Pengaruh Keadaan Ekonomi terhadap Kesehatan Mental

Uang
Pengaruh Keadaan Ekonomi terhadap Kesehatan Mental

Menurut WHO, kesehatan jiwa justru merupakan kondisi di mana seseorang menerima haknya, dapat mengatasi tekanan hidup normal, dapat bekerja secara efektif dan efisien, serta dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat di sekitarnya.

Sedangkan menurut Mayo Clinic, gangguan jiwa terjadi ketika kondisi mental sedang tidak baik dan kondisi tersebut dapat memengaruhi perilaku, suasana hati, dan pikiran seseorang.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Seperti halnya penyakit fisik lainnya, penyakit jiwa juga berdampak signifikan pada kemampuan seseorang untuk bekerja dan menjalankan tugas sehari-hari, yang memengaruhi level dan kinerjanya (Trautmann et al., 2016).  

Baca Juga: Manfaat Ibadah bagi Kesehatan Menurut Agama Islam

Selain itu, pengobatan penyakit jiwa tentunya akan menimbulkan biaya ekonomi yang besar. Menurut Trautman dalam penelitiannya yang berjudul “The Economic Cost of Mental Health”, mengobati penyakit jiwa akan menimbulkan dua macam biaya, yaitu biaya yang terlihat dan biaya yang tidak terlihat.

Biaya yang terlihat meliputi biaya kunjungan dokter, penggunaan obat-obatan, pengobatan psikiatris, dan lain-lain. Sementara itu, biaya tak terlihat ini muncul dari ketidakmampuan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan sehari-hari yang mempengaruhi uang, tenaga kerja, efisiensi, dan produktivitas. 

Keadaan ekonomi dan kesehatan mental seseorang memang berbeda-beda. Ada yang keadaan ekonominya terpenuhi, tetapi kesehatan mentalnya rendah, ada yang keadaan ekonominya kurang tetapi kesehatan mentalnya bagus, atau bahkan ada yang keadaan ekonomi dan mentalnya sama-sama bagus tetapi tidak puas dengan hidup yang dijalaninya sekarang.

Pernah mendengar kata-kata atau pernyataan “Kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang” atau “Uang bukan segalanya”? Jika iya apa yang terlintas di pikiranmu? Apakah kamu setuju atau justru kamu tidak setuju?  

Menurut saya, saya tidak setuju dengan pernyataan tersebut, karena saya sudah merasakannya sendiri tidak enak menjadi orang yang ekonominya tidak stabil. “Kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang”, menurut saya bisa, dengan membeli barang-barang yang disukai kita bisa bahagia.

Selain itu jika sedang stres, dengan uang kita bisa pergi kemana saja, makan apa saja yang akan membuat diri kita bahagia.  

Masalah keuangan atau situasi stres keuangan dapat memperburuk kesehatan mental. Kemungkinan penyebabnya adalah:  

1. Stres finansial dapat memicu perasaan panik dan cemas

Berdasarkan pengalaman saya, jika kita sedang hung out atau nongkrong dengan teman dalam kondisi keuangan menipis, maka akan muncul rasa stres yang menyebabkan kita panik dan cemas.

Karena hal yang ditakutkan seperti “Ini uang cukup ga ya buat bayar makanannya?” atau “Duh pengeluaran buat nongkrong doang banyak banget, ada sisa ga ya?”.

Baca Juga: Kesehatan Anugerah Terindah dari Tuhan

2. Khawatir tentang situasi keuangan kamu dapat menyebabkan kamu sulit tidur

Setelah panik dan cemas, kita akan merasa tidak tenang sampai kesulitan untuk tidur. Overthinking adalah salah satu penyebabnya. Semisal kamu adalah seorang anak rantau yang sedang bekerja di suatu perusahaan dengan gaji yang cukup, tetapi suatu hari kamu ulang tahun dan karena tidak enak maka kamu mentraktir semua orang di kantor sampai-sampai menggunakan uang tabungan.

Setelah pulang kerja kamu baru mengecek saldo kamu yang ternyata saldo tersebut juga untuk dikirimkan ke orangtuamu di kampung. Setelah melihat saldo itu, kamu terus-terusan overthinking mikirin uang yang harus dikirim ke kampung dengan kebutuhanmu sehari-hari sampai kamu susah tidur. 

3. Masalah keuangan mencegah kamu membeli barang-barang yang kamu butuhkan untuk tetap sehat

Mulailah dengan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi setiap hari seperti makanan dan tempat tinggal. Untuk kebutuhan seperti perawatan kesehatan, pengobatan, dan terapi. Seperti pepatah “Besar pasak daripada tiang” yang berarti lebih besar pengeluaran daripada pendapatan.

Kamu dipaksa untuk berhemat dan menahan diri untuk membeli kebutuhan. Bahkan ketika stres melanda, kamu harus menahan diri untuk ke terapis. 

4. Masalah keuangan juga akan mempengaruhi kehidupan seseorang

Merasa kesepian atau terisolasi dari orang lain. Kamu merasa tidak bisa melakukan apa yang kamu inginkan. 

Jika kamu punya lingkup pertemanan yang hidupnya mewah-mewah, mereka bisa membeli apapun yang mereka mau, maka ada rasa kamu terisolasi di dalam lingkup pertemanan tersebut. Belum lagi ketika mereka bercerita tentang barang-barang yang mereka sudah beli yang seharga uang makanmu selama sebulan.

Selain itu, jika lingkup pertemananmu sedang ingin refreshing, hal yang kamu bisa lakukan hanya menolak ajakan dan timbul perasaan tersingkirkan karena tidak ikut ajakan temanmu. 

Baca Juga: Belajar Ilmu Kesehatan Mental itu Penting, Benarkah?

Jika kamu mempunyai keadaan ekonomi dan finansial yang sedang buruk, mungkin salah satu solusi yang dapat kamu lakukan agar stres, depresi, atau cemas yang kamu rasakan berkurang adalah: 

  1. Dengan bercerita ke sahabatmu atau orang terdekat yang kamu punya. Atau jika ingin memiliki ketenangan batin, dan takut jika rahasiamu disebarluaskan, kamu bisa curhat ke Tuhan YME sambil ibadah; 
  2. Buat planning untuk keuanganmu, ini bertujuan agar pengeluaran dan penghasilan kamu seimbang;
  3. Mulai aktivitas produktif, seperti menjaga pola tidur, pola makan, rajin berolahraga, dan lain-lain. 

Hubungan antara kesehatan mental dan status keuangan tidak dapat dipisahkan. Semua aspek bisa saling mempengaruhi. Selama kamu bisa mendukung keadaan ekonomi kamu, maka kesehatan mental kamu juga akan baik. Di sisi lain, pola pikir yang positif akan mendukung produktivitas dan memperbaiki situasi keuangan kamu.  

Penulis: Febriana Widiyan Sukma
Mahasiswa Mass Communication Binus University

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

References 

Apa Saja hubungan kesehatan mental dan kondisi finansial? (2022, October 7). Money Plus. https://blog.amartha.com/apa-saja-hubungan-kesehatan-mental-dan-kondisi-finansial/ 

Sipayung, C., Bitia, R., & Hardianti, S. (2019, October 10). Menakar Beban Ekonomi Gangguan Kesehatan Mental. Economica; Economica.id. https://www.economica.id/2019/10/10/menakar-beban-ekonomi-kesehatan-mental/ 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait