Pentingnya Menghargai Perbedaan Pilihan Politik dalam Konteks Sosial Budaya Kalimantan Selatan

Menghargai Perbedaan Pilihan Politik

Artikel ini mengeksplorasi bagaimana struktur sosial dan nilai budaya masyarakat Kalimantan Selatan (Kalsel) memengaruhi preferensi politik dalam Pemilu 2024 lalu. Melalui pendekatan sosiologi politik, tulisan ini menyoroti peran sentral tokoh agama (ulama), identitas kesukuan Banjar, serta pergeseran demografis pemilih muda. Temuan menunjukkan bahwa meskipun Kalsel mengalami modernisasi digital, hubungan antara ikatan keagamaan dan ikatan emosional terhadap “tokoh lokal” tetap menjadi faktor penentu utama dalam menentukan arah suara di Banua.

Menghargai pilihan politik di Kalsel bukan sekadar tuntutan konstitusi, melainkan manifestasi dari ajaran agama. Masyarakat Banua memandang bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat. Narasi “siapa pun yang terpilih adalah ketetapan Allah” sering kali menjadi peredam ketegangan yang efektif di tingkat akar rumput. Hal ini mencegah perbedaan pilihan politik bertransformasi menjadi konflik horizontal yang berkepanjangan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Pemilu 2024 di Kalimantan Selatan bukan sekadar mekanisme pergantian kekuasaan, melainkan panggung manifestasi budaya. Sebagai daerah dengan karakteristik religius yang kental, orientasi politik masyarakat Kalsel seringkali tidak hanya berpijak pada platform kebijakan partai, tetapi lebih pada “restu” dan arahan kultural. Artikel ini menganalisis tiga poin utama yang mempengaruhi pilihan politik mayoritas Masyarakat Kalimantan Selatan, yaitu  pengaruh tokoh religius banua, faktor Sosiologis (identitas sosial dan budaya), dan fenomena pemilih milenial/Gen Z di Kalsel.

Baca juga: TGB dan Ibu – Perbedaan Pilihan Politik dalam Keluarga sebagai Cermin Kedewasaan Demokrasi

Ulama sebagai “Opinion Leader”

Masyarakat Kalimantan Selatan dikenal memiliki ketaatan tinggi terhadap ulama. Dalam konteks Pemilu 2024, posisi tokoh agama (baik dari kalangan habaib maupun tuan guru) menjadi variabel kunci. Dalam sosiologi politik masyarakat Banjar, ulama bukan sekadar pengajar agama, melainkan juga menjadi rujukan utama dalam pengambilan keputusan penting, termasuk menentukan pilihan politik.

Ulama juga seakan berfungsi sebagai pemberi legitimasi bagi para kontestan. Dalam budaya politik Kalsel, dukungan dari seorang “Tuan Guru” atau “Habib” dipandang sebagai stempel moral yang menunjukkan bahwa seorang calon memiliki integritas dan keberpihakan pada umat. Calon legislatif maupun presiden yang mendapatkan dukungan atau sekadar berfoto dengan tokoh agama kharismatik cenderung mendapatkan lonjakan elektabilitas. Selain itu, kunjungan ke pondok pesantren maupun menghadiri kegiatan keagamaan seperti haulan dan tabligh bukan sekadar seremonial, melainkan strategi formal untuk mengetuk pintu suara pemilih tradisional yang memandang pilihan politik sebagai bagian dari perjuangan agama untuk kebaikan bersama, bukan sekadar perebutan kekuasaan.

Keterlibatan ulama dalam Pemilu 2024 di Kalimantan Selatan membuktikan bahwa otoritas tradisional tetap mampu bersaing dengan otoritas digital. Kemenangan atau tingginya suara kandidat tertentu di wilayah-wilayah religius Kalsel merupakan cerminan dari keberhasilan kandidat tersebut dalam menjalin koalisi simbolik dengan para ulama sebagai pemegang kunci suara di Banua.

Baca juga: Dari TikTok ke TPS: Bagaimana Media Sosial Membentuk Pilihan Politik Generasi Muda

Kecenderungan Figur Lokal dan Harmoni dalam Keberagaman

Budaya Banjar memiliki filosofi keteguhan yang kuat. Dalam Pemilu 2024, pengaruh sosial ini terlihat dalam banyaknya pemilih Kalsel yang memiliki kebanggaan identitas yang tinggi. Tokoh yang dianggap mampu merepresentasikan aspirasi “urang Banjar” di tingkat nasional memiliki keunggulan dibanding tokoh lainnya, hali ini dapat dilihat dari kecenderungan kuat untuk memilih figur yang dianggap sebagai representasi asli daerah . Hal ini bukan sekadar sentimen kesukuan, melainkan strategi sosiopolitik masyarakat untuk memastikan aspirasi lokal terdengar di tingkat nasional.

Calon legislatif (DPR RI) yang memiliki rekam jejak pengabdian di Kalsel seperti pengusaha lokal yang dermawan, mantan kepala daerah, atau tokoh adat cenderung lebih mudah meraih simpati dibandingkan tokoh “impor” dari pusat.

Namun, meski memiliki identitas suku yang kuat, Kalsel menunjukkan kedewasaan politik dengan minimnya konflik horizontal. Hal ini didorong oleh nilai budaya bubuhan yang mengedepankan kekeluargaan di atas perbedaan pilihan. Meskipun mayoritas adalah etnis Banjar, nilai bubuhan berevolusi menjadi lebih inklusif. Pendatang yang sudah lama menetap di Kalsel dianggap sebagai bagian dari keluarga besar Banua. Dalam politik, hal ini terlihat dari adanya caleg dari berbagai latar belakang etnis yang tetap mendapatkan dukungan suara di kantong-kantong pemukiman heterogen seperti di Banjarmasin, Banjarbaru dan Tanah Laut.

Kombinasi antara loyalitas terhadap figur lokal dan komitmen menjaga harmoni menjadikan Kalimantan Selatan sebagai salah satu daerah dengan tingkat kedewasaan politik yang tinggi. Masyarakat Kalsel berhasil membuktikan bahwa penguatan identitas lokal tidak harus berujung pada eksklusivitas, melainkan bisa menjadi instrumen untuk memperkuat persatuan.

Baca juga: Etika Politik Pancasila: Kompas Moral Milenial di Tengah Keriuhan Politik

Pergeseran Digital dan Karakteristik Pemilih Muda

Data pemilih muda di Kalimantan Selatan untuk Pemilu 2024 menunjukkan bahwa generasi muda menjadi kekuatan signifikan dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap). Dilansir dari Mata Banua Online, DPT Pemilu 2024 didominasi pemilih muda yang terdiri dari pemilih generasi milenial yang tercatat ada 1.054.334 orang atau 34,85 persen dan generasi Z mencapai 711.955 atau 23,53 persen. Hal ini tentunya memicu pergeseran pola kampanye di banua, ika pemilih tua lebih terpengaruh oleh ceramah di majelis taklim, pemilih muda Kalsel lebih responsif terhadap konten kreatif di Instagram dan TikTok.

Dalam konteks Pemilu 2024 di Kalimantan Selatan, media sosial bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan menjadi salah satu infrastruktur politik yang mengubah cara “Urang Banjar” mengonsumsi informasi dan menentukan pilihan. Melalui Instagram dan TikTok, kandidat menampilkan sisi humanis yang sesuai dengan kultur lokal (seperti memakai atribut adat Banjar atau menghadiri haulan dan tabligh akbar ), ini menciptakan “keakraban digital” yang melampaui baliho fisik.

Menariknya, pemilih muda di Kalsel cenderung menjadi “pemilih rasional yang tetap menghormati tradisi”. Mereka kritis terhadap isu lingkungan (seperti pertambangan), namun tetap mempertimbangkan nasihat orang tua dan tokoh masyarakat.

Meskipun media sosial sering kali menjadi ruang debat yang panas, terdapat tren positif di mana para tokoh Masyarakat, tokoh agaman dan tokoh dan pemuda di Kalsel aktif mengampanyekan slogan Pemilu Damai, meskipun bukan slogan tunggal, tokoh-tokoh agama dan masyarakat di Kalsel aktif mengedukasi masyarakat, sering kali melalui media sosial, untuk saling menghargai perbedaan pilihan, menjaga suasana kondusif dan aman serta mewujudkan demokrasi yang bermartabat.. Narasi ini menekankan bahwa kualitas demokrasi di Banua tidak diukur dari siapa yang menang, melainkan dari seberapa mampu masyarakat menjaga kerukunan pasca-pemungutan suara.

Kesimpulan

Pengaruh sosial budaya di Kalimantan Selatan terhadap Pemilu 2024 menciptakan pola demokrasi tradisional dan modern. Keberhasilan kandidat di wilayah ini sangat bergantung pada kemampuan mereka menyeimbangkan antara pendekatan digital bagi kaum muda dan pendekatan sosioreligius bagi masyarakat akar rumput. Budaya Banjar yang religius dan inklusif menjadi jangkar yang menjaga stabilitas politik di daerah ini.

Integrasi antara ketaatan religius, kekuatan identitas lokal, dan adaptasi digital merupakan kunci suksesnya pemilu di Kalimantan Selatan. Jika seluruh pihak yang terlibat baik itu Pemerintah, Penyelenggara Pemilu maupun Peserta Pemilu mampu menyentuh sisi sosiokultural ini, maka pemilu bukan lagi sekadar ajang perebutan suara, melainkan pesta demokrasi yang benar-benar bermartabat dan mencerminkan jiwa Urang Banjar.


Penulis: Rahmilawati
Mahasiswa Prodi DII Perpajakan Universitas Terbuka


Editor: Rahmat Al Kafi

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses