Abstract
The traditional herbal drink (jamu) industry in Indonesia is still dominated by home-based micro-enterprises that utilize manual production methods. UMKM Jamu Mak Har, located in Selotapak Village, Mojokerto, produces herbal variants such as kunyit asam, beras kencur, and sirih wangi.
However, the squeezing process was carried out manually using bare hands, which was time-consuming and less hygienic. This community service project introduces an innovative herbal press tool made from low-cost and accessible materials.
Through planning, construction, and field implementation, the tool has proven effective in improving efficiency and sanitation in the production process. The innovation not only increased productivity but also enhanced the motivation and sustainability of the business.
Keywords: Innovation in Herbal Medicine Squeezing Tools, Appropriate Technology, traditional herbal medicine, UMKM, production efficiency, Mak Har herbal medicine
Abstrak
Industri jamu tradisional di Indonesia masih banyak dijalankan oleh pelaku UMKM berbasis rumah tangga dengan metode produksi manual. UMKM Jamu Mak Har di Desa Selotapak, Mojokerto, memproduksi jamu kunyit asam, beras kencur, dan sirih wangi dengan metode pemerasan tangan yang kurang efisien dan higienis.
Untuk menjawab tantangan tersebut, program pengabdian masyarakat ini memperkenalkan alat pemeras jamu berbasis teknologi tepat guna yang dirancang dari bahan bekas namun fungsional. Alat ini dibuat melalui proses perencanaan, perakitan, dan implementasi langsung oleh mitra.
Hasilnya menunjukkan peningkatan efisiensi waktu, kualitas kebersihan produksi, serta semangat pelaku usaha dalam mengembangkan usahanya.
Kata kunci: Inovasi Alat pemeras Jamu, Teknologi Tepat Guna, jamu tradisional, UMKM, efisiensi produksi, jamu Mak Har
Pendahuluan
Latar Belakang
Jamu merupakan warisan budaya nusantara yang memiliki manfaat kesehatan dan masih digemari oleh masyarakat. Namun, proses produksi jamu tradisional oleh pelaku UMKM seringkali masih dilakukan secara manual, terutama pada tahap pemerasan bahan baku seperti kunyit, kencur, dan daun sirih. Hal ini menjadi tantangan dalam hal efisiensi dan kebersihan produksi.
UMKM Jamu Mak Har, salah satu pelaku usaha jamu rumahan di Desa Selotapak, Mojokerto, masih memproduksi jamu dengan metode manual. Kegiatan pemerasan dilakukan menggunakan tangan, yang memakan waktu dan mengurangi kualitas higienitas.
Melalui kegiatan KKN di bawah naungan Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, mahasiswa kelompok Reguler R37 Sub Kelompok 5 merancang dan mengimplementasikan alat pemeras jamu sederhana namun efektif, sebagai bentuk teknologi tepat guna.
Metode
Kelompok KKN Reguler R37 Sub Kelompok 5 melakukan observasi dan wawancara langsung dengan mitra UMKM Jamu Mak Har. Dimulai dari alat yang digunakan unruk memproduksi jamu dan kemasan yang digunakan oleh produsen, Hasilnya menunjukkan bahwa proses pemerasan menjadi hambatan utama dalam produksi, baik dari sisi tenaga, waktu, maupun sanitasi.
Hasil dan Pembahasan
1. Alat Pemeras Jamu Teknologi Tepat Guna
Alat yang digunakan terdiri atas toples es buah berkapasitas 21 liter, dua kayu penjepit, tuas pemutar dari besi, saringan kain, dan keran kecil. Cara kerjanya sederhana: ampas jamu diletakkan di dalam kain penyaring, kemudian ditekan secara manual oleh dua bilah kayu menggunakan tuas putar sehingga sari jamu menetes ke dalam toples. Alat ini
2. Variasi Produk Jamu Mak Har
Produk jamu yang dihasilkan terdiri dari tiga varian:
a. Kunyit Asam
Mengandung kurkumin dan asam jawa. Berfungsi sebagai antiinflamasi, antioksidan, dan pelancar haid.
b. Beras Kencur
Mengandung beras, kencur, jahe, dan asam jawa. Berfungsi untuk meningkatkan nafsu makan, menyegarkan tubuh, dan meredakan pegal-pegal.
c. Sirih Wangi
Berbasis daun sirih dengan tambahan rempah wangi. Bermanfaat sebagai antiseptik alami dan menjaga kesehatan kewanitaan.
3. Implikasi Penggunaan Alat
Dengan alat ini, kapasitas produksi jamu meningkat signifikan. Pekerjaan manual yang sebelumnya memakan waktu dan tenaga kini lebih ringan. Selain itu, alat ini ramah lingkungan dan tidak menghasilkan limbah berbahaya.

Proses penambahan garam dapur (NaCl) ke dalam larutan rebusan jamu kunyit asam. Meskipun jumlah yang digunakan relatif kecil, penambahan garam memiliki beberapa fungsi penting dalam konteks formulasi jamu tradisional, baik dari sisi organoleptik, kimia, maupun bioaktivitas.
a. Penyeimbang rasa
Garam digunakan untuk menyeimbangkan rasa jamu yang cenderung pahit (dari kunyit) dan asam (dari asam jawa). Penambahan sedikit garam dapat meningkatkan cita rasa dan membuat jamu lebih dapat diterima oleh konsumen (Suratno & Rachmawati, 2018).
b. Meningkatkan Ekstraksi Senyawa Aktif
Garam dapat memengaruhi kelarutan senyawa polar dan non-polar saat proses perebusan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kehadiran ion natrium (Na⁺) dapat mempercepat pelepasan senyawa kurkumin dari rimpang kunyit ke dalam air rebusan (Putra et al., 2021).
c. Efek Antimikroba Tambahan
Meskipun tidak signifikan dalam jumlah kecil, konsentrasi garam dapat membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme tertentu dalam produk jamu, terutama bila dikombinasikan dengan gula merah yang juga bersifat osmotik (Nurrahmawati & Setiawan, 2020).
Baca juga: Sehat Jiwa Raga dengan Jamu Toga: Solusi Anti-Stres ala Mahasiswa BK UNS untuk Ibu-Ibu PKK Posanan
Penambahan gula merah (sering disebut juga gula aren atau gula kelapa) merupakan tahapan penting dalam proses pembuatan jamu tradisional, termasuk jamu kunyit asam. Gula merah digunakan tidak hanya sebagai pemanis alami, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap stabilitas produk, keseimbangan rasa, dan bahkan manfaat fungsional tambahan.
a. Peningkat Cita Rasa
Rasa jamu kunyit asam cenderung pahit dan asam karena kandungan kurkumin dari kunyit dan asam tartarat dari asam jawa. Gula merah memberikan kelezatan rasa manis yang lembut dan seimbang, tanpa meninggalkan rasa getir seperti gula pasir (Sucipto & Ratnawati, 2020).
b. Sumber Energi Alami
Gula merah mengandung karbohidrat kompleks, sehingga dapat menjadi sumber energi yang lebih stabil dibandingkan dengan gula rafinasi. Ini menjadikan jamu kunyit asam cocok dikonsumsi saat kelelahan, setelah haid, atau aktivitas berat (Rohmah & Isnaini, 2019).
c. Menambah Nilai Gizi
Berbeda dengan gula putih, Gula merah mengandung mineral mikro seperti: Zat bes, Kalsium, Mgnesium, Kalium yang turut berkontribusi meningkatkandaya tahan tubuh dan memperlancar peredarab darah.

Proses pemerasan atau penyaringan jamu kunyit asam menggunakan kain penyaring (biasanya kain mori atau kain muslin) dan wadah plastik besar sebagai tempat penampungan hasil perasan. Proses ini merupakan tahap penting dalam produksi jamu tradisional yang bertujuan untuk memisahkan ampas dari sari jamu agar didapatkan hasil yang jernih, bersih, dan higienis.
3. Proses Penyaringan atau Pemerasan Jamu
a. Alat yang digunakan
- Kain penyaring: Berfungsi untuk menyaring ampas kunyit, asam, dan rempah lainnya setelah direbus
- Wadah besar plastik: Sebagai tempat penampungan sari jamu yang telah disaring.
- Gelas takar plastik: Digunakan untuk menuangkan hasil rebusan ke kain saring.

Alat ini bekerja dengan prinsip penyaringan gravitasi yang diperkuat tekanan manual. Setelah proses perebusan bahan-bahan herbal seperti kunyit dan asam jawa selesai, cairan hasil rebusan dituang ke atas kain saringan.
Pemerasan dilakukan dengan memutar tuas (engkol) untuk menekan ampas, sehingga sari jamu keluar dan tertampung di wadah di bawahnya. Metode ini dinilai efektif untuk menjaga kandungan zat aktif seperti kurkumin, asam organik, dan antioksidan alami yang mudah rusak jika diproses dengan tekanan atau suhu tinggi dari mesin modern (Kusuma et al., 2021).
Pemanfaatan alat pemeras manual juga relevan dalam konteks produksi skala kecil atau industri rumah tangga, karena sifatnya yang ekonomis, mudah digunakan, dan tidak memerlukan daya listrik. Selain itu, alat ini mendukung prinsip produksi ramah lingkungan dan berkelanjutan karena tidak menghasilkan limbah energi atau panas berlebih (Wulandari & Setyawan, 2020).

Proses pengemasan merupakan tahapan penting dalam produksi jamu tradisional untuk menjaga kebersihan, daya tahan, dan kemudahan distribusi produk.
Pada gambar di atas, tampak penggunaan wadah penampungan plastik berkeran (volume 21 liter) yang digunakan sebagai alat distribusi manual jamu cair ke dalam botol kemasan. Wadah ini bersifat food grade dan dilengkapi keran, yang berfungsi untuk mengatur aliran cairan jamu ke botol secara efisien dan higienis.
Wadah ini biasa digunakan dalam industri rumah tangga atau UMKM jamu, karena memiliki kapasitas besar, mudah dibersihkan, dan meminimalisir kontak langsung antara cairan jamu dengan tangan atau alat lain, sehingga mengurangi risiko kontaminasi mikroba (Sulastri & Dewi, 2020).
Pemanfaatan keran sebagai kontrol aliran juga membantu proses penakaran volume jamu ke dalam botol secara presisi, serta menjaga kebersihan selama pengemasan (Dewantara et al., 2021).
Botol plastik yang digunakan untuk kemasan juga merupakan bagian dari sistem pengemasan primer. Umumnya digunakan botol PET (Polyethylene Terephthalate) karena ringan, transparan, tahan panas sedang, dan tidak.

