ABSTRAK
Plankton terdiri dari fitoplankton (produsen primer) dan zooplankton (konsumen primer), merupakan komponen vital dalam rantai makanan perairan dan berfungsi sebagai bioindikator mutu lingkungan. Komunitas plankton sangat sensitif terhadap perubahan parameter fisik dan kimia perairan. Penelitian plankton bertujuan untuk mengevaluasi kondisi ekologis Perairan Pantai Gunung Payung, Desa Kutuh, Badung, Bali, yang dikenal memiliki karakteristik air jernih dan tenang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengambilan sampel di tiga stasiun menggunakan jaring plankton (plankton net). Hasil identifikasi menunjukkan bahwa komunitas fitoplankton di Perairan Pantai Gunung Payung didominasi oleh kelompok Diatom, dengan spesies kunci meliputi Rhizosolenia sp., Chaetoceros sp., Nitzschia sp., dan Navicula sp. Kelompok Cyanobacteria seperti Oscillatoria sp. dan Anabaena sp. juga turut ditemukan, menunjukkan potensi kesuburan perairan. Hasil pengamatan parameter lingkungan mengindikasikan mutu air yang baik dan produktivitas perairan yang memadai di perairan Pantai Gunung Payung. Hasil penelitian ini dapat dijadikan data dasar penting untuk program pemantauan kualitas perairan dan pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan.
Kata Kunci: Keanekaragaman plankton, parameter lingkungan, perairan Pantai Gunung Payung.
PENDAHULUAN
Pantai Gunung Payung, sebuah pantai yang tersembunyi terletak di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali. Perairan di Pantai Gunung Payung memilili ciri khas air laut yang jernih dengan warna biru kehijauan dan ombak yang relatif tenang. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kehidupan organisme yang ada di dalamnya. Salah satu organisme yang ada di dalam perairan Pantai Gunung Payung adalah plankton (Khasanah et al., 2013).
Plankton adalah organisme mikroskopis yang hidupnya mengambang atau hanyut di perairan laut, sungai, atau danau, terbawa arus dan pasang surut karena tidak mampu bergerak atau berengan melawan arus air. Istilah plankton berasal dari bahasa Yunani “planktos” yang artinya hanyut, mencerminkan dari sifatnya yang pasif dan bergantung pada arus air. Memiliki peran sebagai dasar rantai makanan akuatik, memproduksi oksigen, dan menyerap karbon dioksida.
Terdapat dua kelompok utama plankton, yaitu fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton merupakan organisme autotrof berukuran mikroskopis yang hidup melayang di zona fotik perairan, mampu melakukan fotosintesis untuk menghasilkan bahan organik dari CO₂ dan energi matahari, sedangkan Zooplankton merupakan organisme heterotrof berukuran mikroskopis hingga makroskopis yang hidup melayang secara pasif di perairan, bergantung pada arus air untuk pergerakan, dan terdiri dari hewan seperti protozoa, rotifera, copepoda, serta larva krustasea. Variasi plankton di Gunung Payung kemungkinan mirip dengan Selat Bali, dengan diatom sebagai kelompok dominan karena substrat karang dan kualitas air yang mendukung pertumbuhan fitoplankton primer. Di Danau Beratan Bali, ditemukan 14 genus plankton termasuk Rhizosolenia sp, Chaetoceros sp, Navicula sp, dan Sagitta sp, perairan Pantai Gunung Payung didominasi oleh spesies fitoplankton.
Baca Juga: Dampak Invasi Red Devil terhadap Ikan Lokal di Danau Batur, Bali
METODE PRAKTIKUM
Penelitian yang dilakukan di Pantai Gunung Payung, sampling dilakukan pada tanggal 30 September 2025 pada posisi –8°50’28.323”S, 115°11’58.724”E. Sampel plankton diambil menggunakan plankton net, pengambilan sampel dilakukan sebanyak tiga kali di tiga titik yang berbeda yaitu stasium 1 (bibir pantai), stasiun 2 (10 mmeter dari bibir pantai), stasiun 3 (20 meter dari bibir pantai). Di setiap stasiun kita melakukan beberapa pengecekan yaitu pengecekan pH air, pengecekan kadar oksigen terlarut (DO), suhu air, kekeruhan air, kuat arus, kecerahan air, pengambilan sampel zoo/fitoplanton (di lakukan penyaringan menggunakan planton net sebanyak 10 kali menggunakan ember 10 liter). Setiap sampel harus diambil di kedalaman yang dimana masih terkena sinar matahari, karena saat suhu air meningkat plankton cenderung naik ke atas dan menyebabkan hasil pengambilan sampel lebih maksimal. Setelah setiap sampel dari setiap stasiun terkumpul, setiap botol yang sudah terisi sampel diberikan 20 tetes logol dan 4 tetes formalin. Setelah itu di kocok dengan perlahan agar antara air, logol, dan formalin tercampur secara sempurna.
| No. | Nama Alat | Gambar |
Fungsi |
| 1. | pH pen | ![]() |
Mengukur tingkat keasaman atau kebasaan(pH) suatu larutan dengan cepat dan akuraty |
| 2. | Do meter | ![]() |
Untuk mengukur kadar oksigen terlarut dalam air atau larutan |
| 3. | Secchi Disk | ![]() |
Mengukur kejrnihan atau transparasi air dengan menentukan kedalaman di mana cakram tidak lagi terlihat |
| 4. | Water Sampler | ![]() |
Untuk mengambil sempel air |
| 5. | GPS Data | ![]() |
Menentukun posisi, menghitung jarak dan luas, melakukan nevigasi, serta melakukan pemetaan suatu area |
| 6. | Plankton Net | ![]() |
Mengumpulkan
Sempel plankton dari perairan dengan cara menyaring air |
| 7. | Refraktometer | ![]() |
Alat pengukur kadar atau konsentrasi bahan terlarut |
| 8. | Botol sampel 3 | ![]() |
Alat penyimpanan dan pengawetan sampel plankton dari lapangan hingga laboratorium |
| 9. | Ember 10 Liter | ![]() |
Alat bantu untuk memngambil air |
| 10. | Gelas Plastik 2 | ![]() |
Sebagai wadah untuk menyiapkan sampel plankton |
| 11. | Tali rafia 10 meter | ![]() |
Untuk mengukur dan menentukan kedalaman penurunan jarring plankton |
| 12. | Kertas label | ![]() |
Memberikan identidas lengkap pada setiap sampel plankton |
| 13. | Mikroskop | ![]() |
Untuk mengamati dan mengidentifikasi dalam sampel air |
| 14. | Optik Lab | Mengamati plankton menggunakan mikroskop cahaya agar dapat melihat bentuk dan ukuran plankton secara jelas | |
| 15. | Sedgwick rafter | ![]() |
Alat bantu untuk menghitung dan mengamati plankton secara kuantitatif maupun kualitatif dibawah mikroskop |
| 16. | Current meter | ![]() |
Mengukur kecepatan arus air di lokasi pengambilan sampel plankton |
Baca Juga: Hewan Terbesar di Dunia: Fakta, Ukuran, dan Spesies Terpopuler
Tabel 2 Bahan
|
No. |
Nama Bahan | Gambar |
Fungsi |
| 1. | Lugol | ![]() |
Mengawetkan sampel agar tidak rusak sebelum dianalisis. |
| 2. | Formalin | ![]() |
Sebagai pengawet sampel untuk mencegah kerusakan, menjaga struktur, dan memfasilitasi identifikasi serta penghitungan jumlah plankton di laboratorium. |
| 3. | Aquadest | ![]() |
Sebagai pembersih alat alat laboratorium |
Pengambilan Sampel Plankton
Pengambilan sampel menggunakan plankton net dengan cara menyaring 10 liter air. Sampel dipindahkan dalam botol sampel dengan 140 ml. Setiap botol sampel diberi label dan dilakukan pengawetan dengan formalin 4%. Sampel siap diidentifikasi di laboratorium. Pengukuran parameter fisik-kimia, yaitu kekeruhan, pH, suhu, salinitas, dan DO diukur dengan menggunakan ‘water checker’ pada setiap stasiun.
Analisis Sampel Plankton
Analisis plankton dilakukan di Labotarium Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana :
Kelimpahan Plankton di menggunakan rumus APHA:
Di mana :
𝑁 : Kelimpahan plankton (ind/L)
𝑇 : Jumlah kotak dalam SRC (1000)
𝐿 : Jumlah kotak dalam satu lapang pandang
𝑃1 : Jumlah plankton yang teramati
𝑃2 : Jumlah kotak SRC yang diamati
𝑉1 : Volume air dalam botol sampel
𝑉2 : Volume air dalam kotak SRC
𝑊 : Volume air yang tersaring.
Baca Juga: Alam dan Kebutuhan Manusia: Sebuah Hubungan yang Tak Terpisahkan
Analisis Data Indeks Keanekaragaman (H’)
Keanekaragaman plankton dihitung berdasarkan rumus Shannon Wiener (Odum, 1998) :
H’ = – Ʃ pi .ln pi dengan 𝑝𝑖 = 𝑛𝑖 𝑁
Di mana:
H’ : Indeks keanekaragaman
Pi : ni /N
Ni : Jumlah individu jenis ke-i
N : Jumlah total individu semua jenis
Dengan kriteria: H’<1: Kestabilan komunitas rendah , 1 < H’<3: Kestabilan komunitas sedang, dan H’> 3: Kestabilan Komunita Tinggi.
Indeks Pemerataan (e)
Pemerataan di hitung dengan rumus:
Di mana:
e : Indeks Perataan Jenis
H` : Indeks Keanekaragaman Jenis
H’Max : Indeks Keanekaragman Maksimum
S : Jumlah Jenis
Kriteria : e > 0,6: tingkat kemerataan taksa merata, indeks e 0,4–0,6: tingkat kemerataan taksa cukup merata, dan dimana indeks e<0,4: tingkat kemerataan taksa tidak merata.
Indeks Dominasi (C)
Indeks Dominansi plankton dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
C = Σ (ni / N)2
C : Indeks dominansi
Ni:Jumlah individu suatu spesies dalam komunitas
N : Jumlah individu keseluruhan spesies dalam komunitas
Dengan kriteria C mendekati 0, maka tidak ada spesies yang mendominasi, C mendekati 1, ada spesies yang mendominasi.
Analisis Parameter Fisika Kimia
Secara umum, mutu air perairan pantai Gunung Payung dianggap tinggi dan memadai bagi kehidupan organisme laut, khususnya plankton, yang merupakan dasar dari rantai makanan perairan.
- Suhu: Suhu perairan tercatat konsisten pada 30 °C. Suhu ini berada dalam kisaran hangat dan dianalisis “bagus untuk pertumbuhan plankton”. Suhu yang optimal ini sangat penting karena memengaruhi laju metabolisme, respirasi, dan laju fotosintesis dari fitoplankton.
- pH: Nilai pH perairan berada pada 8,5. Nilai ini menunjukkan kondisi air sedikit basa (alkalin), yang merupakan nilai normal untuk perairan laut. Kondisi pH 8,5 dinilai “cukup baik untuk perkembangan Fitoplankton” karena lingkungan yang stabil ini meminimalkan stres osmotik dan mendukung ketersediaan nutrisi.
- Salinitas: Salinitas perairan tercatat sebesar 29 ppt. Nilai ini berada pada kisaran “khas perairan laut” dan menunjukkan lingkungan yang sangat sesuai bagi spesies plankton laut yang telah beradaptasi dengan kondisi air asin. Salinitas yang stabil juga penting untuk menjaga keseimbangan turgor sel pada organisme plankton.
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
Praktikum planktonologi yang dilaksanakan di Pantai Gunung Payung, Desa Kutuh, Kabupaten Badung, Bali, menunjukkan variasi komposisi dan kelimpahan plankton yang dipengaruhi oleh karakteristik lingkungan setempat. Berdasarkan hasil pengamatan, komunitas plankton didominasi oleh kelompok fitoplankton yang terdiri dari genus Rhizosolenia sp., Oscillatoria sp., Ceratium sp., dan Spirulina sp. Kelompok Diatom yang diwakili oleh Rhizosolenia sp. dan Dinoflagellata oleh Ceratium sp. merupakan organisme yang lazim ditemukan di perairan laut, sementara keberadaan Cyanophyta seperti Oscillatoria sp. dan Spirulina sp. mengindikasikan adanya kandungan bahan organik terlarut yang mendukung produktivitas primer di wilayah tersebut. Kelimpahan dan jenis plankton yang tertangkap bervariasi berdasarkan kedalaman, hal ini dikarenakan distribusi plankton di laut tidak seragam di setiap lapisan air, sehingga metode sampling vertikal sebanyak 10 kali ulangan efektif dalam menjaring representasi plankton dari berbagai keadaan air secara merata.
Ditinjau dari kelimpahan individu (N_i), genus Rhizosolenia sp. tercatat mendominasi komunitas dengan jumlah individu tertinggi, yakni 5 dari total keseluruhan 13 individu plankton yang teramati. Dominansi Rhizosolenia sp. sebagai anggota Diatom mencerminkan kondisi kesuburan lokal yang baik, mengingat kelompok ini memiliki laju pertumbuhan yang cepat pada perairan dengan kadar silikat dan nutrien yang mencukupi (Hastuti, Setyaningsih, & Suryono, 2017). Secara ekologis, kehadiran fitoplankton ini memegang peranan vital sebagai dasar rantai makanan (produsen primer) yang menyokong kehidupan organisme lain seperti larva ikan, larva udang, dan hewan bentik (Sari & Purbayanto, 2019). Hal ini diperkuat dengan hasil perhitungan Indeks Dominansi (D) sebesar 0,2781. Nilai D < 0,5 tersebut menunjukkan tingkat dominansi yang rendah, yang berarti tidak ada satu spesies pun yang mendominasi secara mutlak, sehingga struktur komunitas plankton di Pantai Gunung Payung berada dalam kondisi stabil dan memiliki keseimbangan moderat.
Stabilitas komunitas plankton ini sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan fisik-kimia perairan yang terpantau optimal. Suhu perairan yang stabil pada 30°C, tingkat pH yang cenderung basa (8,0–8,7), serta salinitas pada rentang 26–29 ppt menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan fitoplankton. Perubahan parameter fisik maupun kimia, seperti intensitas cahaya dan kadar nutrien, secara langsung dapat menyebabkan pergeseran jenis yang mendominasi perairan. Dengan didukung kondisi Dissolved Oxygen (DO) yang memadai untuk proses metabolisme dan respirasi, kualitas perairan Pantai Gunung Payung dapat dikategorikan sehat, menjadikan plankton sebagai bioindikator yang efektif dalam mencerminkan keseimbangan ekosistem perairan secara keseluruhan (Syakti, Hariyadi, & Pratiwi, 2021).
Baca Juga: Pencemaran Organik Picu Ledakan Alga Berbahaya di Wilayah Pesisir
1. Oscillatoria sp
Kingdom: Monera
Filum: Cyanophyta
Kelas: Cyanophyceae
Ordo: Nostocales
Familia: Oscillatoriaceae
Genus: Ocillatoria
Spesies: Oscillatoria sp
Oscillatoria adalah jenis genus cyanobacterium yang berserabut dan dinamai osilasi dalam gerakannya. Filamen dalam koloni oscillatoria dapat meluncur maju mundur satu sama lainnya hingga seluruh massa diorientasikan kembali ke sumber cahayanya. Biasanya oscillatoria ditemukan di perairan palung air, terutama biru hijau atau cokelat hijau. Oscillatoria berkembang biak secara vegetatif dengan fragmentasi dan membentuk filamen sel panjang yang dapat pecah menjadi fragmen yang disebut hormogonia.
Hormogonia tersebut tumbuh menjadi filamen baru yang lebih panjang. Pecahnya filamen disebabkan karena terjadi di mana sel-sel mati hadir dan terjadi di kolam air tawar. Oscillatoria termasuk kedalam makhluk hidup autotrof yang membuat makanannya sendiri melalui fotosintesis. Setiap filamen oscillatoria terdiri dari trikoma yang terdiri dari deretan sel, dimana ujung trikoma berosilasi seperti pendulum.
Trikom dari oscillatoria memiliki bentuk silindris dan tidak bercabang. Oscillatoria juga hanya memiliki satu membran saja dan trikoma yang berada di oscillatoria sering berada di massa pelampung atau bagian mengkilap pada tanah lembap. Selnya pendek dan lebar kecuali untuk sel ujungnya yang mungkin tertutup dan tipis. Trikom oscillatoria menunjukkan pertumbumbuhan yang meluncur, rotasi dan gerakan oscillatori.
2. Ceratium sp
Kingdom: Protista
Phylum: Protozoa
Kelas: Phytomastigophorea
Ordo: Dinoflagellida
Family: Ceratideae
Genus: Ceratium
Spesies: Ceratium sp
Memiliki bentuk umum yaitu terdiri membran vesikel berisi lapisan-lapisan theca yang cukup nyata, memiliki substansi cadangan utama berupa karbohidrat dan garam, memiliki nukleus yang besar dengan penampilan berbentuk seperti manik – manik, Ceratium sp juga memiliki trichocysr dan stigma (Nybakken, 1992).
Menurut Taylor et al (1995) dalam Praseno dan Sugestiningsih (2000), Ceratium sp biasanya tersebar sangat luas di perairan pantai dan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap variasi salinitas yang besar (5 -70 ‰). Berbeda halnya dengan ceratium yang saya teliti, jumlah Ceratium sp yang kita amati cukup banyak, dengan dibuktikan oleh 3X penemuan pada saat praktium berlangsung. Ceratium sp merupakan phytoplankton yang jumlahnya dipengaruhi oleh salinitas lingkungan.
Perkembangbiakkan dari ceratium yaitu dengan pembelahan sel yang bergerak. Jika sel memiliki panser, maka selubung akan pecah. Dapat juga dengan cara protoplas membelah membujur, lalu keluarlah dua sel telanjang yang dapat mengembara yang kemudian masing-masing membuat panser lagi. Setelah mengalami waktu istirahat zigot yang mempunyai dinding mengadakan pembelahan reduksi, mengeluarkan sel kembar yang telanjang.
3. Rhizosolenia sp
Kingdom: Protista
Filum:Bacillariophyta
Kelas:Coscinodiscophyceae
Ordo:Rhizosoleniales
Famili:Rhizosoleniaceae
Genus:Rhizosolenia
Spesies: Rhizosolenia sp.
Rhizosolenia sp. merupakan diatom planktonik berbentuk silindris memanjang seperti jarum atau tabung halus dengan dinding sel tersusun dari frustul silika yang terdiri atas dua bagian, yaitu epiteka (bagian atas) dan hipoteka (bagian bawah) yang saling menutupi seperti kotak dan tutupnya.
Selnya umumnya berdiri sendiri dan jarang membentuk koloni. Ujung sel atau apeks biasanya meruncing atau sedikit membulat, sering kali dilengkapi tanduk halus (spina atau setae) yang membantu menjaga posisi melayang di air laut.
Di bagian dalam sel terdapat kloroplas berwarna coklat keemasan yang mengandung pigmen fucoxanthin serta klorofil a dan c untuk proses fotosintesis. Ukuran sel Rhizosolenia sp. bervariasi antara 100–200 µm, dan bentuk tubuhnya yang ramping memudahkan adaptasi sebagai plankton di laut terbuka.
4. Spirulina sp
Kingdom: Bacteria
Filum: Cyanobacteria
Kelas: Cyanophyceae
Ordo: Oscillatoriales
Famili: Phormidiaceae
Genus: Spirulina
Spesies: Spirulina sp
Spirulina sp. memiliki morfologi berupa filamen halus yang berbentuk spiral atau melingkar seperti pegas. Filamen ini tersusun dari deretan sel-sel silindris yang saling berhubungan membentuk rantai panjang tanpa adanya dinding pemisah yang tegas. Warna tubuhnya hijau kebiruan hingga hijau tua karena mengandung pigmen fikosianin, klorofil a, dan karotenoid yang berfungsi dalam proses fotosintesis.
Spirulina tidak memiliki inti sejati (prokariotik) serta tidak memiliki dinding sel berbahan silika seperti diatom, melainkan tersusun dari mukopolisakarida yang lentur. Panjang filamennya bervariasi, dan bentuk spiralnya yang khas berfungsi membantu mengapung di air serta memperluas permukaan penyerapan cahaya untuk fotosintesis.
5. Navicula sp
Divisi: Chrysophyta
Kelas: Bacillariophyceae
Ordo/bangsa: Pennales
Familia/suku: Raphidineae
Genus/jenis: Navicula
Spesies: Navicula sp
Navicula adalah genus diatom yang merupakan kelompok alga uniseluler eukariotik yang tergolong dalam Filum Bacillariophyta. Organisme ini memiliki peranan ekologis yang sangat penting sebagai produsen primer dalam ekosistem perairan, berkontribusi signifikan terhadap produksi oksigen global. Nama genus ini berasal dari bahasa Latin, navicula, yang berarti “kapal kecil,” merujuk pada bentuk selnya yang khas.
Ciri morfologi yang paling menonjol dari Navicula sp. adalah bentuk selnya yang lonjong, memanjang, dan simetris, mirip perahu (navikular). Organisme ini bersifat uniseluler (bersel tunggal) dengan ukuran yang bervariasi, umumnya berkisar antara 2 hingga 200 mikrometer (μm). Selnya diselubungi oleh dinding sel yang kaku dan unik yang disebut frustula. Frustula ini terbuat dari silika (SiO2) yang menyerupai kaca dan terdiri dari dua bagian yang saling tumpang tindih—epiteka (tutup) dan hipoteka (dasar)—serupa dengan cawan Petri.
Sebagai organisme fotosintetik (autotrof), Navicula memiliki kloroplas yang umumnya berbentuk cakram atau berupa dua kloroplas yang terletak di sisi sel. Selain Klorofil a dan c, mereka juga mengandung pigmen karotenoid, seperti fukosantin, yang sering memberikan warna cokelat kekuningan pada sel. Salah satu kemampuan unik Navicula adalah mobilitasnya; mereka dapat bergerak merayap pada permukaan padat melalui celah memanjang di frustula yang disebut raphe. Reproduksi utamanya adalah secara aseksual melalui pembelahan sel biner.
Navicula sp. dapat ditemukan di berbagai habitat perairan, mulai dari air tawar, air payau, hingga air laut, baik sebagai fitoplankton yang melayang bebas atau menempel (benthik) pada substrat. Selain peran ekologisnya, diatom ini memiliki potensi bioteknologi karena mengandung senyawa penting seperti lipid (termasuk asam lemak Omega-3), protein, dan karbohidrat, serta menunjukkan bioaktivitas seperti antibakteri dan antioksidan.
6. Euglena sp
Divisi: Euglenophyta
Kelas: Euglenophyceae
Ordo/bangsa: Euglenates
Famili/suku: Euglenaceae
Genus/jenis: Euglena
Spesies: Euglena sp
Euglena adalah genus organisme uniseluler (bersel tunggal) yang termasuk dalam Filum Euglenozoa (atau Divisi Euglenophyta). Secara taksonomi, Euglena sering dianggap sebagai organisme yang memiliki ciri-ciri mirip hewan dan tumbuhan (Protista), sehingga penempatannya agak unik. Habitat utamanya adalah perairan tawar atau payau yang kaya akan materi organik, seperti kolam atau parit.
Secara morfologi, sel Euglena umumnya berbentuk lonjong dengan ujung anterior (depan) yang tumpul dan posterior (belakang) yang meruncing. Berbeda dengan tumbuhan, Euglena tidak memiliki dinding selulosa yang kaku, melainkan dilindungi oleh lapisan protein fleksibel yang disebut pelikel. Pelikel inilah yang memungkinkan Euglena mengubah bentuk tubuhnya, sebuah gerakan yang disebut gerak euglenoid. Sebagai alat gerak utama, sel Euglena dilengkapi dengan satu atau dua flagela (bulu cambuk) yang muncul dari reservoir di ujung anterior.
Struktur internalnya mencakup inti sel (nukleus), vakuola kontraktil untuk mengatur tekanan osmotik (mengeluarkan kelebihan air), dan kloroplas yang mengandung pigmen Klorofil a dan b, yang memungkinkannya berfotosintesis. Ciri khas lainnya adalah adanya stigma atau bintik mata berwarna merah yang terletak dekat reservoir; stigma ini peka terhadap cahaya dan membantu Euglena bergerak menuju sumber cahaya (fototaksis positif) untuk berfotosintesis. Cadangan makanannya disimpan dalam bentuk paramilum (polisakarida). Euglena dikenal karena jenis nutrisinya yang bersifat miksotrof, yaitu gabungan antara autotrof dan heterotrof. Ketika ada cahaya matahari yang cukup, ia mampu membuat makanannya sendiri melalui fotosintesis (seperti tumbuhan). Namun, jika tidak ada cahaya, ia dapat beralih menjadi heterotrof, memperoleh zat organik terlarut dari lingkungannya melalui penyerapan (absorbsi) atau, pada beberapa spesies, melalui penelanan (fagositosis). Reproduksi Euglena terjadi secara aseksual melalui pembelahan biner longitudinal (membujur).
KESIMPULAN
Perairan Pantai Gunung Payung di Badung, Bali, memiliki kondisi ekologis yang optimal dan mendukung tingginya kelimpahan serta keanekaragaman komunitas plankton.
1. Komposisi Komunitas Plankton
- Komunitas plankton didominasi oleh Fitoplankton, khususnya dari Divisi Diatom (Chrysophyta) dan Cyanobacteria.
- Diatom yang dominan meliputi Rhizosolenia sp., Chaetoceros sp., Nitzschia sp., Navicula sp., Biddulphia sp., dan Gyrosigma sp..
- Kelompok Cyanobacteria yang ditemukan adalah Oscillatoria sp., Anabaena sp., Coelosphaerium sp., dan Gomphosphaeria sp..
- Dominasi Diatom dan kehadiran Cyanobacteria menunjukkan ekosistem perairan pesisir yang produktif dan kaya nutrien.
2. Kondisi Parameter Fisik dan Kimia Perairan
- Parameter fisik dan kimia perairan berada pada kondisi yang stabil dan kondusif bagi kehidupan plankton.
- Suhu tercatat hangat dan stabil pada 30∘C, yang dianalisis “bagus untuk pertumbuhan plankton”.
- pH air laut berada pada kisaran sedikit basa (sekitar 8.5), yang merupakan nilai normal dan dinilai “cukup baik untuk perkembangan Fitoplankton”.
- Salinitas tercatat 29 ppt, yang berada pada kisaran “khas perairan laut” dan sangat sesuai bagi spesies plankton laut.
Plankton menjadi dasar rantai makanan di ekosistem perairan tropis karena fitoplankton berfungsi sebagai produsen primer dan zooplankton sebagai konsumen tingkat pertama. Studi di Pantai Nusa Dua menunjukkan komunitas plankton di sana cukup ideal begitu juga dengan parameter lingkungannya. Dengan adanya praktikum ini, kami dapat mengetahui bagaimana variasi plankton juga kelimpahannya sehingga dapat menyimpulkan bahwa lingkungan perairan Pantai Gunung Payung bersih dan tidak tercemar. Turis dan warga sekitar yang mata pencahariannya di sekitar pantai tersbut tidak merusak dan tidak mengganggu ekosistem di perairan Pantai Gunung Payung. Tetapi pengamatan seperti ini tidak hanya dibutuhkan sekali untuk bahan sampel tugas. Diperlukan pengamatan berkala untuk menjaga lingkungan pantai ini mengingat pulau Bali semakin diminati dalam segi pariwisatanya, akan banyak orang yang berdatangan pastinya.
Penulis:
1. Abyan Hafiz Fathurrahman
2. Nara Hollandra Putra Arjuna
3. Kharis Anggi Nabasa Silaban
4. Melandry Ananda Kusuma
5. Chelsea Nickyta Aura Jasmine
6. Daniel Revaldo Butar Butar
7. David Hembang Pandapotan Sibuea
8. Yohana Sherly Nauli Panggabean
9. Naufal Rasyiddin Ahmad
10. Jairo Thomas Hasiholan Purba
Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Udayana
Dosen Pengampu: Eirenne Pridari Sinsya Dewi
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Aisah, S. S., Fajar, M. R., & Setyawan, A. D. (2020). Struktur Komunitas Fitoplankton dan Hubungannya dengan Parameter Fisika-Kimia di Perairan Pesisir Kabupaten Demak. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 12(2), 162-171.
Hastuti, R. T., Setyaningsih, I., & Suryono, C. A. (2017). Kelimpahan dan Keanekaragaman Plankton pada Musim Peralihan di Perairan Pesisir Kota Semarang. Saintek Perikanan: Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology, 13(1), 18-24.
Sari, E. P., & Purbayanto, A. (2019). Karakteristik Komunitas Plankton sebagai Bioindikator Kualitas Air di Perairan Teluk Jakarta. Jurnal Kelautan Nasional, 14(2), 65-74.
Syakti, A. D., Hariyadi, H., & Pratiwi, N. T. (2021). Hubungan Parameter Fisika-Kimia dengan Kelimpahan Fitoplankton di Perairan Estuari Segara Anakan Cilacap. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis (ITKT), 13(2), 269-281.
APHA. (2017). Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater (23rd ed.). American Public Health Association, Washington D.C.
Hidayati, N., & Hartati, S. (2018). “Komposisi dan Kelimpahan Zooplankton di Perairan Pantai Selatan Bali.” Jurnal Oseanografi, 7(1), 15–23.
Khasanah, R. N., & Setyobudiandi, I. (2016). “Distribusi Spasial Fitoplankton dan Hubungannya dengan Parameter Fisika-Kimia di Perairan Pesisir.” Jurnal Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia, 23(1), 45–54.
Magurran, A. E. (2016). Measuring Biological Diversity (2nd ed.). Wiley-Blackwell, Oxford.
Nybakken, J. W. (2019). Marine Biology: An Ecological Approach (7th ed.). Pearson Education, Boston.
Wulandari, 2025. Abundance of plankton types and diversity in the water of Teluk Nare. Jurnal Biologi Tropis.
Hidayati, N., & Hartati, S. 2018. “Komposisi dan Kelimpahan Zooplankton di Perairan Pantai Selatan Bali.” Jurnal Oseanografi, 7(1), 15–23.
Khasanah, R. N., & Setyobudiandi, I. 2016. “Distribusi Spasial Fitoplankton dan Hubungannya dengan Parameter Fisika-Kimia di Perairan Pesisir.” Jurnal Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia, 23(1), 45–54.
Anggara, A. P., Kartijono, N. E., & Bodijantoro, P. M. H. 2017. Keanekaragaman Plankton di Kawasan Cagar Alam Tlogo Dringo, Dieng. Jurnal MIPA, 40(2), 74-79.
Evita, I. N. M., Hariyati, R., & Hidayat, J. W. 2021. Kelimpahan dan Keanekaragaman Plankton Sebagai Bioindikator Kualitas Air di Perairan Pantai Sayung Kabupaten Demak Jawa Tengah. Ilmiah Biologi, 23(1), 25-32.
Wilhm, J. L., & Dorris, T. C. (1968). Biological parameters for water quality criteria.
Wulandari, dkk. (2025). Abundance of plankton types and diversity in the water of Teluk Nare. Jurnal Biologi Tropis.
Komárek, J. (2003). Coccoid and Colonial Cyanobacteria. In J. D. Wehr & R. G. Sheath (Eds.), Freshwater Algae of North America (pp. 59–116). Academic Press.
Komárek, J., & Anagnostidis, K. (2005).
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI




































