Potensi Tanaman Daun Sambiloto (Andrographis paniculata) sebagai Pengobatan Alami Diabetes Melitus

Pengobatan Alami Diabetes
Sambiloto (Andrographis paniculata).

Masyarakat di Indonesia sudah lama mengenal dan memanfaatkan tanaman herbal berkhasiat sebagai obat dalam penanggulangan masalah kesehatan. Pengetahuan tentang tanaman herbal yang berkhasiat sebagai obat berdasarkan pada keterampilan dan pengalaman yang diwariskan secara turun temurun dari generasi satu ke generasi berikutnya (Oktora et al., 2006).

Sambiloto (Andrographis paniculata) merupakan suatu tumbuhan asli Indonesia yang menjadi salah satu kategori tanaman obat yang saat ini menjadi posisi utama sebagai bahan fitofarmaka yang aman untuk dikonsumsi dan memiliki khasiat yang banyak untuk dijadikan bahan obat.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Menurut Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), tanaman ini telah dimasukkan dalam daftar tanaman unggulan yang dapat dikembangkan di industri fitofarmaka. Secara empiris, tanaman ini telah banyak dilakukan uji klinis dan kandungannya yang sangat bermanfaat (Ida Juwartina, 2014).

Sambiloto atau Andrographis paniculate merupakan salah satu tanaman yang ada di Indonesia yang cukup banyak digunakan sebagai obat tradisional antidiabetes di masyarakat.

Tanaman sambiloto ini mengandung diterpene lakton yang merupakan suatu senyawa yang terdiri dari neoandrografolid, andrografolid (zat pahit), 14-deoksiandrografolid, dan senyawa 14-deoksi-11-oksoandrografolid. Andrografolid merupakan senyawa yang paling aktif dibandingkan dengan senyawa yang lainnya (Niranjan et al, 2010).

Sambiloto memiliki banyak aktivitas farmakologi seperti antiinflamasi, antipiretik, anti-viral, anti-hiperglisemik, antioksidan, dan antidiabetik. Daun sambiloto memiliki kandungan polifenol, orthosiphon glukosa, saponi, flavonoid, sapofonin, garam kalium, myonositol, dan andrografolid.

Keistimewaan tanaman ini, potensi antidiabetik tanaman ini sangat tinggi. Senyawa flavonoid yang paling banyak dilakukan uji penelitian dan dibuktikan bahwa zat tersebut mampu digunakan sebagai bahan antidiabetik.

Pada suatu penelitian epidemiologi Alkhalidy et al (2018) membuktikan bahwa konsumsi suatu bahan dengan kandungan flavonoid yang tinggi dapat membantu dalam menurunkan risiko terkena diabetes tipe 2.

Selain itu kandungan pada penelitian Nugroho et al (2013) juga menyatakan bahwa senyawa andrographolide mampu menstimulasi absorpsi glukosa dalam otot oleh tikus yang diinduksi streptozotocin dengan mekanisme senyawa andrographolide ini akan meningkatkan protein otot atau transpoter glukosa GLUT-4.

Ketersediaan tanaman sambiloto di Indonesia juga cukup banyak, dapat didapatkan dengan mudah dan bisa ditemukan di berbagai tempat.

Ekstrak sambiloto juga dapat merangsang terjadinya pelepasan insulin dan menghambat absorbsi glukosa dengan cara menghambat enzim alfa-glukosidase dan alfa-amilase (Subramanian et al, 2008).

Zat lain yang terkandung dalam sambiloto yaitu flavonoid berperan secara signifikan meningkatkan aktivitas antioksidan. Senyawa bioaktif flavonoid telah dibuktikan dapat menginduksi terjadinya regenerasi sel beta pankreas yang rusak. Efek antioksidan yang terdapat pada flavonoid menyebabkan terjadinya perbaikan yang bermakna pada sel beta pulau Langerhans pada tikus diabetes (Abdelmoaty dkk, 2010).

Ekstrak etanol herba sambiloto menurunkan kadar glukosa dan menurunkan kadar kolesterol, trigliserida, dan asam lemak bebas dengan mekanisme meningkatkan kadar glutation S-hidroksilase (GSH), glutation S-transferase (GST), dan glutation reduktase (GR) hati sehingga dapat berfungsi sebagai antioksidatif; menekan glukoneogenesis dan glikogenesis; meningkatkan glikolisis dan glikogenesis serta meningkatkan sensitivitas insulin pada tikus resisten insulin yang diinduksi dengan diet lemak dan streptozotosin (Subramanian, 2009).

Baca Juga: Pemanfaatan Tanaman Sebagai Fitoterapi Pada Penyakit Diabetes Mellitus

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang terjadi akibat tingginya kadar gula dalam darah, hal ini dapat terjadi karena pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang mengatur gula darah atau glukosa), atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkannya.

Jika kadar gula dalam darah penderita diabetes melitus tidak dikendalikan maka akan timbul berbagai penyakit lain seperti hipertensi, gangguan penglihatan mata, neuropati peprifer, stroke, luka yang sulit sembuh, gangren, kerusakan hati dan ginjal. Pengobatan diabetes yang selama ini diberikan adalah obat antidiabetes oral.

Namun penggunaan jangka panjang dapat mengakibatkan berbagai masalah efek samping yang timbul. Beberapa di antaranya adalah hepatotoksik, nefrotoksik, hipoglikemi, gangguan sistem pencernaaan.

Faktor yang berpengaruh pada kasus Diabetes Mellitus (DM) terbagi menjadi dua macam yaitu faktor internal dan eksternal.

Faktor internal adalah faktor keturunan, sedangkan faktor eksternal antara lain adalah kegemukan atau obesitas, pola makan yang salah, minum obat yang bisa menaikkan kadar gula darah, proses menua, stres pola tidur, dan aktivitas fisik yang kurang contohnya olahraga.

Ekstrak daun Sambiloto (Andrographis paniculata) mengandung banyak senyawa di dalamnya, seperti yang telah dijelaskan di antaranya andrografolid, andrografin, flavonoid, penikulin, dan senyawa-senyawa lainnya yang juga dapat bertindak sebagai antidiabetes. Sambiloto memiliki potensi yang cukup baik sebagai bahan baku obat dalam pengembangan obat-obatan antidiabetes.

Penulis: Putri Shafira Az-zahra
Mahasiswa S1 Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Padang

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses