Inflasi Naik, Siapa yang Dirugikan? Perspektif Ekonomi Islam dalam Menjaga Keadilan

Ekonomi Islam
Ilustrasi Inflasi UMKM (Sumber: MMI)

Pembukaan

Dalam beberapa waktu terakhir, kenaikan harga kebutuhan pokok kembali menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Harga beras, minyak goreng, hingga biaya transportasi terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Kondisi ini tidak hanya dirasakan di kota besar, tetapi juga di berbagai daerah lainnya.

Fenomena tersebut dikenal sebagai inflasi, yaitu kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan berlangsung secara terus-menerus dalam suatu periode tertentu.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Bagi sebagian kalangan, inflasi mungkin hanya dipahami sebagai bagian dari dinamika ekonomi yang biasa terjadi. Namun, bagi masyarakat berpenghasilan rendah, inflasi merupakan tekanan nyata yang langsung memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Ketika harga kebutuhan meningkat sementara pendapatan tetap, masyarakat harus berusaha lebih keras untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Dalam situasi ini, inflasi tidak lagi sekadar angka statistik, tetapi menjadi persoalan kesejahteraan.

 

Permasalahan

Salah satu persoalan utama dari inflasi adalah dampaknya yang tidak merata. Kelompok masyarakat dengan penghasilan tetap, seperti pekerja dengan gaji bulanan, menjadi pihak yang paling rentan. Kenaikan harga yang tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan menyebabkan daya beli mereka menurun. Akibatnya, mereka harus mengurangi konsumsi, bahkan terkadang mengorbankan kebutuhan penting.

Sebaliknya, sebagian kelompok lain justru dapat memperoleh keuntungan dari kondisi inflasi. Pelaku usaha tertentu dapat menaikkan harga jual produk mereka, sementara pemilik aset seperti properti atau investasi sering kali mengalami peningkatan nilai kekayaan. Hal ini menunjukkan bahwa inflasi tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga berpotensi memperlebar kesenjangan sosial di masyarakat.

Dalam pendekatan ekonomi konvensional, inflasi sering dianggap sebagai fenomena yang tidak dapat dihindari, bahkan dalam batas tertentu dianggap penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, pandangan ini kerap kurang memperhatikan sisi keadilan. Jika inflasi justru memperburuk kondisi kelompok rentan, maka diperlukan pendekatan lain yang lebih menekankan pada keseimbangan dan keadilan sosial.

 

Isi

Dalam perspektif ekonomi Islam, inflasi tidak hanya dilihat sebagai persoalan ekonomi semata, tetapi juga berkaitan erat dengan nilai moral dan prinsip keadilan. Islam menempatkan keadilan (‘adl) dan keseimbangan (tawazun) sebagai prinsip utama dalam setiap aktivitas ekonomi. Oleh karena itu, setiap fenomena ekonomi, termasuk inflasi, harus dilihat dari dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Beberapa faktor yang berpotensi memicu inflasi dalam perspektif Islam antara lain praktik riba, penimbunan barang (ihtikar), serta aktivitas spekulasi yang berlebihan. Praktik riba, misalnya, dapat meningkatkan beban biaya dalam sistem ekonomi. Ketika pelaku usaha harus menanggung beban bunga, biaya tersebut sering kali dialihkan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga barang dan jasa.

Baca juga: Memahami Riba, Gharar, dan Maysir dalam Transaksi Ekonomi Islam

Selain itu, praktik penimbunan barang untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar juga dapat menyebabkan kelangkaan di pasar. Ketika barang menjadi sulit diperoleh, harga akan meningkat secara tidak wajar. Kondisi ini jelas merugikan masyarakat luas, terutama mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi. Oleh karena itu, Islam melarang praktik tersebut karena bertentangan dengan prinsip keadilan dan kemaslahatan.

Spekulasi yang berlebihan juga dapat menciptakan ketidakstabilan dalam perekonomian. Ketika harga suatu komoditas tidak lagi mencerminkan kondisi riil, tetapi dipengaruhi oleh kepentingan spekulatif, maka harga menjadi tidak stabil. Hal ini dapat memicu inflasi yang tidak sehat dan sulit dikendalikan.

Lebih jauh, dalam ekonomi Islam, uang tidak dipandang sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan untuk mendapatkan keuntungan. Uang hanya berfungsi sebagai alat tukar. Ketika fungsi ini disalahgunakan, misalnya melalui aktivitas spekulasi atau penumpukan uang tanpa aktivitas produktif, maka stabilitas ekonomi dapat terganggu dan berpotensi memicu inflasi.

 

Solusi

Ekonomi Islam menawarkan pendekatan yang lebih menyeluruh dalam mengatasi inflasi, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi sosial dan moral. Salah satu prinsip utama adalah pelarangan riba, yang bertujuan menciptakan sistem keuangan yang lebih adil dan tidak memberatkan pihak tertentu. Dengan mengurangi beban biaya dalam sistem ekonomi, harga barang dan jasa dapat lebih terkendali.

Selain itu, larangan terhadap praktik penimbunan dan monopoli juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan pasar. Dengan memastikan distribusi barang berjalan dengan baik, ketersediaan barang dapat terjaga sehingga harga tidak melonjak secara tidak wajar.

Instrumen distribusi kekayaan seperti zakat, infak, dan sedekah menjadi solusi khas dalam ekonomi Islam. Melalui mekanisme ini, kekayaan tidak hanya berputar di kalangan tertentu, tetapi juga dapat menjangkau kelompok masyarakat yang membutuhkan. Hal ini membantu menjaga daya beli masyarakat, terutama di tengah tekanan inflasi.

Peran pemerintah juga sangat penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Dalam perspektif Islam, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengawasi aktivitas pasar, mencegah praktik yang merugikan, serta memastikan kebutuhan pokok masyarakat dapat diakses dengan harga yang wajar. Kebijakan yang berpihak pada masyarakat luas menjadi kunci dalam menciptakan keseimbangan ekonomi.

 

Penutup

Inflasi merupakan bagian dari dinamika ekonomi yang sulit dihindari. Namun, dampaknya yang tidak merata dapat menimbulkan ketidakadilan jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

Melalui perspektif ekonomi Islam, inflasi dapat dipahami sebagai fenomena yang harus dikelola dengan prinsip keadilan, keseimbangan, dan distribusi yang merata. Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut, diharapkan inflasi tidak lagi menjadi beban bagi kelompok tertentu, melainkan dapat dihadapi secara lebih adil dan berkelanjutan.

 


Penulis: Namira Najwa Ashimah
Mahasiswa Ekonomi Syariah, IPB University


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Daftar Isi dan Poin-Poin Artikel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses