Resistensi Antibiotik pada Hewan Ternak dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat

Antibiotik pada hewan ternak
Foto: Pexels

Resistensi antibiotik (Antimicrobial Resistance/AMR) adalah salah satu ancaman paling serius bagi kesehatan global abad ke-21. WHO (2017) mengungkapkan bahwa AMR menyebabkan infeksi menjadi lebih sulit diobati dan meningkatkan angka kematian, lama rawat inap, serta biaya perawatan. Di sektor peternakan, penggunaan antibiotik yang meluas untuk tujuan terapi, pencegahan penyakit, dan promosi pertumbuhan memberikan tekanan seleksi yang kuat terhadap bakteri, sehingga mempercepat munculnya strain resisten.

Organisasi internasional seperti WHO, FAO, dan WOAH/OIE telah memperingatkan bahwa masalah ini tidak lagi terbatas pada manusia saja. Lingkungan, hewan, dan manusia saling terhubung erat melalui pendekatan One Health, sehingga resistensi yang muncul di peternakan dapat berkontribusi langsung terhadap ancaman kesehatan masyarakat.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Tren Global Penggunaan Antibiotik pada Hewan Ternak

Van Boeckel et al. (2015)- dalam studi monumental mereka menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik di sektor peternakan global mencapai lebih dari 63.000 ton per tahun dan diproyeksikan terus meningkat. Peningkatan terbesar terjadi di negara-negara dengan industri peternakan intensif, terutama di Asia.

Faktor utama meningkatnya penggunaan antibiotik pada hewan:

  • Sistem pemeliharaan intensif yang meningkatkan risiko penyakit.
  • Penggunaan sebagai growth promoter, terutama pada produksi unggas, babi, dan sapi.
  • Kurangnya regulasi penggunaan antibiotik, khususnya di negara berkembang.
  • Biaya antibiotik yang relatif murah dibandingkan peningkatan produktivitas yang dihasilkan.

Penggunaan antibiotik sebagai growth promoter memiliki peran besar dalam mendorong resistensi, sehingga banyak negara kini melarang praktik tersebut.

Mekanisme Terjadinya Resistensi Antibiotik di Peternakan

Resistensi terjadi ketika bakteri mengembangkan mekanisme pertahanan terhadap antibiotik yang awalnya mampu membunuh atau menghambat mereka. Manyi-Loh et al. (2018) menyoroti beberapa mekanisme resistensi utama. Mutasi Genetik merupakan mutasi spontan pada DNA bakteri dapat menghasilkan sifat resisten, terutama jika mereka terpapar antibiotik dalam jangka panjang. Transfer gen horizontal terjadi dimana bakteri dapat bertukar materi genetik melalui transformasi, transduksi, dan konjugasi. Transfer gen antar spesies bakteri mempermudah penyebaran resistensi di lingkungan peternakan. Tekanan seleksi juga menjadi mekanisme resistensi utama, penggunaan antibiotik dalam dosis rendah secara terus-menerus untuk pencegahan atau pertumbuhan menciptakan kondisi ideal untuk “seleksi” bakteri yang kebal.

Faktor Risiko yang Mempercepat Terjadinya AMR pada Hewan Ternak

WHO, 2017- Faktor risiko yang mempercepat terjadinya resistensi antibiotik (AMR) pada hewan ternak terutama disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak bijak, termasuk pemakaian sebagai growth promoter, dosis yang tidak tepat, dan pengobatan tanpa pengawasan dokter hewan, sehingga menciptakan tekanan seleksi tinggi bagi bakteri untuk menjadi resisten. Risiko ini diperparah oleh lemahnya regulasi dan sistem pengawasan penggunaan antimikroba, sehingga antibiotik mudah diperoleh tanpa resep. Kondisi biosekuriti dan sanitasi yang buruk di peternakan juga mempercepat penyebaran bakteri, terutama di sistem peternakan intensif yang padat dan rentan penyakit. Selain itu, manajemen kesehatan ternak yang tidak optimal, seperti minimnya vaksinasi dan keterlambatan penanganan penyakit mendorong peningkatan penggunaan antibiotik. Limbah peternakan yang terkontaminasi bakteri resisten turut menyebarkan gen resistensi ke lingkungan, membuat tanah, air, dan tanaman menjadi reservoir resistensi. Semua faktor ini saling berinteraksi, sehingga mempercepat muncul dan penyebaran AMR pada hewan ternak dan meningkatkan risiko penularannya ke manusia.

Dampak Resistensi Antibiotik pada Kesehatan Hewan

Resistensi antibiotik pada hewan ternak menimbulkan masalah serius dalam pengelolaan kesehatan hewan. Ketika bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik, pengobatan tidak lagi efektif, sehingga penyakit yang seharusnya mudah disembuhkan menjadi lebih sulit ditangani. Hewan yang terinfeksi bakteri yang resisten cenderung mengalami penyakit yang lebih parah dan memerlukan waktu pemulihan lebih lama.

Akibatnya, risiko penyakit dan kematian pada ternak meningkat, terutama pada hewan muda atau yang memiliki daya tahan tubuh lemah. Resistensi ini juga memengaruhi produktivitas; pertumbuhan hewan terganggu, produksi telur atau susu menurun, dan kualitas daging berkurang. Hal ini menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak karena hasil produksi menurun dan biaya perawatan meningkat.

Selain itu, ketidakmampuan antibiotik bekerja secara optimal membuat dokter hewan dan peternak harus mencari obat alternatif, yang sering kali lebih mahal, sulit diperoleh, atau memiliki potensi efek samping lebih tinggi. Dalam jangka panjang, situasi ini dapat membatasi pilihan pengobatan dan menyulitkan upaya menjaga kesehatan ternak.

Dampak Resistensi Antibiotik terhadap Kesehatan Masyarakat

Resistensi antibiotik pada hewan ternak dapat berdampak serius terhadap kesehatan manusia. Bakteri yang mengalami resistensi bisa menular ke manusia melalui berbagai cara, seperti mengonsumsi produk hewani yang terkontaminasi, kontak langsung dengan hewan atau lingkungan peternakan, serta melalui limbah peternakan yang mencemari lingkungan.

Paparan terhadap bakteri yang telah resisten ini meningkatkan risiko manusia mengalami infeksi yang sulit diobati dengan antibiotik biasa. Penanganannya sering memerlukan obat-obatan ini yang lebih mahal, memiliki efek samping lebih tinggi, dan kadang sulit diperoleh. Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya angka penyakit dan kematian, sekaligus menambah beban ekonomi bagi pelayanan kesehatan.

Selain itu, penyebaran bakteri yang telah resisten dapat menyebar melalui makanan, lingkungan, dan kontak langsung dapat memperluas penyebarannya di masyarakat, menimbulkan ancaman jangka panjang bagi kesehatan publik.

Upaya Penanggulangan dan Pencegahan

Penanggulangan resistensi antibiotik membutuhkan kerja sama antara sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

1. Penggunaan antibiotik yang tepat

Memberikan antibiotik berdasarkan resep dari dokter hewan dan diagnosis yang akurat ,menghindari penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan pada ternak, serta memilih antibiotik berdasarkan hasil uji kepekaan bakteri untuk menjamin efektivitas pengobatan.

2. Peningkatan biosekuriti dan manajemen ternak

Menjaga kebersihan kandang, peralatan, lingkungan peternakan, mengatur kepadatan ternak untuk mengurangi stres risiko penyakit, dan melakukan vaksinasi untuk mencegah penyakit sehingga penggunaan antibiotik dapat diminimalkan.

3. Pengawasan

Memantau pola penggunaan antibiotik dan tingkat resistensi bakteri secara rutin serta mengumpulkan data yang akurat sebagai dasar pembuatan kebijakan pengendalian resistensi.

4. Edukasi dan Pelatihan

Memberikan pemahaman kepada peternak mengenai risiko penyalahgunaan antibiotik dan mengajarkan praktik pemberian obat yang benar serta cara pemeliharaan ternak yang sehat.

5. Pengelolaan Limbah Ternak

Mengolah kotoran dan limbah ternak dengan tepat untuk mencegah pencemaran lingkungan dan mengurangi potensi penyebaran bakteri resisten ke tanah, air, dan tanaman.

Kesimpulan

Resistensi antibiotik pada hewan ternak merupakan masalah serius yang berdampak pada kesehatan hewan maupun kesehatan manusia. Pada hewan, resistensi antibiotik menyebabkan penyakit menjadi lebih sulit diobati, meningkatkan risiko sakit dan kematian, serta menurunkan produktivitas peternakan. Pada manusia, bakteri resisten dari hewan dapat menular melalui makanan, kontak langsung, atau lingkungan, menyebabkan infeksi yang sulit diobati, meningkatkan angka kesakitan dan kematian, serta menambah beban ekonomi pada sistem kesehatan.

Upaya penanggulangan dan pencegahan resistensi antibiotik memerlukan kerjasama antara sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Langkah-langkah penting meliputi penggunaan antibiotik secara tepat, peningkatan biosekuriti dan manajemen ternak, pemantauan dan pengawasan resistensi, edukasi peternak, serta pengelolaan limbah ternak, ini sangat penting untuk menekan perkembangan resistensi, melindungi kesehatan hewan dan manusia, serta mendukung keberlanjutan sektor peternakan.

 

Penulis:
1. Ronald Marsel Bangun
2. Dinda Palimbong
Mahasiswa Prodi Kedokteran Hewan, Universitas Udayana

Dosen Pengampu: Eirenne Pridari Sinsya Dewi, S.S., M.Ed.

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Daftar Pustaka

World Health Organization (WHO), Antimicrobial Resistance: Global Report on Surveillance (2017) https://www.who.int/publications/i/item/9789241564748

Global trends in antimicrobial use in food animals – Thomas P. Van Boeckel et al. (2015) https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4426470/

Antibiotic Use in Agriculture and Its Consequential Resistance in Environmental Sources: Potential Public Health Implications – Christy Manyi‑Loh et al. (2018) https://www.mdpi.com/1420-3049/23/4/795

Food animals and antimicrobials: Impacts on human health -Bonnie M. Marshall & Stuart B. Levy (2011) https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3194830/

Global trends in antimicrobial use in food animals – Van Boeckel et al. (2015) https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4426470/

Food Animals and Antimicrobials: Impacts on Human Health -Marshall & Levy (2011) https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3194830/

Antibiotic Use in Agriculture and Its Consequential Resistance in Environmental Sources: Potential Public Health Implications -Manyi-Loh et al. (2018) https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6017557/

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses