Masalah sosial yang dihadapi kaum miskin pada masa kini tidak hanya menyangkut sosial kekurangan materi, tetapi juga mencakup kemiskinan struktural, marjinalisasi, serta keterbatasan akses terhadap Pendidikan, Kesehatan, pekerjaan, dan hunian yang layak. Mereka kerap menjadi korban ketidakadilan sosial dan ekonomi, sehingga semakin terpinggirkan dalam kehidupan masyarakat.
Ajaran Sosial Gereja menanggapi situasi ini dengan menegaskan prinsip pilihan Istimewa bagi kaum miskin, yang berarti bahwa keberpihakan kepada mereka bukan sekadar sikap belas kasih sesaat, melainkan tuntutan injil yang mendasar. Gereja menekankan martabat manusia yang sama bagi setiap orang, menyerukan keadilan sosial, menumbuhkan sikap solidaritas, serta mendorong kebijakan subsidiaritas yang memberi ruang bagi kaum miskin untuk berdaya dan bangkit.
Dalam Evangelii Gaudium, Paus Fransiskus mengatakan dengan sangat jelas bahwa posis kaum miskin menempati tempat yang sentral dalam misi Gereja. Ia mengatakan,“Hati Allah memiliki tempat istimewa bagi kaum miskin, begitu besar sehingga Ia sendiri menjadi miskin” (EG 197). Hal ini menunjukan bahwa keberpihakan kepada kaum miskin bukanlah sekadar pilihan moral atau sosial, melainkan tuntutan Injil yang melekat pada inti iman kristiani.
Baca Juga: Gereja sebagai Rumah Sakit Lapangan bagi Kaum Marginal
Kaum miskin ditempatkan sebagai pusat pewartaan injil, sebagaimana ditegaskan: “ dari inti Injil, kita melihat bahwa ada ikatan tak terputus antara pewartaan injil dan kasih terhadap mereka yang miskin” (EG 48). Artinya bahwa, setiap bentuk evangelisasi yang mengabaikan kaum miskin akan kehilangan daya autentiknya. Gereja juga dalam karya perutusannya, Ia dipanggil untuk mampu menghadirkan wajah kristus yang membawa kabar gembira kepada orang miskin, termuat juga dalam kitab suci (Lukas 4: 18).
Lebih jauh, Paus Fransiskus menyebutkan bahwa keberpihakan kepada kaum miskin adalah sebuah kategori teologis, bukan sekadar sosiologis, Ia menulis: pilihan bagi mereka yang terakhir, bagi mereka yang dikesampingkan, bagi mereka yang tersingkir, adalah prioritas utama Gereja (EG 195). Dengan demikian, gereja tidak hanya dituntut untuk memberikan bantuan karitatif, tetapi juga untuk terlibat secara aktif dalam perjuangan mereka terhadap adanya keadilan dan martabat hidup.
Selain itu, Paus menegaskan bahwa kaum miskin juga adalah guru spiritual. Ia mengatakan: kita dipanggil untuk menemukan Kristus dalam diri mereka, untuk menjamin kita agar mendengarkan seruan terhadap mereka, dan untuk menjadi sahabat bagi mereka (EG 198). Dalam penderitaan dan kesederhanaan mereka, kaum miskin sering kali mencerminkan wajah kristus yang menderita. Oleh karena itu, Gereja perlu belajar dari iman, pengharapan, dan kasih yang mereka hidup di Tengah segala keterbatasan.
Tidak berhenti di sini juga, Paus Fransiskus juga menyoroti perlunya melawan struktur yang menciptakan ketidakadilan. Ia mengkritik adanya sistem ekonomi global yang sudah menyingkirkan terhadap orang-orang kecil dengan secara keras: Ekonomi ini membunuh (EG 53). Ia menambahkan bahwa Globalisasi ketidakadilan telah membuat kita perlahan-lahan kehilangan kemampuan untuk merasakan belas kasih (EG 54). Karena itu, umat Kristiani dipanggil untuk terlibat dalam pembaruan struktur sosial yang lebih adil, agar tidak hanya mengobati luka, tetapi juga mencabut akar penyebab kemiskinan.
Baca Juga: Preferential Option for the Poor: Membaca Ulang Evangelii Gaudium di Tengah Ketidakadilan Sosial
Paus Fransiskus juga menegaskan pentingnya solidaritas yang nyata. Ia mengatakan: solidaritas adalah reaksi dari mereka yang mengakui bahwa fungsi sosial dari kepemilikan dan tujuan universal dari barang-barang dunia lebih penting daripada hak pribadi (EG 189). Solidaritas ini tidak boleh berhenti pada kelas kasihan sesaat, tetapi harus diwujudkan dalam Tindakan konkrit yang berkesibangungan, seperti penyediaan akses Pendidikan, Kesehatan, pekerjaan dan akan kebutuhan dasar.
Akhirnya, Paus Fransiskus menyimpulkan bahwa keberpihakan kaum miskin merupakan jalan bagi Gereja untuk memperdalam kesetiaannya pada Kristus. Ia menulis: Bagi Gereja, pilihan bagi kaum miskin lebih daripada sekadar memberi mereka prioritas, ini adalah dimensi teologis sebelum bersifat sosiologis, karena Allah memberikan kasih Istimewa kepada mereka (EG 198).
Dengan demikian, kaum miskin menjadi pusat pewartaan injil,subjek iman yang berharga, guru spiritual, sekaligus saudara yang harus diperjuangkan melalui solidaritas dan transformasi sosial. Posisi kaum miskin dalam terang Evangelii Gaudium dipahami sebagai panggilan Gereja untuk membela martabat mereka, mengutamakan mereka dalam pewartaan dan pelayanan, sekaligus berani mendorong transportasi sosial yang lebih adil. Semua ini menunjukan bahwa keberpihakan kepada kaum miskin adalah bagian integral dari perutusan Gereja dalam mewujudkan sukacita injil di Tengah dunia.
Penulis: Paulinus Subanpulo Wolor
Mahasiswa Prodi Kateketik Pastoral Stipas St. Sirilus Ruteng
Editor: Fifi Elvira
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














