Siapa yang tidak mengenal kebaya? Masyarakat tentu sudah tidak asing lagi dengan salah satu warisan budaya tak benda ini, kebaya merupakan pakaian wanita khas Indonesia yang menyimbolkan keanggunan dan kesederhanaan.
Pada zaman dahulu kebaya sering dikenakan oleh para bangsawan atau masyarakat kalangan atas sebagai pakaian sehari-hari dan menjadi simbol akan status sosial.
Memasuki era pasca kemerdekaan, intensitas penggunaan kebaya semakin meningkat. Kebaya mulai dikenakan pada acara-acara resmi, kebaya menjadi bagian dari perjalanan perempuan Indonesia dalam mempertahankan identitas bangsa.
Dengan berkembangnya zaman, peran teknologi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Globalisasi menjadi jendela pertukaran budaya yang didorong oleh adanya digitalisasi sehingga pengaruh dunia luar masuk ke Indonesia melalui berbagai sektor, seperti media sosial.
Media sosial menjadi pilar utama dalam kegiatan sosial dan komunikasi, namun digitalisasi membawa tantangan tersendiri terhadapnya, antara lain penyebaran informasi yang salah, membawa pengaruh tren dari dunia luar, dan lainnya.
Tren
Terhitung sejak awal tahun 2000-an fenomena Korean wave mulai masuk ke Indonesia. Korean Wave adalah metode penyebaran budaya populer dari Korea Selatan ke seluruh dunia. Melalui fenomena ini banyak anak muda dari berbagai kalangan yang menyukai hal berbau Korea seperti drama, lagu, makanan, dan fashion sehingga banyak anak muda yang berlomba-lomba untuk tampil modis mengikuti tren fesyen tersebut.
Belakangan ini dunia maya dihebohkan dengan adanya tren Kebaya Korean Style yang ramai diperbincangkan di Tiktok dan Instagram. Kebaya Korean Style sendiri adalah tren berbusana yang menggabungkan nilai tradisional kebaya dengan estetika modern dari Korea Selatan berupa kebaya dengan model potongan crop-top yang umumnya berwarna pastel dengan tujuan menarik minat anak muda.
Baca juga: Kebaya Modern: Transformasi Budaya Mengikuti Fenomena Modernisasi
Hal ini memunculkan reaksi pro dan kontra dari netizen. Ada yang berpendapat bahwa kebaya ini merupakan hasil akulturasi budaya dan sebuah inovasi karena dengannya budaya Indonesia dapat lebih mendunia dan terkenal. Di sisi lain, ada yang menyatakan bahwa tren ini dapat merusak nilai nilai tradisional kebaya dan mengancam warisan budaya.
Akulturasi
Akulturasi merupakan percampuran antara dua budaya atau lebih yang keberadaannya saling mempengaruhi satu sama lain. Akulturasi dibutuhkan sehingga generasi muda mampu menerima budaya yang terasa relevan dengan gaya hidup mereka dan akulturasi diharapkan dapat menjadi penghubung antara dunia global tanpa menghilangkan unsur aslinya.
Kebaya merupakan simbol kesopanan dan keanggunan perempuan Indonesia dan apabila terlalu banyak unsur Korea yang disatukan dalamnya, maka kebaya berpotensi kehilangan makna aslinya.
Setiap model kebaya memiliki nilai filosofis yang berbeda sehingga jika modelnya diubah hanya karena mengikuti tren, dengan demikian kebaya akan kehilangan nilai simboliknya. Akulturasi sendiri dapat menjadi peluang dalam melestarikan kebudayaan sekaligus resiko hilangnya keaslian budaya akibat dominasi asing.
Efek Samping
Kebaya Korean Style memiliki desain yang simpel dan modern, hal tersebut mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda, sehingga penggunaan kebaya tradisional seperti kebaya kartini, encim, kutubaru, dan lainnya semakin berkurang. Meski akulturasi memiliki sisi positif bagi perkembangan bangsa, tren yang terlalu mendominasi dapat menjadikan masyarakat lebih menghargai budaya asing dibanding budaya sendiri.
Upaya Melestarikan Warisan Budaya di Era Globalisasi
Sebagai generasi penerus bangsa, kita harus turut andil dalam melestarikan warisan budaya di era globalisasi. Tren Kebaya Korean Style menjadi bukti nyata bahwa budaya asing mampu menarik perhatian masyarakat dan berpotensi menggeser makna aslinya.
Berbagai cara dapat kita lakukan agar keaslian budaya tetap terjaga seperti memperkenalkan filosofi dan fungsi tradisional sejak usia dini, memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk memperkenalkan dan memasarkan budaya tradisional, serta membangun kerjasama antara pemerintah dengan pengrajin lokal sehingga hasil kerajinan budaya dapat dibuatkan kampanye dalam bentuk ekshibisi budaya seperti fashion show dan bazar dengan tujuan menarik perhatian masyarakat luas.
Globalisasi tidak hanya memberikan ancaman bagi warisan budaya bangsa tetapi juga memberikan peluang untuk membawa budaya tradisional Indonesia ke panggung internasional tanpa merusak jati diri bangsa.
Penulis: Kayla Dinda Latsaya
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Universitas Airlangga
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












