Satu Hari Seribu Makna: Mahasiswa Sejarah A-24 FIS UNIMED di Sanggar Pelita Medan

Sanggar Pelita Medan
Kegiatan Mahasiswa Sejarah A-24 FIS UNIMED di Sanggar Pelita Medan (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Medan – Sanggar Pelita Medan merupakan sebuah wadah bagi anak-anak di lingkungan sekitarnya untuk belajar, bermain, dan berinteraksi sesama anak-anak maupun bersama para relawan yang mendampingi mereka. Kehadiran sanggar ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat (1) yang menegaskan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran“, serta Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjamin hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang layak tanpa terkecuali.

Sanggar Pelita hadir sebagai ruang sosial yang hangat dan inklusif, di mana anak-anak dapat berkembang secara intelektual maupun emosional dalam lingkungan yang mendukung dan penuh kebersamaan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sanggar Pelita Medan dibentuk pada 11 Oktober 2020, di tengah situasi pandemi Covid-19 yang tengah melanda Indonesia. Di masa yang penuh keterbatasan tersebut, akses anak-anak terhadap pendidikan formal menjadi semakin terhambat, sehingga kehadiran ruang belajar alternatif seperti sanggar menjadi semakin relevan dan mendesak.

Sebuah inisiatif kolaboratif pun tumbuh dari kepedulian dua komunitas sosial yang telah lebih dulu aktif bergerak di Kota Medan, yakni Komunitas Masyarakat Peduli Sungai Deli dan Komunitas Medan Bernalar.

Kita berdiri sejak 11 oktober 2020, dimana pada saat itu kita sedang dilanda Covid-19. Dari situ kita dari komunitas sepakat untuk membangun sebuah gerakan dalam bidang pendidikan“. Ujar Halim Muhakim Nasution selaku ketua Sanggar Pelita saat ini.

Sebelum berkolaborasi, masing-masing komunitas telah memiliki fokus gerakannya sendiri. Komunitas Masyarakat Peduli Sungai Deli bergerak di bidang lingkungan hidup, mencakup observasi kondisi sungai, edukasi lingkungan, serta kajian ekologi kepada masyarakat sekitar.

Sementara itu, Komunitas Medan Bernalar berfokus pada kegiatan literasi dan diskusi publik, termasuk menginisiasi perpustakaan jalanan sebagai ruang belajar yang terbuka dan inklusif bagi siapa saja.

Perpaduan visi dari kedua komunitas inilah yang kemudian melahirkan sebuah program lanjutan yang dikenal sebagai Sanggar Pelita.

Belajar mengajar, mengajar belajar, adalah motto yang kami pegang dalam melakukan kegiatan belajar mengajar sekaligus motto yang kami pegang dalam menggerakkan kegiatan di sanggar ini agar tetap berjalan,” ujarnya kembali.

Nama “Pelita” sendiri bukan sekadar simbolik, melainkan diambil langsung dari nama lokasi berdirinya sanggar, yakni Gang Pelita, yang juga menjadi titik koordinat penghubung dengan gang-gang lain di sekitarnya.

Sanggar Pelita yang kini diketuai oleh bang Halim Muhakim Nasution, turut menggerakkan roda kegiatan sanggar bersama para relawan yang terlibat.

Sebagai buah dari kolaborasi dua komunitas tersebut, semangat literasi yang diwariskan dari Komunitas Medan Bernalar tetap hidup melalui kegiatan membaca dan diskusi, sementara kesadaran terhadap lingkungan terus ditanamkan sejak dini sebagaimana semangat yang dibawa oleh Komunitas Masyarakat Peduli Sungai Deli.

Dengan demikian, Sanggar Pelita tidak hanya menjadi tempat bermain dan belajar, tetapi juga menjadi wujud nyata dari tanggung jawab kolektif masyarakat dalam memastikan setiap anak mendapatkan haknya atas pendidikan, sekaligus menjadi ruang pembentukan karakter generasi muda yang peduli terhadap sesama dan lingkungan di sekitarnya.

Dari latar belakang berdirinya Sanggar Pelita tersebut, mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan (08/03/2026) berkunjung untuk berbagi ilmu dan kebahagiaan melalui praktik mengajar dan bermain dari Mata Kuliah Pengembangan Materi IPS. Materi yang diajarkan berupa pengenalan jenis-jenis benda dan jenis-jenis perubahan benda. Kegiatan belajar mengajar tersebut dimulai dari pukul 15.00-17.00 WIB.

Kegiatan ini diikuti sekitar 25 anak, ada yang kelas 1 SD sampai kelas 4 SD. Anak-anak diajarkan untuk menentukan mana benda-benda padat, dan mana benda cair melalui sebuah game yaitu menggeser gambar benda pada jenis bendanya di atas sebuah kertas karton yang sudah disediakan sebagai media pembelajaran.

Tidak hanya belajar, kegiatan ini juga dibarengi dengan permainan-permainan seperti menebak jenis hewan berdasarkan ciri-ciri dan melakukan ice breaking supaya anak-anak tersebut tidak jenuh.

Kegiatan pembelajaran ini dikuti Dengan antusias oleh anak-anak di Sanggar Pelita Medan. Terlebih lagi metode pembelajaran yang digunakan adalah metode game based learning yaitu metode yang menggunakan game sebagai media untuk meningkatkan motivasi dan efektivitas belajar sehingga anak-anak selalu antusias selama pembelajaran.

Tidak hanya itu kegiatan lain seperti bernyanyi bersama dan berpantun juga turut dialkukan untuk lebih menunjang keseruan belajar mengajar.

Setiap adanya kunjungan seperti ini dari teman-teman mahasiswa, anak-anak pasti sangat antusias dan semangat belajar, karena sudah pasti pembelajaran yang dibawakan tidak kalah menarik dan serunya dengan pembelajaran yang dilakukan para relawan di sanggar ini,” ujar Halim.

Berhubung kegiatan kunjungan ini laksanakan tepatnya saat bulan Ramadhan dan anak-anak disini semuanya puasa, diakhir pembelajaran  setiap anak-anak diberikan Snack untuk berbuka puasa. Ekspresi senang dan bahagia tentu tergambar dalam setiap wajah anak-anak tersebut.

Ketika pembagian Snack, anak-anak berbaris dengan rapi dan tidak ada ada yang saling dorong. Pemandangan demikian sangat menyentuh dan memberikan makna tersendiri.

Sangar Pelita ini tidak memiliki pendanaan tetap atau donatur resmi, pihak relawan di sanggar pun tidak membuat atau mengajukan proposal karena sanggar ini belum memiliki legal standing. Sejauh ini biaya yang dibutuhkan untuk kegiatan operasional sanggar ini di dapatkan dari hasil bantuan atau sumbangan dari orang-orang yang sukarela berbagi dan juga melalui praktik jual lukisan langsung dari pihak relawan di sanggar ini dan harganya cukup murah mulai dari Rp.50.000.

Hal ini membuktikan bahwasanya sentuhan atau ulur tangan sangat diperlukan oleh anak-anak yang ada dalam sanggar ini dari orang-orang yang tergerak hatinya.

Dana yang kami perlukan untuk biaya operasional sanggar ini kami dapatkan dari pihak-pihak yang suka rela memberi bantuan, dan  juga kami menjual lukisan hasil karya langsung dari relawan di sanggar ini,” ujar Halim.

Enam tahun bukan waktu yang sebentar. Tapi bagi Bang Halim Muhakim Nasution, ketua Sanggar Pelita, enam tahun itu dijalani dengan segala keterbatasan yang ada dan tetap berjalan.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi sanggar ini adalah soal fasilitas. Alat peraga untuk anak-anak masih sangat minim, sementara kas sanggar pun belum cukup untuk menutupi kebutuhan itu. Yang membuat situasi ini makin berat, Sanggar Pelita hingga kini belum memiliki legalitas resmi. Artinya, segala kekurangan yang ada harus diatasi secara mandiri, tanpa bantuan dari jalur formal manapun.

Kita kekurangan fasilitas, kita kekurangan uang kas untuk menambah alat peraga anak-anak ini. Tapi karena sekarang kita belum legal, jadi segala kekurangan yang ada di sini kami upayakan sendiri selama 6 tahun ini,” ujar Bang Halim.

Baca juga: Sanggar Taruna Kridha Rasa di Malang Jadi Penjaga Seni Tradisional di Tengah Arus Modernisasi

Di balik keterbatasan itu, harapan Bang Halim justru sederhana tapi bermakna. Ia tidak meminta banyak, hanya ingin lebih banyak orang yang mau datang, mau terlibat, dan mau ikut menjaga sanggar ini tetap hidup. Baik sebagai tamu yang sekadar berkunjung, maupun sebagai relawan yang aktif mengisi kegiatan.

Bagi Bang Halim, Sanggar Pelita adalah ruang yang terbuka untuk siapa saja. Dan selama masih ada orang yang mau datang dan berkontribusi, sanggar ini akan terus berdiri menjadi pelita kecil yang menerangi anak-anak di Gang Pelita, Medan.

Layaknya orang yang dianggap “gila” karena berani bermimpi besar tanpa memikirkan konsekuensi, para pemuda-pemudi pendiri Sanggar Pelita tidak pernah gentar menghadapi keterbatasan materi.

Kini, enam tahun telah berlalu. Mereka masih bertahan. Bukan mereka yang selalu dipuji, bukan pula mereka yang selalu berkecukupan. Namun mereka selalu memiliki satu hal yang tak pernah padam, harapan.

Hidup dalam harapan memang tak selalu membahagiakan. Namun hidup tanpa harapan hanya akan membawa manusia pada kehampaan. Dan sanggar pelita adalah tempat yang melahirkan ribuan harapan, meskipun insan-insan muda disana melawan pahitnya kenyataan.

 


Penulis: Mahasiswa Pendidikan Sejarah A 24 Universitas Negeri Medan


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses