Awal tahun 2026 Indonesia mengalami kondisi yang tidak bisa diabaikan, tekanan eksternal yang meningkat serta ketidakpastian global. Nilai rupiah melemah tetapi inflasi tetap terkendali, keduanya disebabkan oleh faktor yang berbeda.
Rupiah melemah lebih cenderung ditentukan oleh faktor eksternal seperti, arus modal global, suku bunga Amerika Serikat dan keadaan geopolitik yang memanas. Masih belum faham terhadap penyebab rupiah melemah?
Jadi Bahasa simpelnya gini, ketika investor global menarik dana dari negara berkembang seperti Indonesia dan memindahkan ke aset yang lebih aman (save haven), rupiah mengalami depresiasi sehingga nilainya menurun.
Kesimpulannya yaitu rupiah melemah tidak selalu karena kondisi domestik yang buruk, melainkan lebih kepada dinamika global.
Inflasi di Indonesia relatif tetap stabil, masih dalam target yang ditetapkan oleh bank sentral. Ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih tinggi, dan harga-harga tetap terkendali.
Nilai inflasi yang stabil ini didorong oleh beberapa faktor seperti kebijakan pemerintah dalam menjaga harga energi, kebijakan subsidi yang relatif adaptif, distribusi pangan, serta koordinasi era antara fiskal dan moneter.
Masih kurang faham juga? Oke gini, kekuatan ketahanan energi Indonesia ditopang terutama oleh kontribusi signifikan produksi batu bara domestik yang memenuhi sekitar 48% konsumsi energi akhir nasional, gas bumi domesti 22%, serta energi terbarukan 7%.
Baca Juga: Satu Dolar Nyaris Rp18.000 tapi PDB Naik, Apakah Indonesia Sedang Menuju Krismon 98?
Kunci awal? Yap stabilisasi. Pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara inflasi dan pertumbuhan, memastikan harga kebutuhan pokok tetap terkendali, serta menjaga nilai tukar agar tetap terkendali.
Kepercayaan pasar harus terus dijaga melalui kebijakan yang konsisten dan tidak reaktif, stabilitas ini bukan hanya soal angka makro melainkan rasa aman bagi pelaku usaha dan masyarakat untuk tetap beraktivitas dengan harga jual beli yang tetap stabil. Dalam fase ini, pemulihan yang terstruktur akan memiliki fondasi yang kuat untuk jangka panjang.
Indonesia harus beradaptasi, melihat banyak peluang untuk berkembang. Dengan mendorong belanja produktif, terutama pada sektor yang memiliki efek berantai besar seperti infrastruktur, hilirisasi industri, dan transformasi digital.
Investasi harus dipastikan mengalir ke sektor yang menciptakan nilai tambah dan lapangan pekerjaan. Beradaptasi dengan cepat berarti memangkas hambatan birokrasi yang selama ini memperlambat realisasi program.
Pertumbuhan yang berkualitas, di atas fondasi yang kuat. Targetnya bukan sekadar angka pertumbuhan tinggi, tetapi pertumbuhan yang tahan terhadap faktor internal maupun eksternal.
Baca Juga: Rupiah di Ambang Rp17.400: Alarm Keras bagi Ketahanan Ekonomi
Indonesia perlu memperluas sektor atau pasar yang ada di dalam negeri, ekspor perlu diperluas ke berbagai negara, dan struktur ekonomi harus dibuat lebih seimbang antara konsumsi, investasi, dan ekspor. Selain itu, penguatan cadangan devisa dan stabilitas sistem keuangan menjadi langkah penting untuk meredam guncangan eksternal.
Indonesia perlu menjaga kepercayaan investor melalui kebijakan yang transparan dan kredibel. Aset paling berharga? Yap, betul, kepercayaan. Kepercayaan adalah aset yang sangat penting di dalam dunia ini. Stabilkan fondasi, arahkan pemulihan, dan percepat pertumbuhan.
Penulis: Zalfa Nazihah
Mahasiswa Akuntansi S1 Universitas Pamulang
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














