Masa remaja merupakan periode yang penuh dengan berbagai perubahan dan tantangan. Selain harus beradaptasi dengan perubahan fisik dan emosional, remaja juga menghadapi tekanan dari lingkungan sosial, akademik, maupun perkembangan teknologi yang semakin pesat. Kondisi tersebut membuat remaja menjadi kelompok yang cukup rentan mengalami berbagai permasalahan kesehatan mental.
Salah satu fenomena yang kini semakin banyak mendapat perhatian adalah self-harm atau perilaku menyakiti diri sendiri. Fenomena ini menunjukkan bahwa masih banyak remaja yang mengalami kesulitan dalam mengelola tekanan dan emosi yang mereka rasakan.
Self harm adalah tindakan fisik yang dilakukan untuk menyakiti diri-sendiri, yang mana tindakan tersebut bisa berupa penggoresan kulit atau bentuk-bentuk melukai fisik lainnya seperti melukai tubuh dengan benda tajam, menggigit dan memukul tubuh hingga memar, membakar diri dengan benda panas atau membenturkan kepala, ada pula yang menarik rambut sampai rontok atau menelan zat berbahaya, misalnya obat nyamuk cair.
Self harm ini biasanya digunakan sebagai pelampiasan atau mekanisme koping (coping mechanism) saat seseorang kewalahan menghadapi tekanan batin, trauma, atau emosi yang sangat menyakitkan.
Umumnya, tindakan ini dilakukan tanpa niat untuk mengakhiri hidup (bunuh diri), tetapi tindakan ini bisa berujung pada percobaan bunuh diri di kemudian hari jika tidak segera ditangani.
Fenomena self harm ini juga terkadang dianggap sebagai tindakan untuk mencari perhatian dari orang lain, cerita pada media sosial sering membuat nya terlihat sebagai tindakan mencari perhatian, padahal di balik unggahan atau cerita yang dibagikan itu, bisa jadi terdapat individu yang sedang berusaha menyampaikan penderitaan emosional yang sulit diungkapkan secara langsung.
Pandangan bahwa self harm di lakukan untuk mencari perhatian ini sebenarnya kurang tepat karena tidak sedikit individu yang melakukan self-harm itu justru berusaha menyembunyikan luka atau bekas yang mereka miliki, self-harm bukan sekadar upaya mencari perhatian, melainkan cerminan kesulitan individu dalam mengelola tekanan dan penderitaan emosional yang sedang dialaminya.
Adapun beberapa faktor yang dapat menyebabkan perilaku self harm adalah kemungkinan seseorang mengalami pelecehan atau trauma di masa lalu, menderita gangguan mental seperti depresi, gangguan kecemasan, post-traumatic stress disorder (PTSD), ataupun gangguan kepribadian, dapat terjadi juga pada orang yang kesulitan mengelola emosi dan stress, atau mendapat tekanan dari lingkungan, seperti tuntutan keluarga, masalah di sekolah, atau konflik sosial, perasaan sendirian, tidak dipahami, atau tidak dihargai oleh orang sekitar, dan penyalahgunaan NAPZA atau kecanduan alkohol.
Tindakan self harm ini seringkali disembunyikan oleh pelaku sehingga sulit di kenali oleh orang-orang di sekitar, ada beberapa tanda-tanda fisik yang dapat menjadi petunjuk bahwa seseorang melakukan self harm yaitu:
- Terdapat sejumlah luka yang berulang, seperti luka gores, luka bakar, luka memar, atau luka sayat, di bagian tubuh tertentu, seperti lengan, pergelangan tangan, atau paha
- Terdapat area kulit kepala dengan rambut yang tampak menipis atau malah botak akibat sering menarik rambut sendiri (trikotilomania)
- Menyembunyikan luka dan menghindari pembicaraan saat ditanya penyebabnya
- Menunjukkan gejala depresi seperti sering merasa sedih atau malah marah, putus asa, atau merasa tidak berharga
- Menarik diri dari keluarga atau teman, dan lebih banyak menghabiskan waktu sendirian
- Memiliki kebiasaan menyalahkan diri sendiri dan menunjukkan perasaan bersalah secara berlebihan atas hal-hal kecil
- Menunjukkan perilaku impulsif, seperti memukul benda keras
- Kesulitan mengungkapkan perasaan atau menolak bicara tentang apa yang sedang dirasakan
- Mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh untuk menyembunyikan luka
Dampak dari self harm juga sangat berbahaya jika di sepelekan dan tidak di tindaklanjuti, beberapa dampak nya adalah luka fisik yaitu infeksi bekas luka dan juga risiko perdarahan pada luka, pada masalah kesehatan mental yaitu depresi yang lebih parah, kecemasan, dan peningkatan risiko bunuh diri, hubungan sosial nya pun juga terganggu seperti sulit untuk membangun dan mempertahankan hubungan dengan orang lain.
Ada beberapa cara untuk mengatasi self harm yaitu bisa dengan mencoba untuk menceritakan masalah pada teman yang dapat di percaya, anggota keluarga, ataupun psikiater, kamu juga bisa mencoba untuk mengatasi perasaan tertentu yang dapat menyebabkan kamu menyakiti diri sendiri, misalnya ketika kamu merasa sedih atau cemas, kamu dapat mencoba mengekspresikan emosi tersebut dengan cara yang lebih aman, alihkan perhatian dengan berjalan-jalan, mendengarkan musik, atau melakukan hal lain yang tidak berbahaya untuk membuat kamu sibuk, maka perasaan dan kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri mungkin mulai hilang seiring berjalannya waktu, kamu juga bisa melakukan latihan pernapasan yang menenangkan atau hal lain yang menurut kamu menenangkan untuk mengurangi perasaan cemas, buatlah catatan atau jurnal untuk menuliskan perasaanmu, tidak ada orang lain yang perlu melihatnya.
Baca juga: Cara Menjaga Mental Agar Hidup Lebih Tenang dan Bahagia
Dalam pendekatan psikologi bisa menggunakan Terapi Dialektika Perilaku (Dialectical Behavior Therapy/DBT), penggunaan DBT pada individu yang melakukan self-harm menunjukkan bahwa perilaku tersebut lebih berkaitan dengan kesulitan mengelola emosi dan menghadapi tekanan psikologis daripada sekadar keinginan untuk mencari perhatian.
Jika self-harm hanya bertujuan mencari perhatian, maka intervensi yang berfokus pada regulasi emosi dan toleransi terhadap stres tidak akan menjadi salah satu pendekatan terapi yang banyak digunakan, tapi kamu harus tetap konsultasi ke psikolog professional terlebih dahulu.
Self-harm tidak seharusnya dipandang sebagai tindakan mencari perhatian, melainkan sebagai bentuk kesulitan individu dalam menghadapi dan mengelola tekanan emosional.
Oleh karena itu, diperlukan pemahaman, empati, serta dukungan dari lingkungan sekitar agar individu yang mengalami kondisi tersebut dapat memperoleh bantuan yang tepat. Dengan meningkatnya kesadaran mengenai kesehatan mental, stigma terhadap self-harm diharapkan dapat berkurang dan digantikan dengan sikap yang lebih peduli.
Penulis: Najwa Hasan As’ary
Mahasiswa Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry
Dosen Pengampu:
- Iklima Ritmiani, S.Psi., M.A
- Siti Hajar Sri Hidayati, M.A.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














