Paradoks Kerja Keras: Antara Upaya dan Rasa Tak Pernah Cukup

contoh kerja keras
Paradoks Kerja Keras: Antara Upaya dan Rasa Tak Pernah Cukup. Sumber: MMI.

Bagi banyak mahasiswa hari ini, bekerja keras bahkan sudah memulai sebelum lulus. Namun anehnya, semakin banyak yang dilakukan, rasa ‘cukup’ justru semakin sulit dirasakan.

Kuliah dijalani, magang diambil, organisasi diikuti, hingga side hustle dicoba. Semua dilakukan dengan satu harapan yang sama yaitu, ketika lulus nanti, hidup akan lebih aman.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun realitasnya tidak selalu sesederhana itu.

Tidak sedikit yang sudah berusaha sejak bangku kuliah, tetapi tetap merasa cemas ketika benar-benar memasuki dunia kerja. Gaji pertama datang, lalu habis begitu saja untuk kebutuhan dasar, biaya hidup, dan tuntutan yang terus bertambah. Ironisnya, semakin banyak yang dilakukan, justru semakin banyak yang merasa tertinggal.

Selama ini, kita dibesarkan dengan keyakinan bahwa kerja keras adalah kunci utama kesuksesan. Narasi ini tidak hanya datang dari orang tua, tetapi juga diperkuat oleh sistem pendidikan dan lingkungan sekitar.

Mahasiswa didorong untuk aktif, produktif, dan terus bergerak agar ‘siap menghadapi dunia kerja’. Namun, ketika dunia itu benar-benar dihadapi, banyak yang mulai menyadari bahwa realitasnya jauh lebih kompleks.

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia pada 2025 masih berada di kisaran 4,7 persen, dengan rata-rata upah buruh sekitar Rp3 jutaan per bulan.

Baca Juga: Cerita Chyntia Kuliah Sambil Kerja Pakai Suzuki Nex II Elegant

Angka ini menunjukkan bahwa meskipun kesempatan kerja tetap ada, tingkat kesejahteraan yang dihasilkan belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Masalahnya bukan hanya pada angka. Standar hidup juga ikut berubah. Mahasiswa hari ini tidak lagi hanya memikirkan kebutuhan dasar, tetapi juga gaya hidup, pengalaman, dan pencapaian yang sering kali terbentuk dari apa yang mereka lihat di media sosial. Tanpa disadari, definisi ‘cukup’ menjadi semakin tinggi dan sekaligus semakin sulit dijangkau.

Di sinilah paradoks itu menjadi nyata. Kita tidak hanya bekerja untuk hidup, tetapi juga untuk mengejar standar hidup yang terus bergerak.

Melihat teman magang di perusahaan besar, teman lain sudah memiliki penghasilan tambahan, atau bahkan yang terlihat ‘lebih dulu berhasil’, tanpa sadar membentuk tekanan baru. Akibatnya, kerja keras terasa seperti kewajiban tanpa garis akhir yang jelas.

Namun, menyalahkan sistem sepenuhnya juga tidak cukup jujur. Ada bagian yang perlu dikritisi dari cara kita merespons tekanan tersebut.

Tidak sedikit mahasiswa yang sibuk mengikuti banyak aktivitas, tetapi tidak benar-benar membangun satu kompetensi yang kuat. Banyak hal dikerjakan, tetapi tidak semuanya memberikan arah yang jelas. Akibatnya, ketika memasuki dunia kerja, yang dimiliki adalah pengalaman yang banyak, tetapi belum tentu mendalam.

Baca Juga: Hustle Culture: Budaya Kerja Keras yang Merugikan

Di sisi lain, sistem memang turut membentuk pola tersebut. Ketika upah awal karier relatif terbatas sementara kebutuhan terus meningkat, dorongan untuk mencari penghasilan tambahan menjadi hampir tidak terhindarkan.

Side hustle, freelance, hingga pekerjaan sampingan bukan lagi sekadar pilihan, tetapi sering kali menjadi kebutuhan. Namun, tanpa arah yang jelas, semua itu bisa berubah menjadi siklus kelelahan—bergerak terus, tetapi tidak benar-benar berkembang.

Di titik ini, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan lagi seberapa keras kita bekerja, tetapi bagaimana kita memahami arti ‘cukup’. Masalahnya mungkin bukan karena kita kurang bekerja keras, melainkan karena ‘cukup’ itu sendiri telah menjadi target yang terus bergeser.

Selama standar itu terus ditentukan oleh perbandingan sosial dan ekspektasi yang tidak realistis, kerja keras akan selalu terasa kurang. Kita akan terus merasa tertinggal, seberapa pun banyak yang sudah dilakukan. Kerja keras tetap penting.

Namun, di dunia yang sudah berubah, kerja keras tanpa arah hanya akan membuat seseorang sibuk bertahan, bukan benar benar bertumbuh.

Jika hari ini banyak mahasiswa merasa sudah berusaha, tetapi tetap cemas menghadapi masa depan, mungkin masalahnya bukan semata karena mereka kurang bekerja keras. Bisa jadi, kita masih menggunakan cara lama untuk menghadapi dunia yang sudah lama berubah.


Penulis: Syifa Nurfiyani Arfan
Mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah Universitas Tazkia


Dosen Pengampu: Miftakhus Surur, S.E.I., M.Sc (Fin)


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses