Kurikulum Merdeka: Antara Harapan dan Tantangan Pendidikan

Kurikulum Merdeka
Kegiatan Mahasiswa (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan di Indonesia mengalami banyak perubahan. Salah satunya ialah perubahan kurikulum.

Salah satu peralihan kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka di mana kurikulum merdeka memiliki program unggulan yaitu, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) bertujuan untuk menanamkan karakter pada siswa agar memiliki nilai-nilai Pancasila. Program ini membawa suasana baru dalam kegiatan belajar.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Adapun kegiatan dari P5 seperti, berkebun organik, membuat ekoprint, menanam sayuran hidroponik, mengadakan bazar makanan tradisional, hingga membuat video pendek mengenai sebuah fenomena yang terjadi pada saat ini seperti maraknya game online, hingga mengenai pajak dll, yang setiap sekolah memiliki proyeknya berbeda-beda, ini menjadi pengalaman tersendiri bagi siswa yang berbeda dibanding hanya pembelajaran di kelas saja.

Melalui proyek-proyek tersebut, siswa diajak untuk belajar dengan cara yang lebih nyata tidak hanya memahami mengenai teori saja, tetapi juga menerapkannya. Terdapat nilai gotong royong, tanggung jawab, dan kreativitas yang tumbuh melalui kegiatan sederhana tersebut.

Dari sisi tujuan, pendekatan ini memang sejalan dengan semangat dalam membentuk karakter serta kemandirian bagi siswa. Namun, pelaksanaannya di lapangan tentu tidak selalu berjalan semulus yang diharapkan atau direncanakan.

Pergeseran dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka memiliki tantangan tersendiri. Banyak guru harus menyesuaikan diri dengan cepat terhadap sistem yang baru. Ada yang berhasil beradaptasi dan berinovasi, tetapi tidak sedikit pula ada yang masih kebingungan memahami mengenai bagaimana mekanisme pelaksanaannya.

Pergantian kurikulum yang cukup sering juga membuat sebagian siswa merasa lelah untuk beradaptasi. Generasi yang lahir di masa perubahan ini merasakan langsung bagaimana proses belajar terus berubah dari tahun ke tahun termasuk penulis yang mengalami perubahan kurikulum 2013 ke kurikulum merdeka.

Hal ini menunjukkan bahwa perubahan dalam dunia pendidikan seharusnya memerlukan waktu dan kesiapan yang matang agar tujuan utama dari pendidikan dapat tercapai. Kurikulum Merdeka memiliki arah yang baik, tetapi penerapannya perlu disertai pendampingan dan evaluasi secara berkelanjutan.

Guru memerlukan ruang untuk memahami konsepnya secara utuh, sementara pada perubahan kurikulum ini siswa perlu waktu dalam menyesuaikan diri dengan pola belajar yang lebih mandiri dan berbasis proyek. Keberhasilan penerapan kurikulum merdeka bukan hanya bergantung pada guru tetapi juga pada sekolah, dan pemerintah.

Baca juga: Eksistensi Guru: Sebuah Refleksi Filsafat

Guru berperan sebagai pelaksana utama yang perlu diberi ruang dan waktu untuk memahami konsep kurikulum secara utuh. Sekolah harus menjadi wadah yang mendukung kreativitas guru melalui kerja sama dan refleksi secara bersama-sama.

Sementara itu, pemerintah perlu memastikan kebijakan yang diterapkan selaras dengan kondisi di lapangan, disertai pendampingan berkelanjutan agar semangat “Merdeka Belajar” benar-benar terwujud dalam praktik pendidikan.

Dari sudut pandang pendidikan kewarganegaraan, pengalaman di masa transisi ini menjadi pembelajaran berharga. Nilai-nilai Pancasila yang ingin ditekankan melalui kegiatan P5 seperti gotong royong, mandiri, dan bernalar kritis baru bisa tumbuh jika diterapkan secara konsisten.

Pendidik dan peserta didik memiliki peran yang sama pentingnya dalam menjaga agar pembelajaran tidak hanya berbasis pada proyek, tetapi juga pada makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.

Sebagai calon pendidik di bidang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, pengalaman berada di masa perubahan kurikulum memberikan pandangan baru mengenai dunia pendidikan. Bahwa setiap kebijakan, sebaik apa pun tujuannya, tetap membutuhkan kesiapan yang matang, komunikasi, dan empati dalam penerapannya.

Tantangan yang dihadapi di masa lalu dapat menjadi bekal untuk memahami bagaimana pendidikan seharusnya berjalan dengan tidak tergesa-gesa, tidak hanya menuntut pada hasil, tetapi benar-benar menumbuhkan karakter bagi siswa.

Pada akhirnya, Kurikulum Merdeka bukanlah akhir dari sebuah perubahan dalam dunia pendidikan, melainkan menjadi bagian dari proses panjang menuju sistem Pendidikan di Indonesia yang lebih baik kedepannya.

Setiap pelaku pendidikan baik guru, siswa, maupun calon pendidik perlu memandang secara bijak agar dapat mengambil sisi positif, mengevaluasi yang kurang dari penerapan kegiatan tersebut, dan terus belajar dari pengalaman. Sebab sejatinya, pendidikan yang merdeka bukan berarti pendidikan yang tanpa arah, melainkan pendidikan yang mampu berjalan seimbang antara kebebasan dan tanggung jawab.

 

Penulis: Dhea Revania (2505056009)
Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Universitas Mulawarman
Aktif juga di HMPKN
Dosen Pengampu: Nia Novita Putri, S.Pd., M.Pd

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses