Kabupaten Malang, MMI — Desa Putukrejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang menghadapi tantangan yang serius terkait ketersediaan air bersih, terutama saat musim kemarau.
Kondisi geografis yang berbukit dan jauh dari sumber air membuat warga terpaksa mengandalkan air tadahan, bantuan pemerintah, atau bahkan membeli air bersih dengan harga yang cukup tinggi tiap tangkinya (BPS Kabupaten Malang, 2024).
Padahal, air bersih merupakan sumber kehidupan—bukan hanya untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga untuk sektor pertanian (yang mana mayoritas mata pencaharian masyarakat desa tersebut adalah petani) dan pemenuhan gizi keluarga.
Fenomena krisis air yang terjadi di Desa Putukrejo bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan masalah kesehatan masyarakat. Kekurangan air bersih berdampak pada sanitasi yang buruk, menurunkan kualitas pangan, meningkatkan risiko infeksi pada anak dan pada akhirnya meningkatkan risiko stunting pada anak.
Stunting bukan hanya soal kekurangan gizi, tetapi juga tentang akses terhadap sumber daya dasar, termasuk air dan pangan.
Di wilayah perbukitan seperti Desa Putukrejo, keterbatasan air tentunya juga menghambat produktivitas pertanian—padahal pangan lokal adalah kunci ketahanan gizi keluarga. Maka, memastikan ketersediaan air bersih berarti sama dengan memastikan ketersediaan gizi.
Upaya yang dilakukan untuk mendapatkan ketersediaan air berkaitan dengan beberapa target SDGs di antaranya SDG 2 Zero Hunger yaitu menjamin ketahanan pangan Desa Putukrejo dan gizi yang baik dengan memastikan lahan pertanian mendapatkan cukup air, SDG 3 Good Health and Well-being yaitu dengan mencegah peningkatan angka stunting bagi balita melalui edukasi terkait pentingnya gizi seimbang dan kesehatan lingkungan kepada warga desa—termasuk kader dan siswa SD dan SMP di Desa Putukrejo, SDG 6 Clean Water and Sanitation yaitu menjamin air bersih dan sanitasi yang layak bagi semua warga Desa Putukrejo dengan mencari air tanah di beberapa titik, dan SDG 13 Climate Action yaitu adaptasi terhadap perubahan iklim melalui konservasi dan air hujan dengan Pemanenan Air Hujan (PAH) di beberapa rumah warga desa, SDG 15 Life on Land yaitu menjaga ekosistem darat dan kelestarian sumber daya air tanah yang ada di Desa Putukrejo dengan mengelaborasikan Pemanenan Air Hujan (PAH) dan Geolistrik.
Dari beberapa upaya yang telah dilakukan untuk ketahanan pangan dan pencegahan stunting di Desa Putukreo, saya berpendapat bahwa ketahanan pangan dan pencegahan stunting di Desa Putukrejo tidak akan dapat tercapai tanpa adanya ketersediaan air yang berkelanjutan.
Selama ini, banyak program gizi yang berfokus pada intervensi pangan tanpa memperhatikan faktor lingkungan dan sumber daya alam. Padahal, air adalah fondasi utama dari sistem pangan dan gizi.
Pemanfaatan air hujan melalui sistem penampungan sederhana serta pemetaan potensi air tanah menggunakan teknologi geolistrik merupakan solusi inovatif yang realistis.
Teknologi ini memungkinkan masyarakat menemukan sumber air bawah tanah secara efisien tanpa eksplorasi yang mahal dan juga membuat warga desa memiliki ketersediaan air bersih yang cukup ketika musim kemarau tiba, Jika diterapkan secara pastisipatif, hal tersebut akan berdampak baik secara berkepanjangan dalam perbaikan gizi dan pencegahan stunting (Norhasanah, N. & Suryani, N., 2021).
Baca Juga: Penyuluhan Pencegahan Anak Stunting pada Ibu Hamil: Program KKN-T Inovasi IPB 2024
Upaya memanfaatkan air hujan dan teknologi geolistrik, Desa Putukrejo tentunya dapat berkontribusi langsung terhadap pencapaian lima tujuan SDG sekaligus, yang mana hal tersebut adalah langkah kecil dengan dampak yang besar bagi pembangunan berkelanjutan.
Perlu dukungan dari pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat untuk berkolaborasi supaya program ini terus berlanjut.
Hal-hal yang dapat dilakukan di antaranya adalah mengembangkan program pemanenan air hujan di rumah-rumah dan lahan pertanian, menerapkan pemetaan geolistrik untuk mengidentifikasi cadangan air tanah potensial, melakukan edukasi pentingnya gizi seimbang dan sanitasi yang baik berbasis air bersih untuk keluarga, dan mengintegrasikan hasil inovasi ini ke dalam program ketahanan pangan dan pencegahan stunting tingkat desa.
Dengan sinergi lintas sektor, Desa Putukrejo dapat menjadi desa percontohan dalam menghubungkan inovasi teknologi, ketahanan pangan, dan kesehatan masyarakat menuju tercapainya target SDGs 2030.
Air adalah sumber kehidupan, dan mengelolanya secara bijak berarti menjaga masa depan generasi kita. Melalui pemanfaatan air hujan dan teknologi geolistrik, Desa Putukrejo memiliki peluang untuk membangun ketahanan air dan pangan yang kuat, yang mana hal tersebut adalah pondasi utama dalam mencegah stunting dan mewujudkan masyarakat sehat, tangguh, dan berkelanjutan sesuai dengan prinsip dan tujuan serta semangat SDGs.
Di tengah situasi ini, inovasi sederhana seperti Pemanenan Air Hujan (PAH) dan Teknologi Geolistrik untuk mencari potensi air tanah bisa menjadi solusi nyata yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs).
Penulis: Nadiyatul Abidah
Mahasiswa S1 Kebidanan Universitas Brawijaya
Aktif juga di BEM FK UB
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik Kabupaten Malang. (2024). Kecamatan Kalipare dalam angka 2024 (Vol. 16). Malang: BPS Kabupaten Malang.
Norhasanah, N. & Suryani, N. 2025. Upaya Promotif Pencegahan Stunting melalui Edukasi Gizi Seimbang. Jurnal Abdimas Kesehatan. 7(1).
Zuhriyah, L., Lufira, R. D., Muktiningsih, S. D., Rahayu, A. P., & Wiratmojo, M. A. 2021. Menabung Air Hujan untuk Kesehatan Lingkungan. Malang:Universitas Brawijaya Press.
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