Penutup
Kesimpulan
Penerapan alat pemeras jamu berbasis Teknologi Tepat Guna pada UMKM Jamu Mak Har berhasil meningkatkan efisiensi produksi jamu tradisional yang sebelumnya dilakukan secara manual. Inovasi alat ini tidak hanya mempercepat proses pemerasan dan meningkatkan kebersihan produk, tetapi juga mendorong semangat pelaku usaha untuk terus berkembang.
Alat yang sederhana dan mudah dirakit ini terbukti efektif dalam membantu meningkatkan kapasitas produksi, mengurangi beban kerja, serta mendukung keberlanjutan usaha jamu rumahan. Penerapan teknologi tepat guna semacam ini menjadi solusi strategis dalam pemberdayaan UMKM lokal sekaligus pelestarian warisan budaya jamu tradisional.
Saran
1. Pengembangan Alat Lebih Lanjut
Perlu dilakukan modifikasi desain agar alat pemeras jamu lebih ergonomis, kuat, dan efisien dalam penggunaannya, termasuk potensi penggunaan tenaga listrik atau sistem hidrolik sederhana.
2. Peningkatan Kualitas Bahan Baku dan Kualitas Higienitas Produksi
Penting untuk memastikan ketersediaan bahan baku jamu yang berkualitas tinggi dan terjaga kebersihannya. Selain itu , perlu diterapkan standart higienis yang ketat dalam seluruh proses produksi jamu, mulai dari pencucian bahan baku hingga pengemasan produk akhir, untuk menjamin keamanan dan kualitas produk jamu yang di hasilkan.
Penulis:
- Maria Angela Kurniawati
- Sekar Malca Danela
- Desfan Amdrea Pratama
- Moch Iqbal Fachrezi
- Dicky Febrian
Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Dosen Pengampu: Elisa Sulistyorini
Referensi
Suratno, A., & Rachmawati, I. (2018). Pengaruh Komposisi Bahan Terhadap Cita Rasa Jamu Tradisional Kunyit Asam. Jurnal Teknologi Pangan Tradisional, 3(1), 22–29.
Nurrahmawati, S., & Setiawan, H. (2020). Pengaruh Garam dan Gula terhadap Daya Simpan Minuman Herbal Tradisional. Jurnal Teknologi Minuman Nusantara, 4(2), 63–70.
Nurrahmawati, S., & Setiawan, H. (2020). Pengaruh Garam dan Gula terhadap Daya Simpan Minuman Herbal Tradisional. Jurnal Teknologi Minuman Nusantara, 4(2), 63–70.
Nurrahmawati, S., & Setiawan, H. (2020). Pengaruh Garam dan Gula terhadap Daya Simpan Minuman Herbal Tradisional. Jurnal Teknologi Minuman Nusantara, 4(2), 63–70.
Winarno, F.G. (2004). Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Sari, A.M., & Widodo, M. (2018). Pengaruh Proses Penyaringan terhadap Mutu Organoleptik dan Daya Simpan Jamu Tradisional Kunyit Asam. Jurnal Teknologi Pangan, 3(2), 57–64.
Badan POM RI. (2020). Pedoman Produksi Jamu yang Baik dan Higienis. https://pom.go.id
Agustina, N. S., & Hidayat, T. (2019). Studi Pengaruh Jenis Kemasan Terhadap Mutu Jamu Cair Tradisional Selama Penyimpanan. Jurnal Teknologi Pangan dan Gizi, 10(1), 34–40.
Dewantara, R. S., Prasetyo, T. D., & Wahyuni, L. (2021). Pengaruh Sistem Penampungan terhadap Stabilitas Fisik dan Higienitas Produk Jamu Tradisional. Jurnal Inovasi Teknologi Herbal, 6(2), 57–63.
Sulastri, R., & Dewi, M. P. (2020). Manajemen Higiene dan Sanitasi dalam Produksi Minuman Tradisional Jamu Berbasis Rumah Tangga. Jurnal UMKM Sehat dan Mandiri, 3(3), 75–82.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2020). Teknologi Tepat Guna.
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. (2021). Pedoman Teknologi Tepat Guna.
Fitriana, T. (2022). Inovasi Alat Pemeras Jamu Sederhana Bagi Industri Rumah Tangga. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(2).
Universitas Gadjah Mada (UGM). (2023). Macam-Macam Jamu Tradisional dan Khasiatnya.
Kompas.com. (2021). “Khasiat Jamu Tradisional: Dari Kunyit Asam hingga Beras Kencur.”
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












