Patologi Sosial di Cukir: Antara Industri Pabrik Gula dan Krisis Lingkungan

Patologi Sosial di Cukir: Antara Industri Pabrik Gula dan Krisis Lingkungan
Patologi Sosial di Cukir: Antara Industri Pabrik Gula dan Krisis Lingkungan

Saya lahir dan besar di Cukir, sebuah daerah yang menjadi bagian penting dari Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Di mata banyak orang, Cukir dikenal sebagai daerah religius karena dekat dengan makam KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.

Namun dibalik citra religius itu, terdapat masalah serius yang selama ini jarang diungkap dengan lantang yakni pencemaran lingkungan akibat limbah pabrik gula yang berdiri megah di tengah-tengah kehidupan kami.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Masalah ini tidak hanya menodai kebersihan sungai, tetapi juga telah berkembang menjadi sebuah patologi sosial yang merusak harmoni antara masyarakat, lingkungan, dan dunia industri.

Awalnya, keberadaan pabrik gula di daerah kami dipandang sebagai simbol kemajuan. Pabrik ini membuka lapangan kerja bagi sebagian warga, menggerakkan roda ekonomi, dan memberi harapan bahwa desa kami akan lebih sejahtera.

Orang-orang tua di sekitar saya masih ingat bagaimana dulu, ketika pabrik mulai beroperasi, semangat masyarakat begitu tinggi. Kami percaya, industri yang berdiri di tanah kami akan membawa kebaikan.

Baca Juga: Pencemaran Lingkungan: Konflik Atas Hak Masyarakat di Desa Torobulu, Kecamatan Laeya

Namun kenyataannya berbeda. Semakin lama pabrik beroperasi, semakin jelas pula dampak negatif yang ditimbulkannya. Sungai yang dulu jernih, tempat anak-anak bermain air dan ibu-ibu mencuci pakaian, kini berubah menjadi aliran keruh penuh limbah.

Bau menyengat seringkali tercium, terutama ketika musim giling tiba. Tidak jarang, polusi udara dari cerobong pabrik menambah sesak napas warga. Harapan yang dulu begitu indah, perlahan berubah menjadi kekecewaan yang mendalam.

Selain pencemaran sungai, polusi udara juga menjadi masalah besar. Setiap kali mesin pabrik beroperasi, asap hitam mengepul ke langit, membawa partikel yang tak kasat mata. Anak-anak dan orang tua paling merasakan dampaknya.

Batuk, sesak nafas, bahkan penyakit kulit mulai menjadi keluhan yang sering terdengar. Udara yang seharusnya menjadi anugerah Tuhan untuk dihirup bebas, kini terasa berat, seakan penuh dengan racun yang tak terlihat.

Polusi ini menambah beban psikologis masyarakat. Kami hidup dalam ketidakpastian. Masalah pencemaran lingkungan ini tidak hanya berdampak pada alam, tetapi juga memunculkan patologi sosial di tengah masyarakat.

Warga Cukir kini terpecah dalam menyikapi keberadaan pabrik. Ada yang memilih diam karena merasa bergantung pada pekerjaan di pabrik, ada pula yang berani bersuara lantang menuntut keadilan lingkungan. Perbedaan pandangan ini memunculkan ketegangan sosial yang nyata.

Baca Juga: Perjuangan Melawan Pencemaran Udara di Malang: Tantangan dan Solusi Menuju Malang Bebas Polusi

Bagi mereka yang bekerja di pabrik, suara kritis sering dianggap ancaman terhadap mata pencaharian. Sementara bagi warga yang terdampak langsung, diam sama saja dengan menggadaikan masa depan generasi.

Perpecahan kecil ini lambat laun menimbulkan jarak di antara sesama warga yang sebelumnya hidup rukun. Inilah yang saya maksud sebagai patologi sosial, sebuah penyakit sosial yang lahir dari konflik antara kepentingan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

Sebagai warga, saya merasakan dilema besar. Di satu sisi, pabrik gula telah memberi peluang kerja. Namun disisi lain, dampak lingkungannya jauh lebih merugikan.

Kami seperti terjebak dalam lingkaran setan, tidak bisa menolak keberadaan pabrik karena dianggap penopang ekonomi, tetapi juga tidak bisa menutup mata terhadap kerusakan lingkungan yang kian parah.

Rasanya seperti berdiri di persimpangan jalan. Jika kami terus diam, maka sungai akan semakin mati, udara semakin tercemar, dan masyarakat semakin terpecah.

Namun jika kami bersuara, belum tentu ada perubahan nyata, bahkan bisa jadi kami dicap sebagai pengganggu stabilitas. Perasaan tidak berdaya inilah yang paling menyakitkan sebagai warga kecil yang hanya ingin hidup sehat dan damai.

Meski penuh dengan keprihatinan, saya masih menyimpan harapan. Saya percaya, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya jika semua pihak mau membuka hati dan pikiran. Pertama, pihak pabrik harus memiliki tanggung jawab moral dan sosial.

Mereka tidak boleh hanya mengejar keuntungan semata, melainkan juga menjaga keseimbangan alam yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Teknologi ramah lingkungan seharusnya bisa diterapkan agar limbah tidak lagi mencemari sungai, dan polusi udara bisa diminimalisir.

Baca Juga: Kota Tangerang Selatan jadi Ladang Polusi Terburuk di Jabodetabek: Apakah Pemerintah Terkait Paham tentang Permasalahan yang Terjadi?

Kedua, pemerintah daerah harus turun tangan lebih serius. Regulasi lingkungan harus ditegakkan, bukan hanya menjadi formalitas di atas kertas. Jika ada pelanggaran, sanksi harus jelas dan tegas. Masyarakat berhak mendapatkan perlindungan, bukan sekadar janji manis yang tak pernah terwujud.

Ketiga, masyarakat sendiri juga harus bersatu. Kami tidak boleh terpecah oleh kepentingan jangka pendek. Suara kolektif warga Cukir bisa menjadi kekuatan besar untuk mendorong perubahan. Kesadaran lingkungan harus ditanamkan pada setiap individu, agar kami tidak lagi menjadi korban yang pasif, tetapi menjadi pelaku aktif dalam menjaga kelestarian daerah kami.

Saya bermimpi suatu hari nanti, anak-anak Cukir bisa kembali bermain di sungai tanpa rasa takut. Saya ingin melihat air jernih mengalir, ikan-ikan kembali berenang, dan udara kembali segar untuk dihirup.

Saya ingin masyarakat kami kembali hidup rukun, tanpa perpecahan karena persoalan industri. Singkatnya, saya ingin Cukir kembali bernafas dengan lega, bebas dari beban pencemaran dan patologi sosial yang kini menghantuinya.

Permasalahan pencemaran lingkungan di Cukir bukanlah sekadar isu teknis, melainkan masalah kemanusiaan yang nyata. Ketika sungai tercemar, udara kotor, dan masyarakat terpecah, maka kehidupan kami sebagai manusia juga terganggu.

Saya menulis ini bukan untuk menebar kebencian, melainkan sebagai bentuk cinta saya pada tanah kelahiran. Sebagai warga Cukir, saya ingin perubahan nyata agar pabrik gula yang berdiri di sini bukan hanya menjadi simbol industri, tetapi juga teladan dalam menjaga keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan kehidupan sosial.

Cukir berhak atas masa depan yang lebih baik. Dan kami, warganya, tidak akan berhenti berharap, berdoa, dan berjuang untuk mewujudkannya.

Penulis: Farihatul Mufidah Ali Rohman
Mahasiswa Prodi Tasawuf dan Psikoterapi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Dosen Pengampu: Uchy Khadijah
Asisten Dosen (asdos): Ahmad Khoirudin

Editor: Fifi Elvira
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses