Perundungan, atau bullying, sering kali keliru dianggap sebagai bagian normal dari proses tumbuh dewasa atau sekadar “kenakalan remaja”.
Opini saya, pandangan ini sangat berbahaya. Perundungan adalah sebuah serangan langsung terhadap kesehatan mental seseorang, dan dampaknya bisa bertahan seumur hidup.
Ini bukanlah masalah disiplin semata, melainkan sebuah krisis kesehatan mental yang tersembunyi di depan mata.
Dampak Langsung pada Korban
Korban perundungan tidak hanya menderita luka fisik, tetapi juga luka psikologis yang jauh lebih dalam.
Secara fundamental, perundungan merusak dua pilar utama kesehatan mental: rasa aman dan harga diri.
Erosi Kepercayaan Diri
Korban secara terus-menerus menerima pesan bahwa mereka tidak berharga, aneh, atau lemah.
Lama-kelamaan, mereka mulai mempercayai pesan negatif ini, menyebabkan kebencian pada diri sendiri dan hilangnya kepercayaan diri.
Baca Juga: Tragedi Reena Virk: Saat Bullying Berakhir dengan Kematian
Gangguan Kecemasan dan Depresi
Hidup dalam ketakutan konstan akan kapan serangan berikutnya datang akan memicu gangguan kecemasan.
Perasaan tidak berdaya, sedih, dan terisolasi adalah pintu gerbang menuju depresi berat.
Sekolah atau tempat kerja yang seharusnya menjadi tempat aman berubah menjadi zona perang.
Trauma Jangka Panjang
Bagi banyak orang, pengalaman dirundung adalah sebuah trauma.
Ingatan menyakitkan ini dapat memicu Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), yang memengaruhi cara mereka membangun hubungan dan memandang dunia bahkan hingga dewasa.
Isolasi Sosial
Untuk menghindari perundungan, korban seringkali menarik diri dari pergaulan.
Mereka merasa sendirian dan tidak ada yang bisa memahami atau menolong mereka, yang semakin memperburuk kondisi mentalnya.
Intinya, perundungan menciptakan lingkungan yang tidak aman secara psikologis, di mana korban merasa terancam, tidak berdaya, dan sendirian.
Ini adalah racun yang perlahan-lahan menghancurkan fondasi mental seseorang.
Baca Juga: Cegah Bullying Sejak Dini: PMM UMM Desa Randegan Hadir di SDN Randegan
Perspektif Pelaku dan Lingkaran Setan
Penting juga untuk tidak hanya melihat pelaku sebagai “orang jahat”. Sering kali, pelaku perundungan juga merupakan individu dengan masalah kesehatan mental yang tidak teratasi.
Perilaku mereka bisa jadi merupakan cerminan dari rasa tidak aman, kurangnya empati, atau pengalaman menjadi korban kekerasan di lingkungan lain.
Tanpa intervensi, ini menciptakan sebuah lingkaran setan: orang yang terluka kemudian menyakiti orang lain.
Kesimpulan: Tanggung Jawab Kita Bersama
Memandang perundungan sebagai masalah kesehatan mental—bukan sekadar masalah kenakalan—adalah langkah pertama untuk menyelesaikannya secara efektif.
Solusinya bukan hanya menghukum pelaku, tetapi membangun sistem yang mendukung semua pihak:
- Bagi Korban: Menyediakan ruang aman untuk melapor dan memberikan akses mudah ke konseling untuk memulihkan luka batin mereka.
- Bagi Pelaku: Memberikan intervensi untuk mengatasi akar masalah dari perilaku mereka.
- Bagi Lingkungan: Mengedukasi seluruh komunitas tentang pentingnya empati dan penghargaan terhadap perbedaan.
Menghentikan perundungan berarti menyembuhkan komunitas kita. Ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang lebih sehat secara mental, lebih berempati, dan lebih kuat.
Penulis: Maria Irene Putri Paulina
Mahasiswa Prodi Keperawatan, Universitas Katolik Santo Paulus Ruteng
Dosen Pengampu: Yohannes Jakri, S.Kep., M.Kes.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












