Pancasila di Tengah Masyarakat yang Terlalu Rasional dan Minim Kepedulian

Pancasila dan Masyarakat
Gambar: Freepik

Perubahan sosial yang dialami masyarakat Indonesia saat ini tidak hanya ditandai oleh kemajuan teknologi dan informasi, tetapi juga oleh pergeseran cara berpikir manusia.

Rasionalitas menjadi ukuran utama dalam menilai hampir seluruh aspek kehidupan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Efisiensi, produktivitas, dan kalkulasi untung-rugi perlahan menggantikan kepekaan, empati, dan kepedulian sosial.

Dalam kondisi seperti ini, masyarakat tampak semakin cerdas secara intelektual, namun sekaligus semakin berjarak secara emosional.

Rasionalitas pada dasarnya merupakan bagian penting dari perkembangan peradaban. Ia memungkinkan manusia berpikir logis, sistematis, dan objektif.

Namun persoalan muncul ketika rasionalitas berdiri sendiri tanpa diimbangi oleh nilai moral. Banyak individu mulai memandang hubungan sosial sebatas kepentingan, manfaat, dan timbal balik.

Kepedulian terhadap sesama sering kali dianggap sebagai beban, bukan kewajiban moral.

Fenomena ini terlihat dari meningkatnya sikap individualistis, menurunnya solidaritas sosial, serta kecenderungan untuk bersikap apatis terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan di sekitar.

Dalam konteks inilah Pancasila menemukan relevansinya sebagai filsafat hidup bangsa. Pancasila tidak menolak rasionalitas, tetapi menempatkannya dalam kerangka nilai kemanusiaan.

Rasio dalam perspektif Pancasila bukanlah rasio yang dingin dan kering, melainkan rasio yang berpijak pada hati nurani.

Dengan kata lain, Pancasila mengajarkan bahwa berpikir cerdas harus selalu disertai dengan sikap peduli.

Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa mengingatkan bahwa manusia bukan makhluk bebas tanpa batas.

Ada dimensi moral dan spiritual yang membimbing tindakan manusia, termasuk dalam penggunaan akal dan rasionalitas.

Kesadaran akan nilai ketuhanan menumbuhkan tanggung jawab etis bahwa setiap keputusan rasional harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya secara logis, tetapi juga secara moral.

Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menegaskan bahwa manusia tidak boleh direduksi menjadi sekadar angka, objek, atau alat.

Dalam masyarakat yang terlalu rasional, manusia sering diperlakukan berdasarkan fungsi dan produktivitasnya semata.

Pancasila hadir sebagai koreksi terhadap cara pandang ini, dengan menempatkan martabat manusia sebagai pusat kehidupan sosial.

Rasionalitas tanpa keadaban berpotensi melahirkan ketimpangan dan ketidakadilan yang dianggap wajar.

Nilai Persatuan Indonesia menjadi semakin penting ketika rasionalitas individual memecah ikatan sosial.

Ketika setiap orang hanya fokus pada kepentingan pribadi, persatuan kehilangan maknanya.

Pancasila mengingatkan bahwa kehidupan berbangsa tidak bisa dibangun hanya dengan logika individual, tetapi memerlukan kesadaran kolektif bahwa kita hidup dalam satu komunitas dengan nasib yang saling terkait.

Prinsip Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan juga menawarkan kritik terhadap dominasi rasionalitas pragmatis dalam pengambilan keputusan.

Keputusan yang hanya didasarkan pada efisiensi dan keuntungan jangka pendek sering kali mengabaikan suara kelompok rentan.

Pancasila menekankan pentingnya kebijaksanaan, yakni kemampuan mengolah rasio dengan empati dan kepekaan sosial.

Sementara itu, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menjadi puncak refleksi atas masyarakat yang minim kepedulian.

Ketimpangan sosial sering kali dianggap sebagai konsekuensi logis dari sistem rasional yang kompetitif.

Namun, Pancasila menolak normalisasi ketidakadilan. Rasionalitas pembangunan harus diarahkan untuk menciptakan kesejahteraan bersama, bukan hanya menguntungkan segelintir pihak.

Permasalahan utama bukan terletak pada apakah Pancasila masih relevan, melainkan pada bagaimana nilai-nilainya dihidupkan dalam keseharian.

Pancasila kerap berhenti sebagai slogan, simbol, atau hafalan normatif, tanpa benar-benar membentuk cara berpikir dan bersikap.

Di tengah masyarakat yang semakin rasional, Pancasila seharusnya hadir sebagai etika sosial yang menuntun penggunaan akal agar tidak kehilangan kepedulian.

Pada akhirnya, tantangan bangsa Indonesia hari ini bukan kekurangan kecerdasan, melainkan krisis kepekaan.

Pancasila menawarkan sintesis yang penting: rasionalitas yang manusiawi. Selama nilai-nilai Pancasila dijadikan landasan dalam berpikir dan bertindak, masyarakat dapat berkembang secara intelektual tanpa kehilangan empati.

Sebab kemajuan sejati bukan hanya tentang seberapa rasional manusia berpikir, tetapi seberapa besar kepedulian yang mampu ia jaga.

 

Penulis: Muhammad Alif Aqila
Mahasiswa Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Universitas Pamulang

Dosen Pengampu: Setiawati, S.Pd., M.H.

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses