbuang sia-sia hanya untuk membayangkan berbagai hal yang mungkin saja tidak akan pernah terjadi.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Bagi mahasiswa baru, overthinking menjadi tantangan umum yang sering dialami. Hal tersebut karena adanya perubahan tingkat pendidikan dari pendidikan menengah menuju ke perguruan tinggi, yang sering kali dihadapkan dengan banyak perubahan serta tekanan.

Lingkungan baru, pertemanan yang berbeda serta gaya pembelajaran yang berbeda bisa memicu rasa kekhawatiran yang berlebihan. Akibatnya mahasiswa baru sering terjebak dalam masa overthinking yang berdampak pada kesehatan mental mereka (Heriyani et al., 2025).

Baca juga: Overthinking Mahasiswa dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental: Bagaimana Mengelolanya?

Overthinking biasanya muncul karena adanya rasa cemas, takut menghadapi beban tertentu. Banyak mahasiswa yang takut mendapatkan nilai rendah, takut tidak bisa memahami materi kuliah, atau takut melakukan masalah kecil apa pun, serta merasa khawatir tentang ekspektasi yang orang tua berikan.

Mereka merasa harus selalu bisa, bisa mendapatkan nilai yang bagus, cepat lulus, dan harus bisa berhasil dalam segala hal. Ketika beban ini semakin meningkat, mahasiswa biasanya mulai merasa cemas dan ragu sama kemampuan dirinya sendiri. Keraguan kecil inilah yang nantinya bisa berubah menjadi overthinking yang terus mengganggu pikiran mereka setiap harinya. Yang akhirnya dapat mengganggu proses belajar pada mahasiswa.

Penelitian dari (Agus Budiman et al., 2025) menjelaskan bahwa overthinking memiliki dampak yang bisa menurunkan produktivitas akademik, serta kesehatan mental mahasiswa. Mereka mengungkapkan bahwa mahasiswa yang mengalami overthinking cenderung sulit untuk fokus, sering menunda tugas, merasa lelah secara mental, serta memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa overthinking dapat menyebabkan mahasiswa mengalami stres yang berkepanjangan, yang pada akhirnya bisa menurunkan performa akademik para mahasiswa. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa overthinking bukan hanya soal tentang berpikir secara berlebihan, namun kondisi tersebut sudah termasuk ke dalam masalah psikologis yang nyata dialami mahasiswa.

 

Penyebab Overthinking dalam Kehidupan Mahasiswa

Overthinking pada mahasiswa biasanya muncul dari berbagai tekanan yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu penyebab yang paling sering dirasakan adalah beban akademik yang semakin hari semakin menumpuk. Dalam satu semester, mahasiswa biasanya menghadapi banyak tugas dengan berbagai macam jenis tugas, seperti tugas membuat makalah, presentasi, atau laporan, hingga saat waktunya ujian semester tiba.

Selain dari tuntutan akademik, tekanan dari keluarga juga bisa menjadi penyebab munculnya overthinking. Banyak mahasiswa yang merasa harus bisa memenuhi harapan dari orang tua, serta keluarga untuk bisa mendapatkan nilai yang baik, menjadi mahasiswa aktif di perkuliahan, bisa lulus tepat waktu, mempunyai relasi yang banyak, hingga mempunyai perencanaan masa depan yang jelas ketika sudah lulus kuliah nantinya.

Walaupun harapan ini terkadang tidak selalu diucapkan secara langsung, namun mahasiswa sering kali berpikir sendiri bahwa mereka harus bisa berhasil, harus bisa menjadi orang yang hebat agar tidak mengecewakan keluarga.

Lingkungan digital dan media sosial memiliki pengaruh yang besar terhadap munculnya overthinking di kalangan mahasiswa. Saat ini, kebanyakan mahasiswa aktif menggunakan media sosial seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, dan Twitter atau yang sekarang dikenal dengan X.

Melalui penggunaan media sosial, mereka melihat unggahan orang lain tentang pencapaian akademik, kegiatan organisasi, kegiatan yang produktif, atau gaya hidup yang terlihat sempurna. Melihat unggahan tersebut secara terus-menerus membuat perasaan mereka menjadi tidak tenang dan merasa insecure.

Menurut (Safira & Marimbun, 2023) menjelaskan bahwa penggunaan media sosial, terutama WhatsApp secara berlebihan bisa menimbulkan overthinking.

Hal ini terjadi karena pesan yang dikirim tidak dibalas, meskipun penerima sedang online, atau ketika saat menerima balasan yang singkat sehingga menimbulkan rasa gelisah. Bahkan unggahan status WhatsApp juga bisa menimbulkan kesalahpahaman dan membuat seseorang memikirkan hal-hal secara berlebihan.

Rendahnya rasa percaya diri juga bisa menjadi penyebab adanya overthinking yang mudah muncul. Biasanya karena, terdapat mahasiswa yang merasa dirinya itu kurang mampu dalam memahami materi perkuliahan, tidak pandai berbicara di depan umum dengan lancar, kurang aktif saat perkuliahan, seperti kurang percaya diri untuk aktif bertanya di kelas.

Ketika rasa tidak percaya diri mulai menguasai, dari situlah mahasiswa mulai meragukan dirinya sendiri. Mereka mempertanyakan kalau langkah yang mereka ambil apakah sudah benar, dan mengkhawatirkan hal-hal sepele yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan secara berlebihan.

Permasalahan dalam hal mengatur waktu juga bisa menjadi salah satu penyebab adanya overthinking mudah muncul. Ketika mahasiswa tidak mempunyai jadwal belajar dengan baik, tanpa disadari bisa membuat pekerjaan mahasiswa mudah menumpuk.

Dalam situasi ini, mereka akan merasa kewalahan dalam mengerjakannya, karena mereka harus menyelesaikan banyak hal dalam waktu yang sangat terbatas. Dalam kondisi seperti itu, pikiran mereka jadi terpecah ke mana-mana dan akan kehilangan fokusnya. Mereka ingin mulai mengerjakan tugasnya, namun merasa bingung harus memulai mengerjakan dari mana.

Menurut (Khilyatu Zahwa et al., 2024), menunjukkan bahwa stres akademik memiliki efek buruk terhadap kesehatan fisik, emosional, dan sosial mahasiswa, seperti masalah tidur, kebiasaan makan yang tidak teratur, kecemasan, depresi. Jika stres akademik dibiarkan, hal ini bisa berdampak pada penurunan prestasi mahasiswa, seperti kesulitan dalam konsentrasi, serta kurangnya motivasi.

Overthinking biasanya muncul secara perlahan, dimulai dari adanya rasa cemas yang dibiarkan berkembang secara terus-menerus. Pada awalnya, mahasiswa hanya merasakan sedikit cemas, dan itu mereka hiraukan karena mereka berpikir itu hanya rasa cemas yang biasa.

Tetapi seiring berjalannya waktu, pikiran itu semakin sering muncul dan sering memengaruhi aktivitas sehari-hari mereka. Jika masalah tersebut tidak diatasi, overthinking bisa dapat mengganggu proses belajar, merusak ketenangan pikiran, dan juga bisa membuat mahasiswa kesulitan melakukan aktivitas dengan fokus.

 

Overthinking dan Konsentrasi Belajar

Ketika mahasiswa terjebak dalam overthinking, salah satu dampak awal yang dirasakan adalah terganggunya kemampuan untuk tetap bisa fokus. Pikiran yang seharusnya fokus untuk memikirkan tentang materi kuliah, malah memikirkan ke banyak hal yang lain.

Misalnya, ketika sedang membaca buku, secara tiba-tiba muncul di kepala mahasiswa tentang tugas lain yang belum dikerjakan, kemudian memikirkan nilai, atau urusan lain. Bahkan saat sedang mengerjakan tugas, perhatian mereka bisa saja terpecah oleh kewajiban kuliah yang lain.

Ketika di ruang kelas, mahasiswa sering kali tidak benar-benar menyimak. Pikiran mereka terlalu sibuk memikirkan berbagai hal lainnya, yang mengakibatkan kesulitan dalam menyerap suatu materi dan membuatnya menjadi gelisah. Saat butuh tidur dan butuh waktu istirahat, pikiran mereka malah terus-menerus memikirkan kekhawatiran yang sama tanpa henti.

Pikiran cemas seperti ini bisa muncul dalam berbagai situasi tanpa melihat waktu, sehingga menyebabkan mahasiswa merasakan lelah secara mental sebelum mereka benar-benar siap untuk belajar. Kondisi seperti ini membuat mahasiswa menjadi kehilangan semangat untuk belajar.

Ketika mereka sudah lelah secara mental, mahasiswa jadi lebih mudah teralihkan oleh hal-hal kecil, seperti notifikasi dari ponsel, rasa ingin tidur, ngobrol bersama teman, atau keinginan untuk menunda tugas.

 

Overthinking dan Kebiasaan Mahasiswa Menunda Tugas

Masalah lain yang sering muncul karena overthinking biasanya karena menunda-nunda tugas. Banyak mahasiswa yang menunda tugas bukan karena malas, tetapi karena terlalu memikirkan untuk memulai tugasnya dari mana. Mereka merasa bahwa tugas tersebut terlalu sulit, terlalu panjang, terlalu rumit, atau takut hasilnya tidak sesuai.

Semakin lama mereka memikirkan hal buruk, semakin sulit untuk mulai mengerjakan tugasnya. Menurut (Tanjaya & Basaria, 2024) menunjukkan bahwa kebiasaan menunda tugas biasanya sering terjadi karena adanya penurunan motivasi, kurangnya kontrol diri, serta cara berpikir yang tidak baik.

 

Masalah Tidur dan Pengaruhnya terhadap Produktivitas Belajar

Overthinking juga berpengaruh langsung dengan kualitas tidur para mahasiswa. Banyak mahasiswa yang begadang bukan karena sedang belajar atau mengerjakan tugas, melainkan tidak bisa tidur karena mereka tidak bisa menghentikan pikiran-pikiran yang mengganggu di kepalanya.

Mereka memang ingin bisa tidur langsung, tapi pikiran mereka terus berputar-putar tidak jelas arahnya. Biasanya memikirkan tentang tugas, nilai, harapan orang tua, masa depan mereka, atau memikirkan kejadian memalukan atau menyakitkan yang pernah dialami sebelumnya. Dari pikiran-pikiran tersebut menjadi penyebab terganggunya ketenangan mereka sebelum tertidur lelap.

Masalah tidur ini berpengaruh besar pada aktivitas belajar di keesokan harinya. Mahasiswa yang kurang tidur biasanya sulit fokus di dalam kelas, cepat mengantuk, kurang semangat, dan mudah merasa putus asa, sehingga proses belajar tidak dapat berjalan dengan baik.

(Hami et al., 2021) menjelaskan bahwa masalah tidur tersebut bisa membuat fokus belajar menjadi menurun serta mengakibatkan penurunan pada prestasi akademik.

 

Overthinking dan Rasa Percaya Diri

Rasa percaya diri itu sangat amat penting pada saat menempuh pendidikan. Mahasiswa yang percaya diri biasanya lebih berani bertanya, serta aktif ikut dalam diskusi. Akan tetapi, overthinking bisa saja menghilangkan rasa percaya diri tersebut.

Para mahasiswa yang suka overthinking biasanya punya pikiran negatif mengenai dirinya sendiri. Contohnya itu seperti “aku memang bodoh”, “aku tidak bisa diandalkan”, “nanti nilainya pasti jelek”, atau berpikiran kalau mereka tidak sebaik teman-temannya.  Padahal, perasaan itu belum tentu sesuai dengan kenyataan. Tetapi, para mahasiswa sudah berpikiran kalau dirinya itu tidak seperti teman-teman yang lainnya.

Dari hal itulah muncul rasa kurang percaya diri pada mahasiswa yang membuatnya jadi semakin ragu untuk mencoba hal-hal baru, semakin takut untuk bicara di depan tempat umum, serta semakin menghindari tugas-tugas yang sulit. Semua ini pada akhirnya malah menghambat pencapaian prestasi akademik mereka.

 

Dampak Overthinking terhadap Kesehatan Mental

Apabila overthinking terus dibiarkan, dampaknya bisa memburuk menjadi masalah kesehatan mental yang lebih parah, contohnya seperti stres berat, rasa cemas yang parah, hingga burnout. Mahasiswa yang mengalami burnout biasanya merasa mudah tersinggung, mudah sedih, sulit berkonsentrasi, tidak bersemangat kuliah, dan merasa tidak mampu menyelesaikan tugas apa pun.

Dalam penelitiannya (Agus Budiman et al., 2025) menunjukkan bahwa overthinking bukan lagi sekadar pola pikir biasa, melainkan telah menjadi masalah yang benar-benar memengaruhi keseharian para mahasiswa.

 

Solusi dalam Mengatasi Overthinking

Beberapa solusi yang bisa dilakukan untuk membantu mengatasi overthinking. Mahasiswa bisa memulai mengerjakan tugas yang paling mudah lebih dulu agar mengurangi rasa cemas.

Mengurangi membandingkan diri dan waktu penggunaan media sosial. Bisa juga dengan melakukan relaksasi, seperti olahraga santai, atau hanya berjalan kaki mampu menenangkan pikiran.

Dukungan dari teman, keluarga, atau konselor kampus memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa agar tidak merasa sendirian lagi. Dengan mengubah cara berpikir, mahasiswa harus menyadari bahwa kesalahan itu termasuk bagian dari proses belajar.

Overthinking biasa terjadi dalam kehidupan mahasiswa karena mereka sering menghadapi banyak tekanan akademik, masalah sosial, ataupun masalah pribadinya. Overthinking ini bisa mengganggu konsentrasi, yang bisa menimbulkan kebiasaan untuk menunda tugas, rasa percaya diri yang kurang, mengganggu waktu tidur, dan juga bisa menyebabkan burnout.

Dengan kita mengenali penyebab awal terjadinya overthinking, kita bisa mencegahnya dengan hal-hal yang bisa dilakukan. Contohnya seperti memperbaiki pola pikir, melakukan hal-hal kecil yang bisa membuat pikiran menjadi tenang, sehingga mahasiswa secara perlahan bisa mengurangi kebiasaan overthinking yang dialaminya.

 

Referensi

Agus Budiman, J., Hikayudi, A., & Zulfia, S. (2025). Dampak Overthinking terhadap Produktivitas Belajar dan Kesejahteraan Psikologis Mahasiswa di Perguruan Tinggi. In Online Journal System (Vol. 1, Issue 1).

Hami, F., Tsalim, R., & Putra, A. H. S. (2021). Hubungan Kualitas Tidur dengan Indeks Prestasi Mahasiswa Baru di Universitas Sari Mulia. Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI). https://doi.org/10.32419/jppni.v6i1.259

Heriyani, E., Muhammad Dapfa, A., Najwa Nurillah, A., Alfathu Rahman, Z., Ananda, M., & Muhamadiyah HAMKA, U. (2025). Dampak Overthinking di Kalangan Mahasiswa. Jurnal Fokus Konseling, 11, 212–222. https://doi.org/10.52657/jfk.v11i2.3002

Khilyatu Zahwa, F., Hanif, mun, & Negeri Abdurrahman Wahid Pekalongan, I. K. (2024). Strategi Efektif Mengatasi Stres Akademik Melalui Manajemen Waktu untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Mahasiswa. https://jurnalcendekia.id/index.php/jipp/

Safira, H., & Marimbun. (2023). Hubungan Intensitas Penggunaan Whatsapp terhadap Sikap Overthinking pada Siswa. In JUANG: Jurnal Wahana Konseling (Vol. 6, Issue 2).

Tanjaya, C. O., & Basaria, D. (2024). Gambaran Prokrastinasi Penyelesaian Skripsi pada Mahasiswa yang Tidak Lulus Tepat Waktu. In Syntax Admiration (Vol. 5, Issue 12).

Dina Ayu Pramesti, mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Email pramestidina14@gmail.com.

 


Penulis: Dina Ayu Pramesti
Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia, UIN Gusdur Pekalongan


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses