Pencemaran Organik Picu Ledakan Alga Berbahaya di Wilayah Pesisir

Pencemaran Organik
Gambar Harmfull Algae Bloom di Wilayah Pesisir Menyebabkan Laut Berwarna Hijau (Sumber: Penulis)

Wilayah pesisir yang dikenal memiliki produktivitas biologis tinggi kini menghadapi ancaman serius akibat meningkatnya pencemaran organik dari aktivitas manusia. Limbah rumah tangga, pertanian, peternakan, serta industri makanan yang mengalir ke perairan menyebabkan peningkatan bahan organik dan nutrien seperti nitrogen dan fosfor.

Kondisi ini memicu pertumbuhan pesat fitoplankton, namun dalam jangka panjang menyebabkan eutrofikasi hingga ledakan alga yang tidak terkendali.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Peningkatan kadar nutrien mempercepat terbentuknya Harmful Algae Bloom (HAB), yaitu fenomena di mana alga tertentu tumbuh berlebihan dan menghasilkan racun berbahaya. Air menjadi keruh dan penetrasi cahaya menurun drastis, menghambat fotosintesis pada lamun dan alga bentik. Dampak ini turut menurunkan stabilitas produktivitas primer di wilayah pesisir.

Proses dekomposisi biomassa alga yang mati dalam jumlah besar memperburuk kondisi dengan menurunkan oksigen terlarut (DO). Hipoksia hingga anoksia tak terhindarkan, mengancam biota air dan merusak habitat penting. Parameter kualitas air seperti BOD dan TSS pun meningkat, menyebabkan perairan semakin tidak sehat dan mengganggu aktivitas perikanan serta rekreasi.

Baca juga: Mengenal Pengertian, Tujuan, dan Sistem Klasifikasi Makhluk Hidup

Selain itu, pencemaran organik mengubah struktur komunitas fitoplankton. Spesies yang tahan nutrien tinggi mendominasi, sementara jenis yang membutuhkan kondisi stabil menurun jumlahnya. Dominasi ini mengganggu rantai makanan, karena beberapa alga seperti Cyanophyta memiliki nilai nutrisi rendah bagi zooplankton. Akibatnya, aliran energi dalam ekosistem terganggu dan produktivitas primer semakin menurun.

Jika beban bahan organik melebihi kapasitas asimilasi perairan, ekosistem pesisir kehilangan kemampuan alami untuk memulihkan diri. Kondisi ini mempercepat pembentukan zona mati dan mengancam keberlanjutan organisme penting seperti lamun, fitoplankton sensitif, dan makroalga.

Para ahli mengingatkan bahwa tanpa pengelolaan limbah yang lebih baik, wilayah pesisir dapat kehilangan fungsi ekologis dan ekonominya secara permanen.

 

Penulis:

  1. Reyhan Raffi Haridza Ali
  2. Desta Suryanto
  3. Muhammad Rizky Rainaldi Khairunnisa
  4. Azizah
  5. Rafi Rizki Ramadan

Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Jenderal Soedirman
Dosen Pengampu: Adinda Kurnia Putri

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses