Society 5.0 merupakan sebuah konsep kehidupan berkelanjutan yang menitikberatkan pada pengembangan sumber daya manusia sebagai pusat inovasi, transformasi teknologi, dan otomatisasi industri. Konsep Society 5.0 ini disampaikan oleh Shinzo Abe, Perdana Menteri Jepang, dalam World Economic Forum di Davos, Swiss sebagai bentuk perwujudan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.
Berbeda dengan konsep industri 4.0 yang berpusat pada inovasi teknologi seperti Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI), society 5.0 justru membentuk kehidupan masyarakat dengan menyatukan ruang siber dengan dunia nyata. Manusia akan hidup berdampingan dengan teknologi untuk dapat menghadapi tantangan-tantangan sosial yang kompleks.
Gagasan mengenai konsep society 5.0 yang pada awalnya disiapkan untuk mengembangkan sektor perekonomian Jepang ini kemudian membuka pandangan negara-negara di dunia untuk mempersiapkan diri memasuki era perubahan yang baru.
Pamukkale University, Turki, melakukan penelitian mengenai kesiapan negara-negara di Eropa dalam memasuki society 5.0 setelah Jerman memperkenalkan istilah Industri 4.0 pada tahun 2011. Penelitian yang dilakukan pada akhir tahun 2022 ini menyatakan bahwa kesiapan suatu negara dalam memasuki era society 5.0 bergantung pada kesuksesan mereka di era industri 4.0.
Dalam pandangan kerja industri 4.0, keberhasilan suatu negara ditentukan berdasarkan kemampuan untuk melakukan ekspor teknologi tinggi melalui Research & Development (R&D). Jumlah peneliti dan penelitian yang dihasilkan oleh suatu negara tentunya memainkan peran penting dalam meningkatkan nilai R&D.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, negara-negara seperti Turki, Hungaria, Polandia, dan Letonia dianggap cukup jauh untuk dapat beradaptasi di era society 5.0 karena belum memenuhi indikator kesuksesan era industri 4.0.
Indonesia menjadi salah satu negara yang juga masih beradaptasi dengan era industri 4.0. Tantangan terbesar Indonesia dalam menghadapi transformasi teknologi di era industri 4.0 adalah keterlambatan dalam menyadari pentingnya literasi digital.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia bersama Katada Insight Center (KIC), pada tahun 2023 indeks literasi digital Indonesia berada pada level 3,65 dengan kategori tinggi dalam rentang 0-5.
Namun, menurut Ekonom Senior Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), tingkat literasi digital Indonesia masih tergolong paling rendah apabila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Hal ini disebabkan karena sebagian masyarakat Indonesia masih terperangkap di dalam yesterday logic dan takut untuk menghadapi perubahan.
Pada dasarnya, teknologi merupakan sebuah sarana yang efektif dan efisien untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Teknologi memungkinkan adanya keterbukaan akses informasi dan pengetahuan dari seluruh penjuru dunia, baik melalui internet maupun media sosial.
Oleh karena itu, era industri 4.0 saat ini disebut juga dengan era Big Data. Secara konseptual, Big Data merupakan sekumpulan data atau informasi terstruktur dan tidak terstruktur dari berbagai sumber yang berjumlah banyak.
Big Data dapat digunakan untuk memproyeksikan dan memprediksi masa depan melalui hasil analisis data dan informasi yang relevan. Dengan adanya Big Data dan Big Data Analytics, manusia dapat lebih mudah untuk menemukan inovasi dan solusi terbaik berdasarkan sudut pandang dari berbagai aspek kehidupan.
Di Indonesia, sampai saat ini pemanfaatan Big Data dan Big Data Analytics masih belum dimaksimalkan. Menurut data terakhir dari Lembaga Riset International Data Corporation (IDC), kenaikan layanan Big Data dan analitik di Indonesia pada tahun 2022 sebesar 12,5% apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Namun, angka tersebut masih belum mampu dikatakan memuaskan mengingat arus informasi dan pengetahuan yang sangat cepat di era digital saat ini. Menurut pakar Big Data, Aqsath Rasyid Naradhipa, salah satu tantangan Indonesia dalam menghadapi pertumbuhan Big Data adalah keterbatasan teknologi yang memadai untuk mengelola dan menganalisis data yang ada.
Baca Juga: Mempercepat Pembangunan Infrastruktur di Daerah Terpencil melalui Teknologi Robotika
Laju pertumbuhan dan inovasi teknologi yang dikembangkan di Indonesia masih belum mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat dalam memanfaatkan Big Data. Selain itu, proses pengelolaan Big Data di Indonesia juga masih belum terarah.
Menurut Rinaldi H Leksana, CoFounder Enclave Kolaborasi Digital, saat ini banyak perusahaan yang memiliki aspirasi untuk mengelola Big Data, namun belum memiliki program yang efektif dan ekspektasi output yang jelas. Dalam kata lain, pemanfaatan Big Data di Indonesia masih membutuhkan pendampingan dari ahli agar dapat dimaksimalkan dan mampu mendukung kebutuhan masyarakat di era industri 4.0 saat ini.
Di tengah hambatan yang dirasakan, Indonesia sebenarnya masih memiliki cukup banyak peluang untuk melakukan inovasi dan pengembangan teknologi sebelum memasuki era society 5.0. Menurut data dari Data Reportal, 76,04% dari total populasi Indonesia pada tahun 2023 merupakan pengguna aktif media sosial.
Di era digital seperti saat ini, media sosial merupakan portal informasi yang fleksibel dan mudah untuk dijangkau. Apabila peluang ini dapat dimanfaatkan dengan baik, tentunya kepekaan masyarakat Indonesia terhadap Big Data dapat mulai dibangun.
Sumber data tidak terstruktur seperti media sosial pada dasarnya juga merupakan sebuah Big Data yang dapat digunakan untuk menghimpun berbagai informasi atau data yang dibutuhkan.
Mulai dari hal sederhana seperti respon atau feedback masyarakat terhadap suatu produk tentunya dapat ditransformasikan menjadi data sebagai dasar penyusunan solusi dan strategi efektif bagi sebuah brand atau perusahaan di masa depan.
Selain itu, peluang ini juga sekaligus dapat meningkatkan level literasi digital masyarakat Indonesia dan kesadaran terhadap pemanfaatan teknologi serta media digital untuk kebutuhan jangka panjang.
Penulis: Sahda Tadea Teophania
Mahasiswa Teknologi Sains Data Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru di Google News
Referensi:
- Fukuyama, M. (2018). Society 5.0: Aiming for a New Human-Centered Society.
- Arpacı, Ö. Y., & Gülel, F. E. (2023). Are European Union Member and Candidate Countries Ready for Industry 5.0?: Spatial Clustering Analysis in the Context of Industry 4.0 Performance. Dalam M. J. Sajid, S. A. R. Khan, & Z. Yu (Ed.), Practice, Progress, and Proficiency in Sustainability (hlm. 52–66). IGI Global. https://doi.org/10.4018/978-1-6684-6113-6.ch003
- Tahar, A., Setiadi, P. B., & Rahayu, S. (2022). Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 Menuju Era Society 5.0. 6.
- Hadiono, K., & Santi, R. C. N. (2020). MENYONGSONG TRANSFORMASI DIGITAL.
- Al-Sai, Z. A., Husin, M. H., Syed-Mohamad, S. M., Abdin, R. M. S., Damer, N., Abualigah, L., & Gandomi, A. H. (2022). Explore Big Data Analytics Applications and Opportunities: A Review. Big Data and Cognitive Computing, 6(4), 157. https://doi.org/10.3390/bdcc6040157
- Sari, R. P. (2024). Pasar Big Data di Indonesia Masih Terus Berkembang. https://www.cloudcomputing.id/berita/big-data-di-indonesia
- Yonatan, A. Z. (2023). Menilik Pengguna Media Sosial Indonesia 2017-2026. https://data.goodstats.id/statistic/menilik-pengguna-media-sosial-indonesia-2017-2026-xUAlp
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












