Pentingnya Peran Ayah terhadap Anak Perempuan

Ayah dan Anak Perempuan
Ilustrasi Ayah dan Anak Perempuan (Sumber: Media Sosial dari freepik.com)

Keluarga merupakan pembawa pengaruh utama dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Peran ayah dalam keluarga sangatlah penting dan mencakup banyak aspek kehidupan.

Ayah bukan hanya sekadar sebagai penyedia materi, tetapi juga sebagai figur yang berperan dalam pembentukan karakter, pengasuhan, dan perkembangan emosional anak.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Dalam konteks keluarga, peran ayah dapat dibagi menjadi beberapa dimensi, seperti sebagai pemimpin, pendidik, pembimbing moral, dan sebagai sumber dukungan emosional.

Ayah sering kali dianggap sebagai kepala keluarga, dan dalam banyak budaya, dia diharapkan untuk menjadi pemimpin dalam mengarahkan keluarga. Peran ini tidak hanya terbatas pada pengambilan keputusan terkait keuangan dan kebutuhan materi, tetapi juga pada arah kehidupan keluarga secara keseluruhan.

Sebagai pemimpin, seorang ayah diharapkan untuk membuat keputusan yang bijaksana, memberikan arah yang jelas, serta menetapkan nilai-nilai dan norma yang akan dipegang oleh seluruh anggota keluarga. Secara tradisional, peran ayah sebagai pencari nafkah adalah salah satu peran utama yang melekat dalam struktur keluarga.

Meskipun dalam banyak keluarga modern, peran ini dapat dibagi dengan ibu, namun ayah masih dianggap sebagai penyedia utama kebutuhan material seperti tempat tinggal, makanan, pendidikan, dan perawatan kesehatan.

Dalam hal ini, ayah harus bekerja keras untuk memastikan bahwa kebutuhan fisik dan finansial keluarga dapat terpenuhi. Ayah yang terlibat secara emosional dalam kehidupan anak akan memberikan dampak positif perkembangan anak.

Proses pertumbuhan dan perkembangan pada anak perempuan harus didampingi dengan peran seorang ayah. Karena, sebagai kepala keluarga sosok ayah terlibat dalam membangun kepercayaan diri terhadap anak perempuan.

Bagi anak, ayah adalah sosok pahlawan, karena ayah memiliki kekuatan untuk melindungi dirinya dan keluarganya. Kehadiran ayah yang konsisten dan penuh kasih saying akan membantu anak perempuan mengembangkan stabilitas emosisonal.

Dalam mengatasi masalah, seorang ayah mengajarkan anak perempuan untuk menghadapi masalah dengan tenang dan mencari Solusi. Sebagian ayah terkadang sulit untuk mengungkapkan rasa saying pada anak. Hal ini kasih saying merupakan factor utama dalam melakukan pendekatan emosional pada anak.

Indonesia disebut menjadi negara fatherless ketiga didunia. Hal tersebut berarti banyak anak Indonesia yang kekurangan sosok ayah dalam hidupnya. Fatherless tidak hanya dialami oleh anak yatim saja, selama mereka memiliki figure ayah yang dihadirkan dari kakek atau om, maka figure ayah ini masih bisa tergantikan.

Menurut data UNICEF tahun 2021 terdapat sekitar 20,9% anak anak di indoensia tumbuh tanpa kehadiran sosok ataupun peran ayah, baik karena perceraian, kematian, ataupun ayahnya sedang bekerja jauh. Ini berarti dari 30,83 juta anak usia dini di Indonesia sekitar 2,999.577 anak kehilangan sosok ayah.

Survei BPS tahun 2021 menemukan hanya 37,17% anak anak usia 0-5 tahun yang diasuh oleh ayah dan ibu kandungnya secara bersamaan. Menurut laporan BSI (Badan Statistik Indonesia) kasus perceraian di Indonesia tahun 2022 meningkat dari tahun sebelumnya yakni mencapai 516.344 kasus, penyebab utamanya adalah karena perselisihan dalam rumah tangga yang terjadi terus menerus.

Kehilangan figur ayah dalam kehidupan anak dapat memiliki dampak yang sangat beragam, tergantung pada konteks sosial, budaya, dan kondisi keluarga tersebut.

Baca juga: Peran Suami-Istri dalam Membentuk Keluarga Sakinah yang Bahagia

Meskipun biasanya fenomena ini dianggap negatif, ada beberapa dampak positif yang bisa muncul dalam situasi tertentu seperti kemandirian dan ketangguhan anak, peran ibu yang lebih dominan, maksudnya dalam keluarga tanpa ayah, ibu sering kali mengambil peran ganda sebagai penyedia dan pengasuh, hal ini bisa mempererat hubungan ibu dan anak serta memberikan anak contoh keteguhan dan kekuatan yang luar biasa.

Kemudian, pengembangan empati dan kepekaan, kesempatan untuk memnemukan figur ayah pengganti, kreativitas dalam menghadapi masalah, kemandirian finansial pada Wanita, maksudnya dalam Masyarakat di mana ayah tidak ada, ibu sering kali menjadi lebih mandiri secara finansial, hal ini menciptakan model peran yang menginspirasi anak, terutama anak perempuan untuk lebih mandiri dan berdaya dalam kehidupan professional mereka kelak.

Fenomena fatherless dapat menimbulkan berbagai dampak negative pada perkembangan anak baik secara emosional, social, maupun psikologis.

Dampak negative yang umum terjadi yakni seperti gangguan emosi yang berarti anak anak yang tumbuh tanpa sosok ayah cenderung mengalami gangguan emosi seperti depresi, kecemasan, dan kesulitan mengontrol emosi mereka.

Kedua, perasaan tidak aman, maksudnya ketidakhadiran ayah dapat membuat anak merasa tidak aman dan tidak dicintai sehingga mempengaruhi kepercayaan diri mereka.

Ketiga, masalah perilaku yang berarti mereka mungkin menunjukan perilaku yang menyimpang seperti agresivitas, penarikan diri, atau kesulitan mengikuti aturan.

Keempat, kesulitan berinteraksi berarti anak anak sering mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan teman sebaya dan orang dewasa, terutama pada laki laki.

Kelima, risiko terlibat dalam perilaku berisiko berarti anak anak cenderung lebih rentan terlibat dalam perilaku berisiko seperti penyalahgunaan narkoba, seks bebas, atau kekerasan.

Ketidakhadiran ayah dapat berdampak negatif pada motivasi belajar anak dan prestasi akademik mereka, anak anak mungkin kesulitan dalam menghadapi tantangan dan mencari Solusi atas masalah yang mereka hadapi. Dampak jangka Panjangnya anak anak cenderung mengalami kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat dan stabil dimasa dewasa.

Peran ayah sangat krusial dalam perkembangan anak perempuan. Singkatnya, peran ayah tidak hanya sebatas penyedia nafkah tetapi juga sebagai pendidik, pembimbing, dan sahabat terbaik bagi anak perempuan. Kehadiran ayah yang berkualitas dapat memberikan fondasi yang kiat untuk masa depan anak perempuan.

 

Penulis: Etha Hasanatul Fi’al
Mahasiswa Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses