Sebagai mahasiswa fisika UPN “Veteran” Jawa Timur, saya, Imelda Putri Alyah Rahmadani, terbiasa berkutat dengan konsep-konsep abstrak mulai dari mekanika, termodinamika, material, hingga instrumentasi. Namun melalui National Summer Course Faculty of Agricultural Technology Universitas Brawijaya (FTP UB) yang berlangsung pada 23–26 Juni 2025, perspektif saya berubah total.
Kegiatan ini bukan hanya membuka wawasan lintas bidang, tetapi juga memperlihatkan bagaimana fisika berperan langsung dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 7 (Affordable and Clean Energy), dan SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure).
Selama kegiatan onsite ini, kami dibimbing oleh Nur Istianah, S.T., M.Eng., M.T., Ph.D sebagai dosen lapangan dari UB. Panitia FTP UB juga selalu hadir mengawasi, memastikan kelancaran kegiatan praktikum dan kunjungan industri.
Dari pihak kampus saya berasal yakni UPN Veteran Jawa Timur, saya memperoleh pendampingan dari dosen pembimbing, Primasari Cahya Wardhani, S.Si., M.Sc, yang membantu kami memahami relevansi ilmu fisika dalam setiap proses yang kami amati.
Hari Pertama: Teknologi Bakery dan Mikrobiologi—Melihat Fondasi Fisika dalam Pengolahan Pangan
Kegiatan onsite dimulai dengan perkuliahan offline mengenai teknologi bakery, pangan fungsional, dan mikrobiologi pangan. Sekilas, topik-topik ini tampak jauh dari dunia fisika, tetapi justru melalui sesi ini saya melihat dengan jelas bagaimana konsep-konsep dasar fisika bekerja dalam setiap tahap pengolahan pangan.
Saat mempelajari sifat fisik bahan pangan serta perubahan struktur material selama pemanasan, saya menemukan penerapan nyata termodinamika, perpindahan panas, hingga kinetika reaksi. Perangkat seperti mixer, oven, dan inkubator pun beroperasi berdasarkan mekanika motor listrik dan sistem pengendalian suhu berbasis elektromagnetik.
Pemanasan adonan, pengaturan suhu oven, proses fermentasi, hingga pengendalian kelembapan menunjukkan peran elastisitas material dan keseimbangan termal dalam menentukan kualitas pangan. Ketelitian dalam kontrol fisik ini sekaligus mendukung pencapaian SDG 3 (Good Health and Well-Being) karena memastikan produk pangan yang dihasilkan aman, higienis, dan stabil.
Hari Kedua: Analisis Sensori Teh Menghubungkan Persepsi dan Fisika Termal
Pada hari berikutnya, kami mengikuti sesi pelatihan di Laboratorium Sensori untuk mempelajari metode cupping test dalam evaluasi kualitas teh tubruk. Di balik aktivitas “mencicipi teh” yang terlihat sederhana, terdapat prosedur ilmiah yang ketat mulai dari pengaturan suhu air panas, kontrol waktu ekstraksi, hingga standarisasi penilaian aroma, rasa, dan aftertaste.
Bagi saya, proses ini menunjukkan bagaimana persepsi manusia terhadap aroma dan rasa dapat distandardisasi melalui pendekatan ilmiah yang terukur.
Pengaturan suhu air dan kestabilan proses ekstraksi juga menegaskan hubungan antara panas, respirasi aroma, dan volatilitas senyawa bioaktif penerapan langsung dari prinsip fisika termal. Pendekatan berbasis standar ini turut mendukung pencapaian SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure), terutama dalam aspek inovasi, kontrol mutu, dan konsistensi kualitas produk pangan.
Baca juga: Integrasi Lean-Green Supply Chain dalam Industri untuk Mendukung SDGs 6, 7, dan 9
Hari Ketiga: Menyaksikan Otomasi Industri di PT Amerta Indah Otsuka & Pengolahan Porang
Kunjungan industri ke PT Amerta Indah Otsuka menjadi pengalaman paling mengesankan bagi saya. Melalui tur pabrik, kami melihat langsung bagaimana produk minuman isotonik, pangan kesehatan, serta lini produksi Soyjoy diolah dengan standar higienitas dan otomatisasi yang sangat tinggi.
Setiap tahap—mulai dari penerimaan bahan baku, proses pencampuran, sterilisasi, hingga pengemasan dikendalikan secara presisi melalui kontrol suhu, tekanan, sensor otomatis, dan sistem efisiensi energi.
Di sinilah saya menyadari bagaimana prinsip fisika industri, instrumentasi, dan pengendalian mutu menjadi fondasi utama dalam menjaga kualitas produk. Penerapan teknologi tersebut sekaligus mendukung SDG 7 (Affordable and Clean Energy) serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui penggunaan energi yang efisien dan penerapan proses produksi yang bertanggung jawab.
Setelah tur industri, kegiatan berlanjut di Laboratorium Pilot Plant untuk mempelajari pengolahan porang menjadi jelly drink dan mie porang. Tahapan pemanasan, pengentalan, pembentukan gel, ekstrusi mie, hingga pendinginan memperlihatkan penerapan fisika secara nyata mulai dari perpindahan panas, perubahan viskositas, mekanika mesin, hingga struktur koloid.
Saya dapat melihat langsung bagaimana glukomanan, senyawa utama dalam porang, berubah struktur dan konsistensinya akibat perlakuan termal dan gaya mekanik. Selain memperkaya wawasan ilmiah, inovasi pengolahan pangan berbasis porang ini juga berkaitan dengan SDG 2 (Zero Hunger) karena mendukung pengembangan sumber pangan alternatif yang berkelanjutan.
Hari Keempat: Presentasi, Refleksi, dan Integrasi Fisika dalam Pangan
Di hari terakhir, seluruh peserta mempresentasikan hasil pelatihan dan menerima umpan balik dari para instruktur. Sesi ini menjadi ruang refleksi bagi saya untuk melihat kembali bagaimana konsep fisika yang saya pelajari selama ini ternyata hadir dalam hampir setiap proses pengolahan pangan yang kami jalani selama empat hari.
Dari termodinamika pada tahap pemanasan dan pengeringan, interaksi molekul serta struktur koloid dalam pembentukan gel porang, mekanika fluida pada proses ekstrusi mie, hingga instrumentasi dan kontrol suhu serta massa dalam menjaga mutu—semuanya menunjukkan bahwa teknologi pangan modern sangat bertumpu pada prinsip-prinsip fisika.
Pemahaman ini menegaskan bahwa fisika dan teknologi pangan tidak berjalan terpisah, melainkan saling melengkapi untuk menghasilkan inovasi pangan yang aman, efisien, dan berkelanjutan, sejalan dengan visi SDGs dalam pembangunan yang berorientasi pada kualitas dan keberlanjutan.
Penutup
Mengikuti National Summer Course FTP UB memberi saya pengalaman yang jauh melampaui ekspektasi seorang mahasiswa fisika. Dibimbing oleh para dosen ahli dari Universitas Brawijaya dan didampingi pembimbing dari UPN Veteran Jawa Timur, saya belajar melihat pangan bukan sekadar produk konsumsi, tetapi sebagai hasil rekayasa ilmiah yang berdiri di atas fondasi fisika.
Dari laboratorium hingga industri, saya menyaksikan bagaimana konsep-konsep fisika diterapkan secara nyata untuk menghasilkan teknologi pangan yang aman, efisien, dan inovatif—mulai dari kualitas, higienitas, hingga efisiensi energi dan proses.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa lintas ilmu bukanlah konsep abstrak, tetapi kenyataan yang memberikan nilai penting bagi perkembangan teknologi dan keberlanjutan. Bagi saya, empat hari di Fakultas Teknologi Pertanian UB bukan hanya rangkaian pelatihan, melainkan sebuah perjalanan ilmiah yang mempertemukan fisika, pangan, dan SDGs dalam satu kesatuan yang nyata dan bermakna.
Penulis: Imelda Putri Alyah Rahmadani
Mahasiswa Fisika, UPN Veteran Jawa Timur
Dosen Pengampu: Primasari Cahya Wardhani S.Si., M.Sc.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI



















