Strategi Pertahanan Perbatasan dalam Ketegangan Geopolitik Afghanistan–Pakistan di Durand Line (2024–2025)

Ketegangan antara Afghanistan dan Pakistan
Bendera Afghanistan dan Pakistan (Gambar: Pakistan Today)

Ketegangan di perbatasan Afghanistan–Pakistan, khususnya di sepanjang Garis Durand, kembali meningkat dan membuat situasi keamanan kawasan semakin tidak stabil.

Masalah ini sebenarnya bukan muncul tiba-tiba. Ada sejarah panjang yang belum tuntas, mulai dari perdebatan batas negara yang sejak dulu tidak pernah disepakati sepenuhnya, aktivitas kelompok militan yang bergerak bebas di kawasan perbatasan, hingga kebijakan keamanan dari kedua negara yang semakin keras dan sering memicu ketegangan baru.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Konflik ini bukan hanya persoalan garis batas di peta, tetapi juga menyangkut identitas etnis yang terbelah, kepentingan keamanan nasional masing-masing negara, dan warisan kolonial yang masih menyisakan luka politik sampai hari ini.

Semua faktor tersebut saling terkait dan bertumpuk, sehingga membuat ketegangan di wilayah ini terus berulang dari waktu ke waktu. Pembahasan ini berfokus pada bagaimana akar sejarah Garis Durand terus memengaruhi konflik masa kini, bagaimana langkah-langkah pertahanan yang diambil Afghanistan dan Pakistan justru sering memperparah ketegangan, serta bagaimana kondisi yang tidak stabil ini berdampak pada dinamika geopolitik kawasan secara keseluruhan (Hussain, 2024).

Akar Konflik Durand Line Membentuk Ketegangan Saat Ini

Masalah utama yang bikin perbatasan Afghanistan–Pakistan terus memanas sebenarnya berawal dari persoalan lama: Garis Durand.

Garis ini dibuat pada zaman kolonial Inggris tahun 1893, tanpa mempertimbangkan kondisi masyarakat lokal yang tinggal di sepanjang wilayah itu.

Afghanistan sampai sekarang tidak pernah mengakui garis itu sebagai batas resmi, sementara Pakistan ngotot bahwa Garis Durand adalah perbatasan sah yang wajib dijaga. Perbedaan sikap ini jadi sumber ketegangan yang tidak pernah benar-benar selesai (Bajoria, 2009).

Ketegangan makin terasa sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021. Taliban secara terbuka menolak pengakuan terhadap Garis Durand, karena mereka menganggapnya sebagai warisan kolonial yang memecah tanah Pashtun.

Di sisi lain, Pakistan justru mempercepat pembangunan pagar perbatasan untuk mengamankan wilayahnya.

Karena itu, bentrokan sering terjadi ketika Taliban berusaha menghentikan pembangunan pagar atau mengklaim bahwa Pakistan masuk ke wilayah mereka.

Konflik di perlintasan seperti Torkham atau Chaman–Spin Boldak adalah bukti bagaimana perbedaan pandangan tersebut langsung berbenturan di lapangan (IndonesiaSatu.co, 2025).

Selain soal batas wilayah, masyarakat yang tinggal di sekitar Durand Line juga membuat situasi makin rumit. Wilayah ini dihuni oleh etnis Pashtun yang selama ratusan tahun bebas bergerak di dua sisi perbatasan.

Buat mereka, Garis Durand itu hanya “garis imajiner”, bukan batas negara. Akibatnya, pergerakan masyarakat, penyelundup, hingga kelompok militan menjadi sulit dikontrol.

Afghanistan dan Pakistan sama-sama lemah dalam mengawasi wilayah perbatasan, sehingga celah itu dimanfaatkan oleh kelompok seperti TTP, ISIS-K, dan jaringan kriminal.

Inilah yang membuat konflik di perbatasan semakin susah dikendalikan, karena faktor sosial, budaya, dan keamanan bercampur menjadi satu masalah besar (Khan & Ahmed, 2025).

Strategi Pertahanan Afghanistan dan Pakistan Justru Memperkeruh Situasi

Afghanistan di bawah Taliban berusaha menunjukkan bahwa mereka bisa menjaga kedaulatan negara.

Mereka menambah ribuan pasukan ke wilayah perbatasan, membangun dan menjaga pos-pos baru, dan meningkatkan patroli.

Bahkan, meskipun fasilitas mereka sederhana, Taliban mulai memakai drone untuk memantau aktivitas di lapangan.

Dari sudut pandang Taliban, langkah ini penting untuk menunjukkan bahwa Afghanistan adalah negara berdaulat yang tidak bisa ditekan Pakistan dengan mudah (Robert Lansing Institute, 2024).

Pakistan mengambil langkah yang jauh lebih agresif. Mereka memperkuat pagar perbatasan sampai ribuan kilometer, melaksanakan patroli rutin, dan menggelar operasi militer skala besar untuk mengejar kelompok TTP yang sering menyerang wilayah Pakistan.

Buat Pakistan, tindakan keras ini dianggap perlu karena serangan TTP meningkat sejak Taliban berkuasa.

Pakistan bahkan beberapa kali melakukan serangan udara ke dalam wilayah Afghanistan karena menganggap Taliban memberi ruang aman bagi TTP (NetralNews, 2025).

Masalahnya, strategi keamanan dua negara ini tidak saling mendukung. Justru sebaliknya saling memicu konflik baru.

Tiap kali Pakistan menyerang, Taliban merasa wilayahnya dilanggar. Ketika Taliban merespons, Pakistan menganggap itu ancaman terhadap stabilitas nasional.

Perbatasan lalu ditutup, ribuan truk tertahan, aktivitas dagang berhenti, dan masyarakat sipil jadi korban.

Siklus balas-membalas ini membuat perbatasan semakin tidak stabil. Dengan kata lain, upaya memperkuat pertahanan malah membuat situasi dua kali lebih panas (Khan, 2025).

Ketegangan Perbatasan Menimbulkan Dampak Geopolitik Regional

Ketegangan Afghanistan–Pakistan bukan cuma urusan dua negara; dampaknya menyebar ke seluruh Asia Selatan.

Ketika Pakistan memperketat perbatasan, Afghanistan langsung mencari jalur perdagangan dan konektivitas baru.

Negara seperti Iran dan India langsung mengambil kesempatan ini. India memperkuat jalur perdagangan lewat pelabuhan Chabahar, sementara Iran memanfaatkan ketidakstabilan Pakistan untuk menjadi rute alternatif utama Afghanistan (Gul et al., 2023).

Di sisi lain, China yang punya proyek besar CPEC juga memantau situasi ini dengan cemas. Jalur ekonomi China lewat Pakistan bergantung pada keamanan wilayah perbatasan kalau ketegangan makin parah, proyek-proyek besar Beijing bisa ikut terganggu (Manhas & Manhas, 2025).

Negara-negara Asia Tengah juga ikut terdampak. Mereka menginginkan Afghanistan sebagai penghubung wilayah, tapi ketidakstabilan membuat mereka ragu berinvestasi.

Akhirnya, potensi konektivitas Asia Tengah Asia Selatan terhambat karena konflik perbatasan ini terus berlanjut (Assanbayev et al., 2025).

Akibat ketegangan yang tak berkesudahan ini, organisasi internasional seperti PBB, OKI, Turki, dan Qatar mau tidak mau ikut turun tangan untuk memediasi.

Mereka khawatir konflik kecil di perbatasan bisa berubah menjadi konflik regional. Walau berbagai upaya dialog sudah dicoba, hasilnya belum signifikan, terutama karena kedua negara masih saling mencurigai satu sama lain.

Situasi ini menunjukkan bahwa masalah Afghanistan Pakistan bukan hanya soal militer, tetapi juga soal politik kawasan dan masa depan stabilitas regional secara keseluruhan (HeyLaw, 2021).

 

Penulis: Fadhilah Indahidayah
Mahasiswa Prodi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya

 

Referensi

Bajoria, J. (2009, March 20). The troubled Afghan-Pakistani border. Council on Foreign Relations. https://www.cfr.org/backgrounder/troubled-afghan-pakistani-border#chapter-title-0-2

HeyLaw. (2021). Peran PBB dalam konflik Afghanistan: Perwujudan tujuan ke-16 SDGs. https://heylaw.id/blog/peran-pbb-dalam-konflik-afghanistan-perwujudan-tujuan-ke-16-sdgs

Hussain, A. (2024). ‘Cousins at war’: Pakistan-Afghan ties strained after cross-border attacks. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2024/3/19/cousins-at-war-pakistan-afghan-ties-strained-after-cross-border-attacks

Khan, R. (2025). Key Pakistan-Afghanistan border crossing remains shut, disrupting trade and movement of people. AP News. https://apnews.com/article/pakistan-afghanistan-torkham-border-closure-85fb6a15d42a07f819ba92223a34ecf

Assanbayev, M., Talha, M., & Murtaza, M. (2025). THE AFGHANISTAN-PAKISTAN BORDERLANDS AND THEIR IMPACT ON PAKISTAN ’ S SECURITY. 17–30.

Gul, F., Yar, M., Zahid, S., Miakhil, J. M., Asia, S., & Asia, C. (2023). Afghanistan ’ s Geopolitical and Geo-Economic Significance in Regional Connectivity and Development. 79–87.

IndonesiaSatu.co. (2025). Pakistan dan Afghanistan bentrok, jalur perbatasan ditutup. https://indonesiasatu.co/detail/pakistan-dan-afghanistan-bentrok-di-wilayah-perbatasan–jalur-perbatasan-ditutup

Khan, I., & Ahmed, Z. S. (2025). Borderland struggles : the consequences of the Afghan Taliban ’ s takeover on Pakistan Borderland struggles : the consequences of the Afghan. The Round Table, 114(1), 34–51. https://doi.org/10.1080/00358533.2025.2466193

Manhas, N., & Manhas, N. S. (2025). Shifting Power Dynamics in South Asia : The Geopolitical Impact of China’ s CPEC on Regional Rivalries.

NetralNews. (2025). Pakistan serang Afghanistan pada 15 Oktober 2025: Eskalasi perbatasan meningkat. https://www.netralnews.com/pakistan-serang-afghanistan-pada-15-oktober-2025-eskalasi-perbatasan-meningkat/ZkpUSVk0MU9qU051S0U2ZW85emQwdz09

Robert Lansing Institute. (2024). Analysis of the Taliban regime’s resilience in 2024-2025. https://lansinginstitute.org/2024/10/16/analysis-of-the-taliban-regimes-resilience-in-2024-2025/

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses