Summercourse FTP UB: Kunjungan Edukatif ke PT Amerta Indah Otsuka, Laboratorium Sensori, dan FPTC untuk Perkuat Kompetensi Mahasiswa

Kompetensi Mahasiswa
Kegiatan Summercourse FTP UB (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Program Summercourse 2025 merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, program ini dimulai pada 10 Juni-31 Agustus 2025 yang dilakukan dengan 2 mode yaitu onsite (kunjungan ke laboratorium dan ke PT Amerta Indah Otsuka) dan daring (untuk pemaparan materi perkuliahan).

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa nasional dan internasional, partisipan merupakan mahasiswa dari beberapa universitas di Indonesia (UPN “Veteran” Jawa Timur, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Islam Al Azhar, Universitas Yudharta Pasuruan, Universitas Internasional Semen Indonesia, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Universitas Jenderal Soedirman, Politeknik Negeri Banyuwangi, dan Universitas PGRI Wiranegara) dan mahasiswa internasional berasal dari negara Malaysia, Filipina dan Myanmar.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Saya Ila Elva Zahra mahasiswa semester 5 dan beberapa anggota kelompok kami berasal dari beberapa universitas di antaranya Universitas PGRI Wiranegara, Universitas Yudharta Pasuruan, Universitas Islam Raden Rahmat Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Universitas Jenderal Soedirman, Politeknik Negeri Banyuwangi, Universitas Negeri Surabaya, Universitas PGRI Wiranegara, dan Universitas Al Azhar Indonesia.

Kelompok kami mendapatkan penjadwalan kunjungan ke PT Amerta Indah Otsuka dibimbing oleh dosen yang berasal dari universitas asal yaitu UPN “Veteran” Jawa Timur Ibu Primasari Cahya Wardhani S.Si., M.Sc dan universitas dari summercourse yaitu Universitas Brawijaya Ibu Nur Istianah, S.T., M.Eng., M.T., Ph.D. selama kegiatan summercourse berlangsung.

Untuk materi yang disampaikan banyak seputar mengenai teknologi di pertanian, salah satunya seperti Kecerdasan Buatan untuk Sistem Pertanian Presisi dan Berkelanjutan, Teknologi Pemrosesan untuk produk bebas gluten, Teknologi Pasca Panen untuk pertanian berkelanjutan dan lainnya. Tetapi mata kuliah Artificial Intellegent (AI) yang saya pelajari juga di jurusan fisika.

Untuk kegiatan onsite dilakukan selama 4 hari dan dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok saya pada hari pertama mendapatkan kunjungan industri ke PT Amerta Indah Otsuka yang dilakukan bersama mahasiswa internasional beberapa negara, PT Amerta Indah Otsuka sendiri merupakan perusahan manufaktur minuman yang berasal dari jepang. Perusahaan ini memproduksi berbagai macam minuman isotonik seperti Pocari Sweat, ION Water, SOYJOY, dan Oronamin C.

Di sana kami diberikan penjelasan mengenai proses produksi sampai menghasilkan produk oleh perwakilan dari Perusahaan, fokus dari Perusahaan yaitu menghasilkan produk yang berkualitas tinggi, juga terkait penanganan limbah yang dihasilkan pun dipikirkan oleh Perusahaan.

Dari situ kami diperlihatkan cara Perusahaan memperoduksi produk mereka menggunakan tenaga mesin yang canggih serta material yang digunakan untuk memperoduksi kemasan minuman tersebut. Untuk sensor-sensor dan suhu sangat berhubungan dengan fisika instrumentasi yaitu pada bagian sensor yang bekerja seperti RTD, Preasure transmitter, Termocouple dan lain-lain.

Dengan hal tersebut, saya sebagai mahasiswa fisika dapat belajar juga sensor yang bekerja di industri di mana sedikit berbeda dengan sensor yang kami pelajari di dunia perkuliahan, mulai dari ukuran, sistem, dan kontrolnya. Saya juga melihat banyak mesin dan hanya dikontrol oleh beberapa orang tenaga professional, di mana mesin-mesin yang bekerja di proses oleh RTD, kemudian datanya di serahkan ke SCADA yang berfungsi mengolah data dari semua sensor yang ada di Perusahaan.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Hari kedua, kelompok saya mengunjungi laboratorium sensori. Laboratorium sensori merupakan laboratorium yang dirancang khusus untuk melakukan pengujian dan evaluasi sensori terhadap produk makanan, minumam, farmasi, kosmetik dan lain lain menggunakan Indera manusia seperti indra penciuman, indra perasa sebagai alat ukur utama.

Saya diberikan dua jenis teh tanpa mengetahui asal daun pembuatnya. Kami diminta menebaknya dengan menggunakan indra perasa dan penciuman, kemudian mengisi hasil analisis tersebut melalui Google Form. Setelah proses analisis selesai, kami diberi informasi mengenai jenis teh yang telah dicicipi beserta karakteristik rasanya. Pada kesempatan itu, saya sebagai mahasiswa fisika merasakan pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah saya alami.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Hari ketiga kelompok saya berkunjung ke FPTC atau Food Production and Training Centre (Pusat Produksi dan Pelatihan Pangan), FPTC itu bukan laboratorium biasa melainkan mini pabrik pangan, sekolah kuliner teknologi pangan, dan tempat inkubasi produk baru.

Di FPTC UB, fasilitas ini berfungsi sebagai pusat produksi dan pelatihan pangan berbasis teknologi pangan. Kami diajarkan cara membuat berbagai jenis roti, dan kelompok saya mendapat tugas membuat roti sourdough. Roti sourdough merupakan salah satu produk unggulan yang diproduksi oleh FPTC Universitas Brawijaya. Sourdough dibuat tanpa ragi instan dan hanya menggunakan starter sebagai pengembang alami.

Starter ini dicampur dengan tepung, kemudian didiamkan selama delapan jam pada suhu ruang. Setelah delapan jam, starter dapat digunakan sebagai pengembang sourdough dan diolah menjadi roti. Dalam proses pembuatan sourdough di FPTC, prinsip-prinsip fisika berperan penting pada setiap tahap: mulai dari osmosis dan difusi saat hidrasi gluten pada tahap autolyse, penjajaran rantai protein melalui teknik stretch and fold, produksi serta ekspansi gas CO₂ sesuai hukum gas ideal selama bulk fermentation dan oven spring, perlambatan reaksi kimia pada tahap cold retardation di lemari pendingin, hingga perpindahan panas melalui konduksi, konveksi, dan radiasi serta injeksi uap panas yang menjaga suhu permukaan adonan tetap di bawah 100 °C agar pati dapat mengembang maksimal sebelum kerak mengeras melalui gelatinisasi dan reaksi Maillard.

Semua prinsip tersebut diterapkan secara presisi melalui pengendalian suhu, kelembapan, waktu, dan tekanan, sehingga menghasilkan roti sourdough khas FPTC yang memiliki rongga besar, kerak sangat renyah, aroma kompleks, dan lebih tahan lama tanpa bahan pengawet.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Kesan saya selama mengikuti summercourse 2025 sangat positif dan menyenangkan karena memberikan pengalaman belajar secara langsung. Saya merasa sangat bersemangat ketika berkesempatan melakukan company visit ke PT Amerta Indah Otsuka, melihat proses produksi minuman isotonik dengan teknologi modern, serta memahami penerapan sensor dan otomasi secara nyata.

Selain itu, praktik di laboratorium sensori memberikan wawasan baru yang sebelumnya belum pernah saya temui di jurusan Fisika, khususnya mengenai bagaimana mutu pangan dinilai menggunakan indra manusia. Kunjungan ke FPTC juga membuat saya semakin memahami proses produksi pangan, termasuk pembuatan sourdough dari sisi teknis.

Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan ini membuat saya lebih termotivasi untuk terus belajar, memperluas wawasan, dan merasa lebih siap menghadapi dunia kerja di masa depan.

 

Penulis: Ila Elva Zahra
Mahasiswa Fisika, UPN Veteran Jawa Timur
Dosen Pengampu: Primasari Cahya Wardhani S.Si., M.Sc.

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses